Ketik disini

Headline NASIONAL

Tersangka Kok Cuma Satu

Bagikan

* Kasus Pembunuhan Angeline

DENPASAR – Dua orang tua kandung Angeline tak terima dengan penetapan tersangka tunggal, Agustinus Tae, 25 tahun. Untuk itu, mereka melapor ke Polresta Denpasar. Sebab, mereka menganggap ada yang janggal dengan penetapan tersebut. Sayang, laporan Hamidah, 28 tahun, dan Achmad Rosyidi, 29 tahun, tak diterima oleh polresta.

“Masih menelusuri. Polisi masih bekerja. Polisi tidak bekerja berdasarkan pengakuan, tetapi berdasarkan fakta,” ucap perwakilan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Denpasar Siti Sapura meniru alasan oknum polisi yang ditemuinya.

Rosyidi melaporkan kasus ini karena merasa ada yang janggal dengan penetapan tersangka tunggal tersebut.

“Kok bisa ya anak saya ditanam di dalam rumah dan Margareith gak tahu. Itu yang janggal bagi saya,” ucap Rosyidi.

Seperti diketahui, Angeline dilaporkan hilang 16 Mei lalu. Setelah hampir sebulan mencari, korban akhirnya ditemukan terkubur di dekat kandang ayam belakang rumah ibu angkatnya, Margareith Ch Megawe di Jalan Sedap Malam, Denpasar. Angeline sendiri memiliki satu kakak kandung IM, 10 tahun, dan adik kandung AS, 2,5 tahun. Dalam kasus ini, Polresta Denpasar menetapkan tersangka Agustinus Tae. Polisi sendiri beralasan masih bekerja sehingga tidak menerima laporan kedua orang tua kandung Angeline.

Sapura mengaku penetapan tersangka tunggal terkait tewasnya Angeline membuatnya geram.

“Kenapa kekerasan seksual yang diutamakan dalam pengungkapan kasus ini pada hasil visum tidak menunjukkan hal tersebut. Seolah-olah keterangan para saksi bahwa Angeline dipukul jauh sebelum Agus bekerja di sana diabaikan. Jelas-jelas penelantaran dilakukan Margareith,” ucap ibu yang akrab disapa Ipung tersebut.

Selain itu, penetapan tersangka tunggal menurutnya mengingkari keterangan para saksi dan forensik yang menegaskan kekerasan tersebut telah berlangsung sejak lama. Menurut Ipung yang harus lebih ditekankan terkait penetapan tersangka adalah kasus kekerasan penyebab meninggalnya Angeline. Dirinya pun mengaku curiga terhadap tingkah polah Margareth dan Ivon yang tidak melaporkan berita kehilangan Angeline kepada polisi, melainkan disebarkan melalui media sosial.

“Ada yang janggal dengan perilaku tersebut,” ucapnya.

Saat ditanyai kapan pertama kali mengetahui anak keduanya meninggal, Hamidah menjawab dari pihak kepolisian.

“Saya tahu dari polisi. Polisi juga sempat mengabarkan kepada mantan suami saya,” ujarnya sambil menahan air mata.

Air matanya tumpah saat Radar Bali (Jawa Pos Group) bertanya mengapa Hamidah menyerahkan anaknya ke Margareith. Dia tak bisa memberi jawaban. Informasi yang didapat Hamidah dan suaminya menyerahkan ANG karena ketiadaan uang. Mereka berharap ANG akan mendapatkan nasib yang lebih baik bersama Margareith. Hamidah pun mengaku saat itu dia tidak memiliki biaya persalinan. Margareith yang membayar biaya persalinan sebesar Rp 800 ribu. Diketahuinya pula bahwa saat itu suaminya diberikan uang sebesar Rp 1 juta.

Rosyidi menyangkal pengakuan Margareith bahwa dirinya pernah minta uang ratusan juta sebagaimana ditayangkan di salah satu televisi swasta nasional.

“Bohong,” ucapnya emosional.

Sebelum sepakat melapor ke Polresta Denpasar, sempat terjadi rembug di RS Sanglah. Di tengah pembicaraan tersebut, ayah kandung Angeline, Rosyidi meminta agar anaknya segera dikuburkan karena perintah tersebut datang dari Polda Bali langsung. Namun, Hamidah tidak terima jika anaknya tersebut dikubur secepat itu.

“Aku ini ibu kandungnya. Aku ngerasain gimana kehilangan apalagi meninggalnya dibunuh. Pokoknya harus dilaporkan,” bentak Hamidah pada Rosyidi.

Hingga akhirnya kedua orang tua kandung Angeline langsung bergegas menuju Polresta Denpasar yang didampingi P2TP2A untuk membuat laporan.

Ada dua poin yang akan dilaporkan yakni Margareith sebagai orang tua yang mengadopsi Angeline menyalahi aturan yang disepakati di notaris jika akan merawat Angeline secara baik-baik. Dan, yang kedua yakni terkait pelaporan tuduhan Margareith terhadap Rosyidi yang mengklaim jika ayah kandungnya tersebut sempat meminta uang senilai Rp 100 juta pada Margareith sebelum Angeline meninggal.

Mengenai keberadaan anaknya, Hamidah mengaku sudah tahu. Sebab, beberapa kali dia dan suaminya (kini sudah mantan suami, Red), lewat di depan tempat tinggal Angeline.

“Beberapa kali saya dengan suami lewat dari depan rumah itu (rumah Margareith, red). Di sana, suami saya mengatakan bahwa ini orang yang mengangkat anak kita. Waktu itu saya hanya bisa menangis setelah melihat rumah tersebut,” papar ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini.

“Setelah saya melahirkan, saya tidak pernah bertemu dia. Kemarin (Rabu, 10/6) baru ketemu. Dan, dia sudah tidak bernyawa. Selama ini saya membayangkan wajahnya saja. Dan, persis wajahnya seperti yang dimuat di koran Radar Bali,” sambungnya sambil menunjukkan koran tersebut.

Tanpa sadar, air matanya kembali menetes membasahi koran tepat di wajah anaknya itu.

Berjalannya waktu, tali kasih antara Hamidah yang berasal dari Wadungpal, Banyuwangi Jawa Timur dan Rosyidi (asal Gombeng, Kalipuro, Banyuwangi), tak mulus. Dan, pada akhir tahun 2011 mereka pun cerai. Mereka berdua yang dulunya berdomisili di kawasan Canggu, akhirnya berpisah. Rosyidi, pergi membawa anaknya yang pertama IM ke kampung asal dan nikah lagi. Sementara itu, Hamidah ditelantarkan saat masih mengandung 8 bulan. Dia juga akhirnya menikah lagi dan tinggal di awasan Jimbaran, Badung hingga sekarang.

“Saya tidak mau pulang ke kampung saat itu karena saya tunggu putri kedua saya hingga berumur 18 tahun baru kita pulang sama-sama. Namun, harapan saya tidak terkabul,” katanya.

Rencana tinggal rencana. Buah hatinya ternyata ditemukan tewas mengenaskan. Dia pun punya keyakinan Agustinus bukan pelaku tunggal.

Rosyidi mengatakan hal yang sama. Katanya, dua bulan setelah anaknya diasuh, justru dia merasa kangen dan akhirnya dia datangi rumah Margareith. Tapi, ibu angkatnya mengaku bahwa Angeline baik-baik saja dan dia akan bertanggung jawab.

“Angeline masih tidur. Tidak bisa diganggu. Dia baik – baik saja,” begitu kata Margareith ditirukan Rosyidi saat berusaha menemui anaknya beberapa tahun silam.

“Saya pun pulang. Saya mendapatkan kabar dari polisi bahwa anak saya hilang. Saya sendiri bingung. Wajahnya saya nggak tahu. Akhirnya, kemarin (Rabu) saya dikabarkan, dia telah meninggal terbunuh. Ya, di dalam rumahnya (Margareith, Red),” singkatnya.

Sedangkan P2TP2A Kota Denpasar menelusuri soal proses pengangkatan anak yang dilakukan Margareith. Ternyata benar adanya kesepakatan awal antara Margareith dan ayah kandung korban. Cuma, penasehat hukum P2TP2A Kota Denpasar Siti Sapura yang mendampingi kedua orang tua korban ke kantor notaris tersebut mengatakan ayah angkat gadis manis tersebut mencabut. Berdasarkan isi kesepakatan awal, ada beberapa poin yang sudah dilanggar oleh pengasuh.

“Dari hasil koordinasi dengan notaris, diketahui bahwa surat itu kesepakatan awal saja, untuk pengangkatan anak. Bukan surat adopsi. Pasalnya notaris tidak punya wewenang melakukan pengangkatan anak. Itu kewenangan pengadilan negeri,” urainya.

“Dengan bukti ini ternyata kita temukan bahwa kesepakatan  dilanggar oleh Margareith. Murni dia bersalah. Poinnya adalah, adanya kelalaian, pembiaran, kekerasan, persetubuhan. Dia bisa dijerat dengan Pasal 80, UU No. 23 Tahun 2002 dan perubahan UU No. 35 Tahun 2014. Kalau orang terdekat yang melakukan pembiaran maka pidana ditambah sepertiga dari ketentuan. Ini kita akan lapor,” terangnya. (ken/dre/zul/yes)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *