Ketik disini

Opini

Pendidikan Berbasis Keterampilan

Bagikan

* Oleh: Ir.H.A.Helmy Faisal Zaini,A�(Anggota DPR RI Partai Kebangkitan Bangsa,A�DAPIL NTB Periode 2014 – 2019)

HIRUK pikuk, pekikan anak sekolah karena telah sukses mengikutiA�A�UN dan dinyatakan lulusA�kerap menjadi berita hangat tiap tahunnya oleh semua media.Begitu pula ribuan sarjana baru diwisuda, dengan bangga oleh universitas swasta maupun negeri di sekitar kita, tentu juga menjadi pemandangan yang biasa tiap tahunya.Di sisi lain, ada fakta persaingan pencinta pendidikan,A�A�antar kaum penganut paradigma konservatif dengan paradigma pragmatis, serasa begitu renyah, di tengah situasi pendidikan kita yang masih menaruh konsetrasi yang rapuh terhadap terobosan terobosan alternatif.

Bukankah ekspresi anak-anak sekolah menengah dan para sarjana baru tersebut, adalah cermin bahwa mereka siap menghadapi era baru dalam level kehidupannya.Begitu pula kedua orang tua mereka tentu menaruh harapan, bahwa, anak-anaknya adalah pribadi yang siap untuk menghadapi tantangan hidup selanjutnya. Seharusnya lembaga pendidikan yang memproduk mereka pun merasa bangga atas prestasi dan inisiatif yang dilakukan atas didikan yang telah diberikan selama masa menimba pendidikan baik dilevel sekolah maupun perguruan tinggi.

Pendidikan adalah faktor penopang bagi suksesnya sebuah komunitas bangsa, soal karakter, sifat cara menyikapi, wawasan serta kemampuan kompetitif adalah gambaran pendidikan yang kompleks.Oleh karenanya ekspresi kelulusan dan wisuda anak-anak sekolah dan mahasiswa tersebut, harusnya menghasilkan lurus berimbang dengan wawasan dan informasi yang dimiliki oleh mereka dalam menghadapi tantangan hidup selanjutnya. Jika faktanya terbalik, maka peluang survive dan berkompetisi di era kekinian tidak dapat dilangsungkan, karena banyak anak didik bangsa ini tidak qualified menghadapi fenomena AFTA 2014 dan MEA 2015.

Nah di Nusa Tenggara Barat sendiri, soal soal pendidikan baik dari aspek infrastruktur dan akses sesungguhnya telah memenuhi qualifikasi yang memadai. Hal ini ditandai gencarnya program Akino, Absano dan Adono, sebagai upaya pemerintah memberantas angka buta huruf, dengan memperluas akses pendidikan bagi setiap masyarakat NTB. Di sisi lain pembangunan gedung-gedung sekolah baru oleh APBD maupun APBN, NTB tetap menjadi priority area pemerintah pusat.Tetapi, soal mutu masih perlu berbicara banyak untuk terus meningkatkan kualitas produk pendidikan di Nusa Tenggara Barat, soal mutu juga sangat berkait erat dengan keterampilan.

Bila merujuk pada data BPS (Badan Pusat Statistik) angka kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Barat sekarang adalah 17,25%, serta jumlah pengangguran terbuka (PTP) di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada bulan Agustus 2014 mencapai angka 5,75% dari total jumlah penduduk.A�A�Tentu angka angka tersebut diakibatkan oleh kontribusi banyak variable dan indikator, dalam perspektif ini, maka pendidikan adalah faktor penting bagi upaya mengatasi angka kemiskinan dan pengangguran di NTB tersebut.

Pendidikan Keterampilan

Menjawab sekelumit fenomena di Nusa Tenggara Barat tersebut, maka diperlukan alternatif serta terobosan agar menciptakan peserta didik yang berperspektif menciptakan lapangan kerja dan bukan hanya berorientasi mencari kerja. Di NTB, terobosan pendidikan berbasis keterampilan sebenarnya sudah mulai dilakukan. Baik yang diprakarsai pihak swasta maupun pemerintah, dengan munculnya lembaga-lembaga kursus keterampilan yang tersebar di seluruh kabupaten kota, seperti Balai Latihan Kerja (BLK), ditambah dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang membekali siswa dengan berbagai keterampilan.Dengan begitu diharapkan siswa bisa hidup lebih mandiri.Oleh karenanya diperlukan perhatian lebih oleh stakeholder pendidikan baik pihak pemerintah, swasta ataupun masyarakat sendiri, untuk terus menopang agar pendidikan keterampilan ini lebih bagus di masa datang.

Kurikulum pembelajaran juga tidak lagi melulu berbicara teori dan hafalan semata, melainkan lebih pada praktek lansung.A�A�Alhasil dalam perjalananya,A�A�dampak positif dari keberadaan lembaga kursus, BLK dan SMK yang berada langsung dibawah kebijakan pemerintah, diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, yang diakibatkan oleh minimnya keterampilan tersebut.

Berbekal berbagai keterampilan didapatkan beberapa di antaranya seperti kerajinan dari berbagai bahan elektronik, tata boga, desain grafis, menjahit, membuat tenun dan sejumlah keterampilan lain didapatkan, lulusan lembaga kursus, BLK dan sekolah kejuruan bisa hidup lebih mandiri dengan menjadi bagian dari kelompok usaha kecil menengah (UKM) termasuk bisa dengan mudah masuk kerja di sejumlah perusahaan yang ada. Berbagai keterampilan tersebut semestinya juga dapat diajarkan di semua jenjang pendidikan termasuk di perguruan tinggi.Mahasiswa melalui pemberian modal menjalankan wirausaha dan pemberdayaan melalui koperasi mahasiswa, menempa dan mendidik mahasiswa menjadi lebih mandiri, agar kelak saat selesai dari kuliah tidak terjebak pada terbatasnya ruang kerja dan hanya sanggup menyodorkan ijazah ke instansi pemerintahan.

Untuk itu, iklim yang mendukung masyarakat untukA�A�tumbuh sebagai tenaga-tenaga terampil dan kreatif semestinya harus lebih banyak dilakukan lembaga pendidikan maupun pemegang kebijakan di instansi pemerintahan.Termasuk memberikan pinjaman bantuan usaha dengan bunga rendah secara tepat sasaran, program pemberdayaan seperti sarjana membangun desa secara berkelanjutan

Ke depanA�A�permasalahan dan tantangan bidang pendidikan tentu akan lebih kompleks seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dengan tingkat persaingan lebih kompetitif. Kebijakan serta terbosan kreatif bidang pendidikan sangat dibutuhkan, agar mampu melahirkan lulusan kreatif sesuai tuntutan zaman, salah satunya melalui pendidikan keterampilan yang juga sebagai bagian dari upaya mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di tengah masyarakat, terutama di Nusa Tenggara Barat.A�Semoga.(*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *