Ketik disini

Headline Metropolis

a�?Tradisia�? Harga Panik Jelang Bulan Suci

Bagikan

Dua pekan lagi umat Islam akan menjalankan ibadah puasa. Di Indonesia, termasuk NTB, kegiatan Ramadan disambut suka cita. Terasa perbedaannya dengan bulan-bulan lainnya. Termasuk juga ketika jelang Ramadan, warga selalu dibayang-bayangi kenaikan harga barang. Ada semacam a�?tradisia�? kenaikan harga barang di bulan ini.

***********************

SETIAP memasuki bulan puasa beberapa harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga beberapa persen. Ini terjadi di hampir seluruh daerah di tanah air. Secara umum kenaikan harga itu disebabkan oleh ketersediaan pasokan, perilaku pemasok, psikologi dan perilaku konsumen.

a�?Saya percaya saja dengan pemerintah yang mengatakan stok pangan untuk puasa aman, sehingga kemungkinan kenaikan harga karena psikologi atau perilaku konsumen atau permainan pemasok, karena dari sisi pasokan sendiri tidak masalah,a�? tutur pemerhati ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, M Firmansyah pada Lombok Post.

Menurut Firmansyah, penyebab kenaikan permintaan karena karakteristik perilaku konsumen. Pertama, konsumen ingin memastikan berbuka puasa dengan makanan yang variatif, setelah seharian berpuasa. Kedua, pedagang dadakan kemudian bermunculan. Ketiga, masyarakat berupaya melakukan amal yang banyak di bulan puasa. Salah satunya memberi makan untuk fakir miskin atau sedekah. Keempat, banyaknya kegiatan berbuka puasa dan sahur bersama.

a�?Maka saya katakan wajar kenaikan harga menjelang dan pada bulan puasa,a�? jelasnya.

Atas kenaikan harga itu, kata dia, yang perlu dibantu pemerintah adalah dengan operasi pasar guna menjaga stabilitas belanja masyarakat kurang mampu. Bagi masyarakat menengah atas akan menyesuaikan diri dengan sendirinya. Pasalnya, bila pola konsumsi dapat diatur maka permintaan akan menurun, dan harga tidak mungkin akan bertahan pada posisi tinggi.

Masyarakat, sambungnya, mempunyai urutan prioritas dan alternatif untuk berbelanja. Ini yang selalu dikampanyekan sebagai program konsumen cerdas. Misalnya bila harga daging sangat tinggi, maka dalam sehari dua hari menunda mengkonsumsi daging.

a�?Harus ada alternatif lain menggantikan daging. Tidak juga terganggu kesehatan kita bila sementara tidak makan daging,a�? tuturnya.

Ini menjadi pembelajaran juga bagi pemasok atau pedagang nakal. Firmansyah membeberkan, sehari saja konsumen tidak membeli daging, artinya pedagang tidak akan bisa menjual dagingnya dalam sehari. Kalau pedagang terus bertahan mereka akan rugi, karena daging harus segera dijual. Begitu pula dengan komoditi lain.

Namun permasalahan sekarang, harga melambung tinggi namun tetap dibeli konsumen. Walau sambil mengeluh karena naiknya harga. Maka sesuai hukum pasar keseimbangan harga baru itu akan terus bertahan, harga tinggi sulit terhindari. Dari sisi penawaran, akan terus mencoba menaikkan harga setahap demi setahap (trial and error) sampai terbentuk keseimbangan. Yaitu harga tinggi yang masih mampu dibeli oleh konsumen. Kalau pada posisi itu konsumen angkat tangan, tidak mungkin harga penawaran melampaui kemampuan konsumen.

Beberapa hal perlu tetap harus dilakukan pemerintah. Pertama memastikan pasokan kebutuhan pokok aman. Harus ada komunikasi dan kerja sama dengan pemerintah daerah lain. Bila pasokan salah satu komoditas di Kota Mataram kurang bisa diambil dari Bima atau Sumbawa yang kelebihan komoditas.

a�?Sehingga bisa diambil dari sana, begitu pula sebaliknya bisa saling mengisi. Harus dibangun sistem informasi macam ini,a�? jelasnya.

Kedua, pemerintah tetap memberikan informasi harga di beberapa pasar acuan sebagai dasar perbandingan masyarakat untuk membeli di pasar mana komoditi tertentu dan memantau perilaku harga di beberapa pasar. Ketiga, bila harga sudah tidak mampu dikendalikan, khusus untuk masyarakat miskin maka lakukan operasi pasar.

a�?Saya kira bulan suci Ramadan adalah bulan berkah untuk siapapun, termasuk pedagang dan petani. Bila toh kita merasa bahwa kenaikan harga itu sebagai bonus di bulan puasa buat mereka ya kita relakan saja. Kecuali mencari untungnya sudah keterlaluan,a�? katanya.

Sementara itu, pemerintah menjamin menjelang Ramhan, harga kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) di pasar tradisional stabil. Beberapa waktu lalu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB lebih awal mempersiapkan ketersediaan sembako bagi masyarakat. Tidak hanya sembako, Disperindag NTB juga mengevaluasi ketersediaan LPG dan minyak tanah.

Posisi stok sembako, LPG, dan minyak tanah di tingkat distributor pada minggu keempat Mei 2015,untuk komoditi beras sebanyak 78 ribu ton lebih berada di gudang Bulog. Komoditi daging sapi sebanyak 563 ton, daging ayam ras sebanyak 14 ton, telur ayam ras 28 ton, gula pasir sebanyak 194 ton, dan minyak goreng curah sebanyak 12 ton.

Sementara cabai merah keriting sebanyak 29 ton, cabai merah besar sebanyak 26 ton, bawang merah sebanyak 60 ton dan kedelai sebanyak 20 ton. Sedangkan stok LPG sebanyak 176 ton.

a�?Melihat ketersediaan ini dirasakan cukup, hanya saja perlu diwaspadai alur distribusinya,a�? kata Kepala Dinas Perindustria dan Perdagangan NTB H Husni Fahri.

Kewaspadaan alur distribusi sangatlah penting. Husni menuturkan, ini salah satu upaya mengantisipasi lonjakan harga jelang Ramadan. Diakuinya, Disperindag NTB telah melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) NTB melalui Asisten II Setda Provinsi dalam menjamin kelancaran pendistribusian. Lantaran, pihak distributor seperti gula pasir, minyak goreng dan tepung terigu menyanggupi penambahan stok asalkan pemerintah menjamin kelancaran pendistribusian saat bongkar muat di pelabuhan.

a�?Ini sudah direspon dengan langsung menghubungi Dishubkominfo dalam menjamin kelancaran pasokan,a�? terangnya.

Selain alur distribusi, guna meminimalisir lonjakan harga, pihaknya terus akan melakukan pantauan harga. Juga mengantisipasi isu-isu bahan pokok berbahaya dengan melakukan kerja sama bersama pihak kepolisian dan BPOM.

a�?Kami akan pastikan stok ini di tingkat distributor, bila perlu sidak (inspeksi mendadak) langsung ke gudang mereka,a�? tegasnya.

Husni menambahkan, bila terjadi lonjakan permintaan pada H-1 atau hari-hari saat bulan puasa, diperlukan penambahan stok dari hari biasanya. Kurang lebih 25 persen dari masing-masing barang bahan pokok dan keperluannya.
a�?Termasuk saat menyikapi kenaikan harga yang signifikan, sudah berkoordinasi dengan distributor dan Bulog melakukan operasi pasar atau pasar murah,a�? tuturnya.

Terpisah, Kepala Dishubkominfo NTB, Agung Hartono membenarkan. Pendistribusian komoditi sembako dipastikan lancar. Melihat kondisi infrastruktur dari pelabuhan, kemudian ke distributor hingga ke konsumen dalam keadaan bagus. Tidak menjadi alasan bagi pedagang maupun distributor di daerah untuk menaikkan harga dengan lonjakan tinggi.

Bumbu Dapur Dominasi Kenaikan Harga

Puasa masih dua minggu lagi, namun harga sembako mulai mealami kenaikan. Pantauan Lombok Post di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram, kenaikan harga didominasi bumbu dapur.

a�?Kalau harga bumbu dapur sudah naik mulai sejak seminggu yang lalu,a�? kata seorang pedagang, Sri pada Lombok Post di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Sri mengatakan kenaikan harga mulai dari sekitar seribu rupiah sampai Rp 10 ribu rupiah. Beberapa harga sembako yang naik bawang merah, bawang putih, cabai rawit merah, cabai besar keriting, dan lainnya. Sedangkan tomat mengalami penurunan sejak beberapa hari lalu. Sri mengatakan harga bawang merah yang terasa sekali kenaikan harganya karena biasanya antara bawang merah ukuran besar dan kecil harganya berbeda.

a�?Tapi sekarang semuanya sama, per kilogramnya Rp 35 ribu,a�? ujarnya.

Awalnya bawang merah ini beberapa bulan lalu berkisar Rp 20 ribu sampai dengan Rp 30 ribu per kilogramnya. Tapi sekarang harga berkisar Rp 35 ribu sampai dengan Rp 40 ribu per kilogramnya.

a�?Kenaikan ini sudah biasa terjadi karena dari pengepul barang juga mengalami kenaikan. Jadi pedagang terpaksa juga menaikkan harga jual kepada pembeli,a�? terangnya.

Hal senada juga dikatakan pedagang lainnya Wati. Bumbu dapur yang paling banyak mengalami kenaikan.

a�?Kalau sayur sejauh ini belum naik. Biasanya yang nanti naik kalau sudah puasa itu kangkung banyak naik,a�? katanya.

Sekarang ini harga kangkung per ikat masih Rp 500.Saat puasa harga kangkung naik menjadi seribu rupiah atau Rp 2 ribu per ikat.

a�?Bahkan per tiga ikat biasanya bisa dijual sekitar Rp 5 ribu,a�? ujarnya.

Baginya kenaikan harga ini sudah biasa terjadi apalagi mendekati puasa dan lebaran. Kenaikan harga ini juga dari distributor.

a�?Kita penjual, kalau pengepul dan distributornya naik maka akan naik juga,a�? jelasnya.

Pantauan Lombok Post di pasar Tanjung Kabupaten Lombok Utara, harga masih normal.

a�?Biasanya kenaikan seminggu sebelum Ramadan,a�? ujar Marni salah seorang pedagang.

Dikatakan, saat ini harga beras jenis biasa masih Rp 9.300 per kilogram, minyak goreng Rp 13.500 per liter, dan gula pasir Rp 12.500 per kilogram.

a�?Kalau naik sudah biasa mas, karena kita ngambilnya dari Mataram juga sudah naik jadi harus kita naikkan,a�? kata Marni.

Kabid Perdagangan Diskoperindag UMKM Lombok Utara Dende Dewi mengatakan kenaikan harga kebutuhan pokok memang tidak bisa dihindari. Hampir setiap tahunnya kenaikan selalu terjadi.

a�?Kenaikan biasa terjadi mendekati puasa. Ini rutin terjadi, tetapi untuk wilayah Lombok Utara kenaikan harga kebutuhan pokok masih aman,a�? tandasnya.

Namun untuk mengatasi kenaikan harga nanti, Diskoperindag UMKM Lombok Utara akan menggelar operasi pasar dan pasar murah untuk menekan harga.

a�?Kita gelar pasar murah untuk menekan harga. Biasanya beras yang selalu mengalami kenaikan,a�? ungkapnya.

Menyikapi kenaikan harga ini, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) NTB meminta pemerintah menekan lonjakan harga. Ia menilai pemerintah harus menetapkan harga batas bawah dan atas untuk kenaikan harga sembako.

a�?Sehingga nanti harga tidak naik terlalu tinggi karena momennya,a�? kata Ketua YLKI NTB HM Sholeh.

YLKI NTB meminta pada instansi terkait di pemerintah daerah (pemda) memastikan ketersedian bahan pangan yang menjadi kebutuhan warga selama bulan Ramadan dan Idul Fitri dalam kondisi aman. Tim pemantauan harga harus turun langsung ke sentra produksi melihat ketersediaan berbagai bahan pangan di daerah ini.

a�?Kalau perlu sekarang harus turun ke pasar-pasar untuk memantau harga yang biasanya naik saat Ramadan dan Idul Fitri,a�? ujarnya.

Ia melihat kenaikan harga bahan makanan sudah kerap kali menjadi kendala masyarakat yang ingin beribadah dengan khusyuk di Ramadan. Sehingga untuk mengantisipasi kenaikan harga itu pemantauan harus mulai dilakukan dari sekarang.

a�?Jangan alasan klasik kembali berulang setiap akan Ramadan atau Idul Fitri,a�? terangnya.

Sementara itu, GM Pelindo III Cabang Lembar Mudjiono pada Lombok Post mengatakan salah satu alasan kenaikan harga lamanya proses bongkar muat. Sehingga untuk tahun ini diperkirakan proses bongkar muat tidak akan lama karena sudah ada dua fixed crane yang mempercepat bongkar muat di pelabuhan. Sebab kedatangan dua alat baru pada awal tahun 2015 ini bisa membantu dengan cepat proses bongkar muat di Pelabuhan Lembar.

a�?Penambahan dua fixed crane untuk mengantisipasi lonjakan bongkar muat saat puasa dan lebaran nanti. Selain itu juga untuk menunjang percepatan kinerja di Pelindo Lembar,a�? ujarnya.

Dengan dua unit fixed crane yang datang ini juga untuk antisipasi lonjakan bongkar muat menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Inilah bentuk antisipasi awal pihak Pelindo Lembar.

a�?Kami sangat siap bila nantinya banyak barang yang datang saat Ramadan atau Idul Fitri,a�? katanya. (cr-ewi/nur/puj/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *