Ketik disini

Giri Menang Headline

Puasa Bro! Dugemnya Dikurangi

Bagikan

Aktivitas dunia gemerlap (dugem) dibatasi selama Ramadan. Buka paling cepat pukul 21.00 Wita, dan tutup paling lambar pukul 01.00 Wita. Kendati mengaku rugi, para pengusaha hiburan memastikan tunduk dan patuh.

***

BULAN Ramadan hanya tinggal tiga hari. Seperti tahun lalu, seiring kehadiran bulan suci, pemerintah mulai bersih-bersih.

Khusus di wilayah Lobar, pemkab melakukan serangkaian operasi penertiban. Pemkab bersama aparat kepolisian merazia tempat-tempat yang dapat menganggu kenyamanan selama bulan Ramadan. Sasarannya, prostitusi, narkoba, dan minuman keras.

Di samping razia, pemkab memberikan warning bagi penjual miras untuk membatasinya. Begitupun dengan aktivitas hiburan malam, khususnya di wilayah Senggigi.

Sebelum memasuki hari pertama puasa, pemkab telah menyebarkan surat imbauan berisi pemangkasan jam bagi hiburan malam selama Bulan Ramadan.

Dua lembar surat berisi imbauan ditujukan bagi pengusaha SPA, karaoke, diskotik, biliard, dan live musik. Untuk tempat hiburan yang menggelar karaoke diminta memperhatikan tingkat kebisingan pula.

Aturan itu sengaja dibuat agar aktivitas mereka tidak sampai menganggu kenyaman orang yang menjalankan ibadah puasa. Apalagi, jam buka hiburan malam nyaris bertepatan dengan waktu tarawih.

Di samping itu, jam berakhir hiburan malam dipangkas pula. Mereka tidak diizinkan membuka a�?lapaka�� sampai memasuki waktu makan sahur.
Pembatasan jam hiburan malam ini mendapat banyak tanggapan. Dukunganpun mengalir bagi pemkab. Masyarakat sekitar mengapresiasi langkah pemkab memangkasnya. a�?Kami sangat mendukung Pak. Jangan sampai hiburan malam ini mengganggu orang ibadah tarawih dan sahur,a�? Sulhan, salah seorang warga di Senggigi.

Wabup Lobar Fauzan Khalid menegaskan, waktu beroperasi tempat hiburan malam sudah ada ketentuan. a�?Jam buka dan tutup aktivitas tempat hiburan itu berlaku sejak memasuki bulan Ramadan,a�? kata Fauzan.

SPA diberikan izin buka sejak pukul 21.00 Wita-23.00 Wita. Karaoke sejak pukul 22.00 Wita-24.00 Wita. Diskotik buka dari pukul 22.00 Wita hingga pukul 01.00 Wita dan biliard dari pukul 22.00 Wita samai pukul 24.00 Wita. Sedangkan, live musik diberikan izin buka dari pukul 22.00 Wita hingga pukul 24.00 Wita.

Wabup menjelaskan, pemkab juga membatas peredaran miras. Khususnya bagi tempat hiburan malam yang kerap menyediakan minuman beralkohol.

a�?Ada larangan juga memproduksi dan menjual petasan dan kembang api. Termasuk mengimbau rumah makan yang tetap beroperasi di bulan Ramadan agar membuka satu pintu saja,a�? kata Fauzan.

Tidak cuma pemkab. Aparat kepolisian juga berbegas dengan memangkas izin keramaian bagi tempat hiburan malam. Jika biasanya izin keramaian diberikan dari pukul 21.00 Wita hingga pukul 02.00 Wita, kini kelonggaran itu tidak diberlakukan pada bulan Ramadan.

Seperti pemkab, mereka juga memangkas izin buka dan tutup tempat hiburan. Merujuk dari surat yang telah dipegang tempat hiburan malam, izin keramaian hanya diberikan dari pukul 21.00 Wita dan paling telat ditutup pukul 01.00 Wita. a�?Jam izin keramaian dipangkas, agar tidak mengganggu kenyamanan orang beribadah,a�? kata Kapolres Lobar AKBP Yulianus Yulianto.

Di samping memangkas, Yulianus juga mengaku akan melakukan operasi penertiban bagi lokasi yang menyediakan minuman keras tanpa izin. Pihaknya akan menertibakan pula praktik prostitusi terselubung. a�?Ini memasuki bulan Ramadan. Jadi miras, prostitusi, judi, dan petasan menjadi perhatian kami,a�? sebutnya.

Guna menyisir penyakit sosial itu, polres membentuk tim gabungan dari berbagai satuan. Tujuannya, memberikan rasa kenyamanan bagi umat muslim yang menjalani ibadah puasa.

a�?Kalau mereka mengedarkan secara terang-terangan dan menyalahi izin, kami akan tindak. Apalagi beredar di bulan Ramadan,a�? tegas dia.

Polisi sendiri sedang mendeteksi peredaran miras. Baik miras tradisional maupun bersegel. Yulianus menjelaskan, pihaknya sudah memetakan lokasi yang kerap menjadi sasaran peredaran miras. a�?Kami akan turun. Tapi, waktunya belum bisa disampaikan,a�? tandasnya.

Sementara, Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Lobar menghormati aturan yang diberlakukan pemkab. Bahkan, mereka mengaku akan menjalani pembatasan jam buka dan tutup kafe maupun diskotik. Begitupun dengan kebijakan Polres Lobar terkait izin keramaian.

Kendati demikian, APH sedikit kecewa karena surat edaran tidak pernah ditembuskan kepada pengusaha hiburan. Seharusnya, pengusaha dipandang perlu mendapat surat edaran, agar dapat menjalankan aturan itu sesuai dengan pembatasannya. a�?Kami sangat menghormati, tapi kami juga ingin ada tembusan perihal surat edaran ini,a�? kata Sekretaris APH, Zahar Mahmud.

Ia mengaku, surat edaran itu hanya dikirim pada kafe tertentu. Untuk tempat hiburan yang dimanager oleh dirinya belum mendapat surat berisi pembatasan jam. a�?Tapi kami tetap mematuhinya,a�? terang dia.

Meski belum melihat secara keseluruhan bunyi surat edaran, manager hiburan malam Cristal ini mengomentari kebijakan pemkab itu. Menurutnya, pembatasan jam buka dan tutupnya tempat hiburan selalu diterapkan di bulan Ramadan. a�?Sama seperti tahun lalu,a�? katanya.
Ia mengaku, pembatasan ini sudah pasti membuat pengusaha hiburan malam mengalami kerugian. Tapi, APH tidak mempersoalkan. Sebab, ketentuan itu merupakan kebijakan pemerintah dan diperkuat dengan keputusan dari Polres.

a�?Kalau dari sisi rugi, perusahaan tetap rugi. Tapi kita tetap hormati. Apalagi kita mayoritas muslim. Kami menghargai keputusan pemerintah,a�? terang dia.

Disinggung mengenai miras, Zahar mengaku, pihaknya tetap menyediakan miras. Pemilik kafe akan melayani permintaan minuman beralkohol jika ada pesanan dari para tamu atau pengunjung. a�?Tergantung permintaan tamu, karena kami punya izin,a�? jelasnya.

Ia kembali menegaskan, pihaknya tidak pernah menawarkan para tamu dengan menum miras. Namun, jika mereka meminta, pasti akan dilayani. a�?Kalau minta makan kami sediakan, kami tidak pernah menawarkan. Itu berlaku tidak hanya pada bulan Ramadan, tapi bulan lain juga,a�? ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, bulan Ramadan ini menjadi beban tersendiri bagi pengusaha hiburan malam. Sebab, mereka harus membayar Tunjangan Hari Raya (THR). Sementara, pendapatan di bulan Ramadan kerap turun. Terlebih lagi, sambung Zahar, kementerian tenaga kerja mengeluarkan aturan agar membayar THR dua Minggu sebelum lebaran.

a�?Kami juga ada permintaan pada pemerintah dan kepolisian. Kalau razia jangan terlalu keseringan,a�? pintanya. (jlo/r12)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys