Ketik disini

Headline Metropolis

Bersih-Bersih Rutin Jelang Ramadan

Bagikan

*Razia Miras, Kafe, dan Hiburan Malam

Ramadan tinggal menghitung hari. Pada bulan suci ini, sebulan penuh banyak aktivitas yang berubah dari biasanya. Jam kerja dikorting, aktivitas lebih banyak dilakukan malam hari. Pada bulan puasa ini pula, sudah menjadi kebiasaan, aktivitas hiburan sementara waktu ditutup. Begitu juga dengan aparat kepolisian, menjadikan momen Ramadan untuk “bersih-bersih” dari kejahatan dan hal-hal yang dinilai mengganggu kekhusyukan orang berpuasa. Tapi, pada akhirnya aktivitas “bersih-bersih” itu menjadi rutinitas. Usai lebaran, hiburan malam kembali berdenyut, bersih-bersih jarang dilakukan.

***

DI Lombok Timur (Lotim) misalnya. Jauh sebelum Ramadan pemerintah sudah menyiapkan sederet agenda “bersih-bersih” itu.Pemerintah Lotim tak akan malakukan negosiasi ataupun kompromi dalam bentuk apapun dengan para pelanggar. Segala jenis tindakan yang mengganggu ketertiban umum siap disikat habis.

”Itu perintah langsung bupati,” kata Kasat Pol PP Lotim, Salmun Rahman pada Lombok Post.

Tak sekadar berwacana, hal itu sebenarnya sudah dibuktikan langsung sejak jauh hari. Yang terhangat tentu saja penggerebekan para pembuat minuram keras (miras) di dua desa di Kecamatan Masbagik. Dari sana diangkut ratusan liter tuak dan brem. Tak berhenti sampai di situ saja, para pembuat siap dijerat sejumlah pasal berdasar Perda Nomor 8/2007 tentang Larangan Miras.

”Walau hanya kena tipiring, kalau terus menerus nanti mereka kapok sendiri,” katanya.

Tak hanya itu, dua kafe di kawasan Labuhan Haji juga diobok-obok akhir pekan lalu. Operasi yang dikatakan baru pemanasan ini menjaring puluhan patner song (PS) berpakaian minim. Mereka didata. Dalam waktu dekat dijanjikan akan ada tindakan lebih konkret untuk mencegah penyakit masyarakat meluas di daerah yang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai agama dan budaya ini.

Bagaimana dengan petasan?

Salmun mengatakan tiada maaf bagi para penjual. Setelah mendapat dukungan penuh dari Polres Lotim, kedua polisi beda satuan ini siap melakukan aksi penertiban. Polres Lotim juga memberikan bukti yang tak sekadar lip service saja. Buktinya, satu mobil box berisi penuh petasan dicokok.

Kapolres Lotim, AKBP  Heri Prihanto menegaskan tak memberi ruang sekecil apapun ada para pelaku. Jika Satpol PP Lotim mengancam mereka dengan Perda Nomor 4/2007 tentang Ketertiban Umum, polisi tak mau kalah. UU Darurat dijadikan dasar menghalau para pencari keuntungan dengan menciptakan gangguan itu.

”Tidak boleh cari untung dengan ganggu orang yang mau ibadah,” tegas Heri.

Ia berjanji mendukung segala upaya pemda untuk mengatasi persoalan ketertiban umum. Rencananya saat bulan puasa dimulai, warung makanan yang nekat buka disiang hari juga akan disikat habis.

”Tak ada toleransi untuk pelanggar,” tegas keduanya.

Di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), ruang gerak pelaku kejahatan dipersempit. Khususnya, menyangkut curas, curat dan curanmor. Termasuk juga, peredaran minuman keras, petasan, narkoba dan senjata tajam.

Untuk mensukseskan langkah itu, kegiatan patroli terbuka maupun tertutup pun dilaksanakan. Dengan mengerahkan personil berseragam dan berpakaian preman. Hasilnya, polisi menciduk tiga pelaku kejahatan curanmor dan menyita dua kardus petasan dalam sepekan ini.

“Kita ingin selama bulan suci Ramadan berjalan aman,” kata Kasubag Humas Polres Lombok Tengah AKP Made Suparta kemarin.

Dikatakan, ketiga pelaku kejahatan itu telah dicebloskan ke dalam sel tahanan polres. Mereka diantaranya, SF, 27 tahun dan SP, 45 Tahun warga Dusun Tongkek serta Dusun Batu Benteng Desa Kuripan Lombok Barat dan SU, 35 tahun warga Labulia Jonggat Loteng.

Ketiga pelaku ditangkap usai melaksanakan aksi curanmor di Lingkungan Handayani, Kelurahan Leneng Praya Senin (8/6). Dalam hitungan puluhan jam, ketiga pelaku diciduk.

“Kami juga berhasil menyita dua kardus petasan yang diduga mau diedarkan di wilayah Pujut dan sekitarnya,” kata Suparta.

Pemilik petasan, ungkap Suparta, atas nama Bahirudin, 28 tahun warga Desa Paok Kambut Labuapi Lombok Barat (Lobar). Pemilik hanya dikenai teguran dan membuat surat pernyataan.

“Prinsipnya, kami terus berupaya mempersempit ruang gerak kejahatan ini. Kita tidak ingin, ibadah puasa menjadi terganggu karena perbuatan oknum tertentu,” ujarnya.

Suparta menyatakan Kapolres AKBP Nurodin telah memerintahkan kepada seluruh jajaran polsek untuk memberi jaminan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) selama Ramadan. Khususnya, saat melaksanakan salat tarawih. Dia tidak ingin ada suara petasan. Apalagi, aksi kejahatan.

Untuk urusan petasan itu, pihaknya mengaku menggalakkan razia rutin guna mencari pengecer,penjual dan pengedar. Sementara, urusan keamanan kendaraan pengunjung masjid telah dikoordinasikan dengan 139 Babinkamtibmas di 139 desa/kelurahan di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Dengan harapan, mereka memberikan imbauan atau seruan kepada masyarakat agar memarkir kendaraan di tempat yang aman dan menggunakan kunci ganda.

“Untuk Masjid Agung dan Jami’ kita berikan perlakuan khusus karena dua rumah ibadah itu menjadi pusat kegiatan keagamaan. Sehingga, ada pengamanannya,” kata Suparta.

Senada dikatakan Kapolsek Praya Made Kartana. Dikatakannya, Polsek Praya telah menyusun agenda razia kos-kosan, hotel dan tempat hiburan. Termasuk, petasan, minuman keras, narkoba dan senjata tajam. Kegiatan itu akan dilaksanakan bersama Satpol PP.

“Jauh sebelum memasuki bulan Ramadan kami sudah gelar rangkaian operasi,” ujar Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Barat (NTB), Brigjend (Pol) Srijono melalui Kabid Humas AKBP Tribudi Pangastuti.

Rangkaian operasi tersebut sebagai langkah Polda NTB agar keamanan, kenyamanan, dan ketertiban pelaksanaan memasuki bulan Ramadahan berlangsung khidmat. Adapun operasi yang digelar, kata Tribudi, lebih ke arah meminimalisir penyakit masyarakat dan ketertiban lalu lintas (lalin).

“Itu semua guna cipta kondisi,” imbuhnya.

Operasi yang digelar jauh menjelang Ramadan yakni Operasi Pekat dan Operasi Patuh Gatarin. Operasi Pekat sendiri menyasar penyakit masyarakat seperti, hiburan malam, dan semua yang selama ini disebut “plus-plus”. Ditreskrimum Jatanras Polda NTB menciduk beberapa pria ketika dipijit “plus-plus”.

“Ada dua orang yang kita amankan berikut pemijatnya,” ujar Kasubdit IV Jatanras, Kompol Jeki Rachmat Hidayat.

Sementara itu, Polres Mataram sendiri “panen” sleama menggelar Operasi Pekat.  cukup banyak berhasil dalam menggelar Operasi Pekat. Sejak dimulai beberapa pekan lalu, Porles Mataram  menciduk satu orang mucikari dan pekerja seks. Razia kos-kosan pun kerap dilakukan.Hampir dua kali tiap pekan. Siang dan malam.

Untuk Operasi Patuh Gatarini, kepolisian dengan sasaran menciptakan situasi kemanan, ketertiban, keselamatan dan kelancaran lalu lintas ini serentak dilaksanakan selama 14 hari mulai hari Rabu (27/5) hingga hari ini.

Tidak hanya berkaitan dengan penyakit masyarakat dan lalin, polisi juga melakukan patroli dan razia teradap peredaran barang kebutuhan pokok. Dimana, dari pengalaman sebelumnya, menjelang Ramadan, harga dan peredaran barang kebutuhan pokok selalu mengalami kelangkaan dan sejumlah orang “bermain” guna mendapakan keuntungan yang besar.

Kapolsek Narmada, Kompol Setia Wijatono pun rutin mnggelar patroli demikian.

“Wilayah hukum Narmada memang menjadi gerbang masuknya beberapa barang yang cukup banyak tidak memiliki izin,” tuturnya.

Di Kabupaten Lombok Utara (KLU, untuk wilayah pariwisata tiga gili, pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada aparatur desa, yang nantinya pelaksanaanya akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Karena diketahui menjelang bulan Juli hingga Desember mendatang adalah musim high season dimana para wisatawan banyak berkunjung ke daerah pariwisata khususnya tiga Gili.

”Hal itu sudah kita limpahkan ke desa, mungkin dari pihak desa akan ada batasan terkait jam-jam. Karena yang kita mau bagaimana kondisi pariwisata tetap jalan, dan suasana amadan tetap terjaga,” ujar Asisten I Setda Lombok Utara Kholidi Kholil.(yuk/dss/deq/puj/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *