Ketik disini

Headline NASIONAL

Ibu Angkat Akhirnya Jadi Tersangka

Bagikan

* Kasus Pembunuhan Angeline

CANGGU – Beberapa jam setelah menjemput Margareith Ch Megawe pada sebuah vila di Canggu, Polda Bali langsung menetapkannya sebagai tersangka terkait tewasnya ANG, 8 tahun. Cuma, dia menjadi tersangka dalam kasus penelantaran anak. Hal itu disampaikan langsung Kapolda Bali, Irjen Pol Ronny F Sompie, Minggu pagi kemarin (14/6).

Menurut Ronny F Sompie, ibu angkat ANG, ditetapkan sebagai tersangka atas penelantaran anak berdasarkan keterangan beberapa saksi. Dia diduga menelantarkan ANG, hingga ditemukan tewas dan terkubur di belakang rumahnya. Saksi-saksi yang diperiksa berasal dari masyarakat sekitar rumahnya serta tersangka pembunuhan ANG, Agustinus Tae, 25.

“Saat ini, M (Margareith) sudah diamankan di Polda. Dan saat ini (pagi kemarin, Red) ia dalam keadaan tertidur, sambil menunggu pendamping hukumnya agar sesuai dengan peraturan yang ada. Dia ditetapkan tersangka karena menelantarkan anak,” ujar mantan Kadiv Humas Mabes Polri tersebut.

Dia menambahkan, kasus penelantaran ini bisa menjadi bahan pertimbangan penyelesaian berkas perkara kasus yang menyebabkan kematian korban ANG yang jenazahnya ditemukan di belakang rumah tersangka Margrieth.

Perwira asal Minahasa, Sulawesi Utara, ini juga mengatakan, Polda Bali masih mendalami pernyataan Agus yang mengaku dijanjikan Rp 2 miliar oleh Margareith guna menghilangkan ANG. Seperti diketahui Sabtu lalu (13/6), Agus mengatakan kepada Akbar Faisal, anggota DPR RI bahwa dia diiming-imingi Rp 2 miliar untuk membunuh ANG.

Menanggapi hal tersebut, Kapolda Bali Irjen Pol Ronny F Sompie mengatakan, pihaknya akan memeriksa Agus lagi terkait pernyataanya dengan Akbar Faisal. Apakah omonganya itu sama atau tidak. “Secepatnya kami akan mendalami pernyataan dia. Pasalnya, omongannya selalu berubah-ubah,” terangnya.

Agus mengatakan kepada Akbar Faisal akan dibayar Margreth Christina Megawe ibu angkat korban pada 25 Mei 2015 jika dia membunuh Angeline. Tapi uang tersebut belum diterima pria asal Sumba itu. Ronny mengatakan saat ini Agus sedang istirahat setelah diperiksa pada Sabtu malam di Polresta Denpasar.

Dia juga berencana untuk melakukan konfrontir terhadap Agus atas pengakuannya kepada anggota DPR RI, Akbar Faisal. Namun saat ini pemeriksaan terhadap tersangka Agus dihentikan sementara karena tersangka masih istirahat. “Pemeriksaan akan dilanjutkan kembali setelah Agus siap secara fisik. Saat ini dia sedang istirahat, nanti Agus ini akan kami periksa lagi,” jelasnya.

Sementara itu, penemuan bercak darah, menurut Ronny F Sompie, telah dikirim ke laboratorium forensik Mabes Polri di Jakarta. Dari bukti tersebut, akan dicocokkan antara data antemortem keluarga korban dengan postmortem penemuan alat bukti di lapangan. Perwira dengan pangkat bintang dua di pundak, ini membeberkan bahwa pihaknya belum bisa memastikan kapan tim Labfor Mabes Polri akan melaporkan hasil temuan alat bukti baru berupa bercak darah di kamar Margreith.

“Jika sudah ada hasilnya, bukti bercak darah baru akan menjadi alat bukti kuat dari keterangan ahli, alat bukti petunjuk, dan alat bukti surat. Surat perintah dalam berita acara juga menjadi bagian dari alat bukti surat yang akan bisa menjerat Margreith dalam kasus terbunuhnya ANG,” terangnya.

Selain dari butki-bukti itu, Polda Bali juga masih menyelesaikan berkas perkara kematian ANG dengan tersangka Agus. Apakah Margrieth ada kaitannya dengan agus atau tidak.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Margareith dijemput sekitar pukul 02.00 di Vila Kakul, Jalan Raya Babakan, Canggu 64, Canggu, Kuta Utara, Badung. Vila tersebut milik anak pertamanya, Yvone. Sumber di lingkungan Polda Bali mengatakan, ada delapan anggota unit Kejahatan dan Kekerasan (jatanras) yang menjemput tersangka ke Canggu. Tim ini dipimpin langsung oleh Kanit III Subdit IV Direktorat Reskrim Umum Polda Bali, Kompol Pande Sugiarta.

Kata sumber itu, saat masuk ke dalam vila, tidak ada penjaga. Vila itu berada di kejauhan sekitar 50 meter dari jalan raya. “Jadi vila terletak di bagian dalam dengan kejauhan mencapai 50 meter. Dan tidak ada penjaga. Saat kita masuk, lampunya menyala dan terlihat megah vila. Padahal kalau kita lihat dari luar, tidak terlalu bagus. Seperti yang ada di foto ini,” papar sumber sambil tersebut menunjuk gambar kiriman yang dia terima dalam ponselnya.

Dijelaskan, di sana polisi menemukan ada 4 orang. Ada adik kandung Margareith, Yvone (anak pertama), Christina (anak kedua), dan Margareith sendiri. Selanjutnya anggota yang masuk ke dalam vila sebanyak 4 orang, itu langsung langsung mengamankan tersangka. Dan berdasarkan surat perintah Polda Bali, tim juga sempat melakukan penggeledahan.

“Dia sempat ngotot dan tidak mau ikut. Beralasan tunggu pengacaranya. Ngototnya nggak jelas. Kita tahu kalau pengacaranya sudah mengundurkan diri, namun dia masih berdalih seperti itu,” kata sumber tepercaya yang enggan namanya dikorankan ini.

Setelah melakukan penggeledahan dan tidak ditemukan bukti mencurigakan, Margareith langsung digiring ke Polda Bali. Sampai di Polda sekitar pukul 04.00, Margareith langsung diperiksa di ruangan Kanit Dua Subdit IV, Kompol Ni Putu Nariashy. “Di sana Margaraieth diambil sampel darahnya. Guna kepentingan penyidikan,” imbuh sumber tadi.

Pantauan wartawan, di bagian PPA Polda Bali, terdapat beberapa anggota satuan Reserse Kriminal Polresta Denpasar, dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim I Nengah Sadiartha. Namun, beberapa saat berdiri di kawasan tersebut, wartawan diusir oleh, Kasubdit IV, Polda Bali, AKBP Sapa Sapa Rini. Polwan ini mengatakan, di tempat tersebut merupakan steril dari wartawan sehingga tidak boleh ada satu wartawan pun datangi kawasan tersebut. “Dilarang untuk wartawan datang ke sini,” ujarnya.

Namun, menurut sumber koran ini menyebutkan, pemeriksaan Margareith sebagai tersangka sepertinya dibatalkan kemarin. Sebab, pengacaranya tak datang hingga sore hari. “Sesuai perjanjian pukul 13.00, namun sudah menjelang sore tidak kunjung tiba. Pengacara yang ditunjuk adalah Pak Simon Nahak. Informasi yang didapatkan, Pak Simon pun masih mempertimbangkan. Tidak tahu kenapa. Kemungkinan pemeriksaan dibatalkan,” tambah sumber tadi.

Sementara itu, penetapan Margriet, sebagai kasus penelantaran anak ternyata mengundang kekecewaan beberapa pihak. Seperti yang diungkapkan oleh pendamping Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapura.

a�?Seharusnya penelantaran anak dijadikan juncto saja. Kasus ini jelas-jelas konspirasi kejahatan kelas tinggi. Sebelum dibunuh, korban mengalami penyiksaan psikis,a�? ucap wanita yang biasa disapa Ipung tersebut.
Lebih lanjut Ipung mengatakan, sangkaan yang seyogyanya dikenakan kepada Margreith adalah pembunuhan berencana. Menurutnya otak pembunuhan ANG adalah Margareith. a�?Yang harus diungkap dalam kasus ini adalah otak utama pembunuhan. Apa yang dilakukan Margareith sejak awal hilangnya ANG hingga mayat korban ditemukan dikuburkan di rumahnya sendiri jelas-jelas menunjukkan bahwa ada hal besar yang disembunyikannya. Jangan lupa dua orang menteri yang berkunjung ke Jalan Sedap Malam No. 26 tidak diterimanya dengan baik. Bahkan diusir oleh salah satu satpam yang ditugaskan untuk menjaga Margareith. Kalau memang tidak ada yang disembunyikan untuk apa takut?a�? tegasnya.

Sebagai bentuk protes penetapan status tersangka, Komnas Perlindungan Anak Indonesia, P2TP2A, orang tua kandung korban, dan tim pengacara akan mendatangi Polda Bali pada Senin (15/6) hari ini. Itu dilakukan untuk melaporkan Margreith.

Sedangkan ibu keluarga kandung ANG belum diterima dengan pasal pasal 77 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menjerat Margareith. Menurut kuasa hukum keluarga ANG, Dr Harris Arthur Hedar pasal tersebut masih jauh dari pandangannya. Bahkan publik sekalipun. Seharusnya pihak kepolisian sudah bisa menetapkan siapa otak di balik pembunuhan ini. Karena fakta dan bukti di lapangan sudah cukup untuk menjerat pelaku dengan banyak pasal. Salah satunya pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan bukti tersebut banyak yang menjurus kepada Margareith.

a�?Banyak fakta yang terungkap dalam penyidikan, dan polisi tahu kok itu,a�? katanya.

Menurutnya, Margareith tidak bekerja sendiri dalam kasus ini. Sebenarnya, kata dia, dalam satu sampai dua hari setelah ditemukannya jenazah ANG, seharusnya polisi sudah bisa mengungkap otak di balik pembunuhan ini. Maka dari itu pihaknya akan melakukan segala upaya hukum dan kami akan mengawal kasus ini hingga tuntas.

Rencananya hari ini akan mendatangi Mapolda Bali untuk melakukan pelaporan terkait kasus pembunuhan ANG ini. a�?Pembunuhan terjadi di rumah Margareith, tidak mungkin Margareith tidak mengetahuinya,a�? terangnya.

Sementara itu, Siti Sapura mengungkapkan ada ada surat wasiat terkait pembagian harta terhadap ANG ini. Karena suami Margareith tersebut merupakan orang asing, sehingga dirinya menyerahkan kepada Margareith untuk bertanggung jawab.

Dalam surat wasiat tersebut dituliskan, jika ANG akan menerima 40 persen harta warisan, sedangkan 60 persen jatuh kepada Margareith. Namun jika nantinya Margareith sudah tiada, maka 20 persen dari warisan milik Margareith akan jatuh ke tangan ANG. Sehingga ANG berhak menerima 60 persen. a�?Saya dengar itu waktu Arist Merdeka Sirait ngobrol dengan Wakil Gubernur Bali,a�? tandasnya.

Perempuan yang akrab disapa Ipung ini membeberkan jika saat ini mendapat fakta baru soal ANG. Menurut sumber yang dia dapat, ada orang yang sering menyaksikan ANG mendapat kekerasan dari Margareith. Seperti dipukuli dengan tangan hingga kayu, dan juga jarang diberi makan. Makanan yang diberi ANG pun bisa disebut tidak layak yakni makanan binatang. ANG sering disuruh memberi makan ayam, dan harus bekerja terus. Tidak ada waktu santai. a�?Kata sumber saya, saat akan berangkat sekolah pun ANG harus memberi makan ayam terlebih dahulu. Sumber ini nantinya akan menjadi penguat kami dalam mengunkap kasus ini,a�? pungkasnya. (dre/ras/ken/yes/zul/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys