Ketik disini

NASIONAL

Australia Suap Kapten Kapal ?

Bagikan

* Terkait Pengarahan Kapal Pencari Suaka ke Indonesia

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menyesalkan sikap Australia yang kukuh tak mau turun tangan dalam penanganan pengungsi Rohingya. Terlebih muncul kasus kapal pembawa 65 pencari suaka yang didorong mundur pihak Australia saat ingin menuju Selandia Baru. Kasus ini mencuat karena diduga ada upaya menyuap enam kru kapal dan satu kapten senilai masing-masing USD 5.000 (Rp 66 juta) agar membalikkan kapal ke arah Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Arrmanatha Nasir menyatakan, Kemenlu saat ini terus berkomunikasi dengan kepolisian lokal Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), terkait kasus tersebut. Menurut pihak kepolisian, kru kapal itu sedang diinvestigasi dengan tuduhan penyelundupan manusia.

“Kalau benar (otoritas kapal membayar agar kapal balik arah, Red), kami sangat menyayangkan,” katanya di Jakarta kemarin.

Faktanya, lanjut dia, kejadian itu menimpa penumpang yang di antaranya adalah perempuan hamil dan anak-anak.

“Mendorong mereka kembali ke tengah laut benar-benar membahayakan nyawa mereka,” ungkapnya.

Dia kembali menegaskan sikap pemerintah Indonesia yang ingin membantu pencari suaka. Meski tak menjadi anggota penandatangan Konvensi Pengungsi tahun 1951, Indonesia tetap menerapkan prinsip non-refoulement. Itu adalah prinsip larangan bagi negara untuk mendorong kembali pencari suaka yang tiba di perairan sebuah negara.

“Ini soal kemanusiaan. Negara harus memiliki rasa iba, empati, untuk membantu sesama manusia yang sudah dalam keadaan kesusahan di laut,” jelas pria yang biasa disapa Tata itu.

Sebelumnya, media internasional mengungkapkan dugaan adanya suap terhadap kapten dan kru kapal. Menurut lansiran Sydney Morning Herald, terdapat seorang petugas bea cukai Australia bernama Agus yang memberikan setidaknya USD 35.000 kepada awak kapal sebelum kapal akhirnya berlayar kembali menuju perairan Indonesia.

Bahkan, bukti penguat berupa surat yang dikirimkan kepada pemeirntah Selandia Baru pun muncul. Menurut surat itu, pengungsi yang ada di kapal tersebut mengungkapkan kesaksian atas adanya penerimaan uang tersebut.

“Mereka mengambil kapal kami dan menggantinya dengan dua kapal kecil. Kami hanya diberikan makanan ringan seperti biskuit dan cokelat. Bahan bakar yang diberikan juga hanya 200 liter untuk perjalanan empat-lima jam,” begitu isi tulisan kesaksian tersebut.

Mendengar dugaan itu, Pemerintah Australia masih pelit bicara. Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop pun, menurut Australian Broadcasting Corporation (ABC), hanya mengeluarkan jawaban singkat. Bishop membantah ada otoritas yang menyuap agar kapal dikembalikan ke Indonesia.

“Tidak,” begitulah jawaban yang didapatkan oleh kantor berita tersebut. (bil/sof/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *