Ketik disini

Headline Metropolis

Program BL Jauh Melenceng

Bagikan

* Banyak Sekolah Swasta Terancam Gulung Tikar

MATARAM – Kebijakan pemerintah Kota Mataram melalui dinas terkait tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dianggap sudah banyak melenceng. Sehingga kebijakan saat ini dirasakan merusak sistem yang telah dibuat dan dirancang dengan baik.

Kebijakan PPDB dan Bina Lingkungan (BL) dianggap mengorbankan sekolah swasta. Sejumlah sekolah swasta tinggal menunggu kematian alias gulung tikar.

Kini, sekolah swasta menjadi pesakitan setiap tahun ajaran baru akibat sistem PPDB yang telah dirusak oknum pejabat tak bertanggung jawab di Kota Mataram. Buktinya, peminat sekolah swasta sangat minim.

Beberapa sekolah swasta kini sudah gulung tikar. Dikhawatirkan beberapa SMA swasta lainnya akan menyusul jika tidak ada perbaikan sistem.

“Sistem yang telah dibangun dengan baik oleh pemerintahan sebelumnya kini telah dirusak secara sistemik dan terorganisir,” terang Kepala SMA Hangtuah 3 Mataram, Abdul Majid.

PPDB seolah dijadikan bisnis dan lahan politik oleh sebagian pejabat pemerintahan maupun sekolah. Misalnya saja melalui program BL. Program yang semula bertujuan mulia ini, kini diubah menjadi kutukan bagi sekolah swasta.

“Dulu, almarhum H Ruslan membuat program BL ini dengan tujuan mulia. Agar para pelajar yang ada di sekitar wilayah sekolah tersebut bisa menikmati sekolah di sekitarnya. Kini, program ini malah disalahgunakan,” ujarnya.

Ia pun mengulas kembali sejarah munculnya BL. Menurutnya, BL pertama kali lahir karena tuntutan masyarakat di sekitar SMAN 7 Mataram yang anaknya tidak diterima bersekolah di sana, akibat tidak lulus persyaratan nilai. Akhirnya almarhum H Ruslan selaku wali kota saat itu, membuat Perwal tentang adanya program BL dengan persyaratan tertentu.

Misalnya saja jarak tempat tinggal calon peserta didik 100 meter dari sekolah dan bisa menunjukkan kartu keluarga. Dengan harapan anak-anak di sekitar sekolah tersebut, bisa tertampung.

Kini yang ada, BL telah membunuh sekolah swasta. BL dijadikan lahan bisnis dan politik. Sekolah beramai-ramai mencari siswa lewat jalur BL memaksakan diri dan ‘dipaksa’. a�?Kebijakan yang paling merusak yakni adanya sistem double shift yang saat ini masih berlaku di SMAN 2 Mataram, SMKN 3 Mataram, dan SMAN 7 Mataram,a�? protes Abdul Majid.

Selain terkesan memaksakan diri, diraskan juga membuat pembinaan pendidikan kurang maksimal. “Bayangkan saja, guru mengajar dari pagi sampai sore. Apa nggak capek, apa iya bisa maksimal?” tanyanya.

Menurutnya, beberapa sekolah memaksakan diri menerima banyak siswa. Sebab, semakin banyak siswa, maka semakin banyak dana bantuan yang diterima. “Bantuan dana BOS dari daerah, BOS dari pusat, belum lagi dana dari komite,” jelasnya.

Namun, dampaknya tidak diperhatikan. Banyak siswa yang malah tidak terurus dengan baik dan tidak terbina. Sehingga banyak siswa cenderung melakukan hal negatif. “Lihat saja, banyak siswa sekolah negeri terlibat kejahatan sampai jadi PSK. Karena, bagaimana bisa diurus kalau siswa dalam satu kelas itu bisa mencapai 40-50 lebih. Belum lagi satu angkatan bisa mencapai 10 kelas lebih,” ungkapnya.

Ironisnya, di saat sekolah negeri sesak karena siswa, sekolah swasta malah kekurangan murid. Sehingga guru juga kebingungan mengisi jam belajar. Padahal mereka juga butuh jam belajar untuk mendapatkan sertifikasi.

Tapi, sekarang bukannya dapat jam belajar yang cukup, banyak guru honorer yang jadi pengangguran karena sekolahnya tutup. “Kalau mereka punya hati nurani, coba bayangin saja. Guru honorer itu hanya dapat honor Rp 150 ribu per bulan,” bebernya.

Sementara Ketua Yayasan SMA Hangtuah Muhiddun menjelaskan, sebenarnya sistem yang ada sudah baik kalau dijalankan sebagaimana mestinya. Sayangnya banyak oknum yang berusaha merusak sistem dengan sistematis.

“Kalau kita kembalikan ke Standar Proses Permen 41 tahun 2007 tentang persyaratan pelaksanaan PBM. Dalam satu kelas itu minimal diisi 32 orang di tingkat SMA/MA,” terangnya.

a�?Sayangnya hal itu tidak diimplementasikan. Aturan hanya sekadar tulisan omong kosong belaka. Karena pada praktiknya tidak terealisasi,a�? cetusnya.

Di SMA Hangtuah sendiri, tahun lalu peserta didik yang mendaftar sebanyak 81 orang. Sayangnya dengan adanya program BL, pendaftar yang tersisa hanya 28 orang. Padahal, di sekolah ini kualitas dan mutu pendidikan telah terjamin dengan akreditasi A. (ton/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys