Ketik disini

Praya

Jalan Rusak Sejak Zaman Kemerdekaan

Bagikan

* Menengok Infrastruktur Desa Perbatasan (2)

Saat memasuki desa tetangga Banyu Urip dan Tempos, Gerung, Lombok Barat, jalannya berhotmix. Namun, berbeda di sejumlah desa di Praya Barat Daya.

Pagi yang cukup cerah di ujung Dusun Batu Bintang, Desa Ranggagata, Praya Barat Daya. Desa yang berdekatan dengan Desa Serage itu memiliki sumberdaya alam melimpah. Mulai dari pertanian, perkebunan dan peternakan. Masyarakat di dua desa terujung di Gumi Tatas Tuhu Trasna lebih memilih bertransaksi ekonomi ke desa tetangga di Lobar. Termasuk, urusan pendidikan dan kesehatan.

Jika masyarakatnya ingin ke Praya, mereka tidak lantas melintasi jalan di desanya sendiri. Alasannya, kondisi jalan rusak total. Potret itu mereka nikmati sejak zaman kemerdekaan. Pergantian kepemimpinan presiden, gubernur maupun bupati bagi mereka tidak ada efek positifnya. Tetap saja, kondisi infrastruktur jalan mereka tidak ada perubahan sama sekali.

Minimnya perhatian pemerintah khusus di desa perbatasan membuat mereka terkadang minder. Karena, di desa tetangganya infrastruktur jalan mantap. Belum lagi berbicara fasilitas, sarana dan prasarana pendukung lainnya seperti, akses air bersih, pelayanan kesehatan, pendidikan, energi listrik maupun telekomunikasi.

Kondisi geografis yang bebatuan dan berbukit-bukit, membuat pelayanan listrik dan telekomunikasi diambil dari desa tetangga di Lobar. Kecuali urusan infrastruktur jalan, air bersih, kesehatan dan pendidikan tentu menjadi tanggung jawab internal pemerintah.

Perbedaan mencolok dari sisi pembangunan fisik antara kedua daerah bisa dijumpai di perbatasan dua desa antara Dusun Bentenu Desa Banyu Urip dan Tempos Gerung dengan Dusun Bintang Desa Ranggagata. Perbatasan dua daerah itu ditandai dengan aliran sungai dan pilar tembok pembatas ucapan selamat jalan serta selamat datang.

Suasanya nyaman berkendara bisa dinikmati di sejumlah desa di Lobar. Namun, suasana berbeda ketika memasuki beberapa dusun di Desa Rangggata menuju Desa Serage. Jalan bebatuan, berlubang, berdebu dan berlumpur membuat pengendara harus mengadu adrenalin, harus pelan-pelan menancapkan gas motornya. Jika terlalu nekat, maka bisa terjatuh.

Kendati kondisinya seperti itu, Loteng masih mempertahankan hamparan area lahan pertanian dan perkebunannya. Berbeda dengan desa tetangganya di Lobar yang cukup padat penduduk. Sehingga, tidak heran juga desa terujung Loteng itu dikenal rawan. Karena memang jarang permukiman penduduk.

Bagi pengendara, jangan sekali-kali melintasi perbatasan dua desa itu menjelang magrib hingga larut malam. Kalau pun ingin jalan-jalan, paling tidak ditemani masyarakat setempat.

a�?Mau diperbaiki atau tidak jalan kami ini, yang penting jaringan listrik sudah tersedia. Bagi kami ini cukup,a�? ujar sejumlah petani di Dusun Batu Bintang, saat bercocok tanam.

Yang mencengangkan, mereka mengetahui nama Bupati dan Wakil Bupati Loteng. Tapi, tidak pernah melihat langsung wajahnya. Kecuali, Bupati dan Wakil Bupati Lobar. Karena memang, intensitas transaksi ekonomi sering dijalankan di Lobar.

a�?Di Desa Ranggagata itu ada tiga dusun terpencil yaitu, Dusun Gerunung, Kumbak dan Batu Bintang. Ketiganya berbatasan langsung dengan Lobar,a�? ujar Sekdes Ranggagata Ismulyadi.(Bersambung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *