Ketik disini

Opini

Pustakawan Itu Hebat

Bagikan

* Oleh: Wiwik Kurniati
Pustakawan MTsN 1 Mataram

Beberapa hari belakangan ini saya agak sibuk mengikuti rangkaian test untuk menjadi pustakawan teladan tingkat Provinsi NTB. Mulai dari menyusun materi, hingga presentasi di hadapan para juri. Memang untuk mengikuti test ini, tidak banyak persiapan yang saya lakukan. Toh test ini bisa dikatakan test rutin. Tahun lalu saya pun mengikuti lomba yang sama. Tahun depan, bisa jadi saya kembali mengikuti lomba ini.

Bukan hanya saya yang mengikuti lomba tersebut. Ada puluhan pustakawan yang juga ikut menjadi peserta. Sebagian benar-benar berniat ingin menguji kompetensinya, sebagian lagi ikut karena…terpaksa. Yah, terpaksa karena ditunjuk institusi tempatnya mengabdi. Penunjukkannya pun dilakukan sehari sebelum lomba. Institusinya juga terpaksa menunjuk sang pustakawan, karena dia satu-satunya pustakawan di tempat tersebut.

Bicara soal terpaksa ini, saya teringat saat saya baru tamat di bangku SMA 13 tahun yang lalu. Saat itu paman saya menawari melanjutkan pendidikan di jurusan perpustakaan, saya sempat menolaknya. Namun paman saya dengan gigih meminta saya masuk di jurusan tersebut. Sehingga akhirnya saya (maksudnya orang tua saya) luluh, dan membuat saya akhirnya masuk di jurusan unik tersebut.

Memang ada keterpaksaan saat itu. Bahkan hingga saya resmi menjadi mahasiswa jurusan perpustakaan. Bagi saya saat itu, pustakawan adalah profesi yang aneh, tidak ada gunanya, bahkan profesi yang sengaja diada-adakan untuk menampung pengangguran. Pustakawan, hanya seorang penjaga buku dan tukang sapu perpustakaan. Wajahnya seram, dengan kacamata yang tebal di atas hidungnya. Matanya terus melirik ke sana kemari mengawasi setiap penunjung perpustakaan yang datang. Saat ditanya, dia bakal menjawab dengan ketus. Jangan harap dia mau memberi bantuan ketika pengunjung membutuhkan buku yang diperlukannya. Pustakawan juga bisa menjadi super galak, jika melihat pengunjung yang enggan merapikan buku-buku yang telah dibacanya. Bahkan bisa berubah menjadi satpam kiler jika ada penunjung yang mencuri buku di perpustakaan.

Gambaran seperti itu ternyata bukan hanya ada di benak saya. Kebanyakan orang juga memiliki pandangan yang sama. Pustakawan dinilai hanya seorang penjaga buku. Agar bisa seperti itu, tidak perlu kuliah khusus. Lulusan SD pun bisa menjalani profesi tersebut. Toh selama ini pustakawan yang saya kenal, adalah orang-orang biasa. Di SMA saya saat itu, pustakawan hanya seorang pegawai biasa, yang galaknya melebihi satpam di sekolah. Di SMP, lebih parah lagi, guru Bahasa Indonesia merangkap menjadi pustakawan. Biar begitu, perpustakaan sekolah kami tetap jalan, tentu saja berjalan dengan apa adanya.

Gambaran masyarakat terhadap provesi pustakawan ini memang secara umum seperti itu. Jarang ada yang memuji pustakawan itu sebagai profesi hebat, seperti hebatnya seorang guru sang pahlawan tanpa tanda jasa, atau dokter, polisi dan lainnya. Justru pustakawan dianggap sebagai profesi yang tidak ada gunanya. Di banyak instansi, pegawai perpustakaan adalah orang-orang buangan yang sengaja disimpan di tempat itu karena tidak ada tempat lain untuk menampungnya.

Akibatnya, banyak pustakawan yang terkesan minder. Sejumlah pustakawan bahkan sampai menyembunyikan identitasnya. Jika terpaksa harus disebut profesinya, sang pustakawan biasanya berkelit menyebut dirinya adalah seorang PNS atau honorer pemda. Kalau di sekolah, sang pustakawan, lebih senang disebut sebagai pegawai Tata Usaha.

Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan orang yang memandang miring terhadap profesi pustakawan. Pandangan seperti itu justru muncul akibat prilaku pustakawan itu sendiri. Kesan cuek, judes dan galak yang ditampilkan banyak pustakawan (meski biasanya bukan pustakawan profesional), membuat orang memandang pustakawan sebagai sosok seperti itu.

Kita sebagai pustakawan profesional mestinya bisa belajar dari para perawat. Dulu, perawat banyak dipersepsikan sebagai seorang yang judes, crewet dan galak. Namun kesan tersebut belakangan sudah mulai memudar, seiring dengan perubahan sikap mereka yang cendrung lebih ramah dan humanis. Kini banyak yang mempersepsikan perat sebagai orang yang baik, ramah dan suka membantu.

Memang untuk bisa seperti ini, tidaklah mudah. Apalagi di tengah banyaknya persoalan yang menghimpit pribadi kita masing-masing, membuat tuntutan perubahan sikap menjadi sangat berat. Sebelum berangkat bekerja, seorang pustakawan tentunya menghadapi banyak persoalan hidup. Namun saat di tempat bekerja, beban itu harus ditanggalkan. Dia harus mampu menjelma menjadi seorang yang ramah, selalu tersenyum dan terkesan bahagia. Agar bisa seperti ini, tentunya dia harus hebat.

Tidak banyak yang tahu, profesi pustakawan ternyata sangat kompleks. Dia bisa menjadi seorang satpam yang keras menjaga buku-buku dan bahan pustaka lainnya di perpustakaan yang dikelolanya. Dia juga bisa menjadi seorang kurator yang telaten merawat buku, atau seorang ahli kimia yang piawai mencampur sejumlah bahan kimia untuk memberantas jamur dan kutu di dalam buku. Dia juga bisa menjadi seorang seniman yang piawai menata perpustakaannya, atau seorang ahli informasi teknologi (IT) yang mampu mengoperasikan berbagai aplikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan perpustakaan kepada masyarakat. Bahkan pustakawan pun harus bisa menjadi seorang inovator yang bisa merencanakan program pelayanan perpustakaan, mengaplikasikannya hingga melaporkan dan mengevaluasi program tersebut. Agar bisa seperti itu, tentunya dia harus hebat.

Pustakawan juga harus lebih pintar dari siswa, mahasiswa, dosen bahkan ilmuwan. Jika tidak, mana mungkin dia bisa memberikan informasi terkait literatur mana yang dibutuhkan oleh pengunjung (pemustaka). Pustakawan juga harus bisa seperti guru yang selalu memberikan bimbingan membaca kepada pengunjung perpustakaan. Pustakawan juga harus bisa seperti wartawan, mampu mensosialisasikan pentingnya keberadaan perpustakaan, dan mengajak orang mencintai perpustakaan. Atau seorang entertainer yang mampu membuat even-even di dalam sebuah perpustakaan sehingga bisa menarik banyak pengunjung ke dalam perpustakaan. Agar bisa seperti itu, dia harus hebat.

Pustakawan pun harus bisa menjadi seorang penulis handal sehingga mampu menerangkan isi hatinya, atau memberi gambaran mengenai pentingnya provesi ini dengan tulisan yang mudah dicerna dan dimengerti semua orang. Pustakawan pun harus selalu menjadi siswa yang terus dan terus belajar untuk meningkatkan kompetensinya baik dalam pendidikan formal maupun dalam seminar dan kursus mengenai perpustakaan. Agar bisa seperti itu, dia harus hebat.

Ternyata pustakawan adalah sosok yang hebat. Dia dituntut memiliki beragam keahlian yang tentunya dapat menunjang profesinya. Bangsa ini pun sesungguhnya sadar terhadap pentingnya menjadikan pustakawan sebagai sosok-sosok yang hebat. Jika tidak, tentu tidak bakal lahir Undang Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Negara pun tidak perlu mengeluarkan banyak anggaran untuk membangun sekolah-sekolah khusus pustakawan atau rutin menggelar kursus dan pelatihan pustakawan, jika menilai pustakawan sebagai profesi yang tidak banyak gunanya. Dan tentunya tidak perlu ada tunjangan jabatan fungsional pustakawan sebagai mana aturan dalam PP nomor 71 tahun 2013, jika pustakawan tidak dipandang sebagai profesi yang sangat diperlukan.

Orang bisa saja memandang profesi pustakawan biasa-biasa saja, bahkan cendrung tak banyak berguna. Tapi sesungguhnya tidak sembarangan orang bisa menjadi seorang pustakawan profesional. Hanya orang hebat yang bisa seperti itu. Dan itu tidak perlu dibuktikan dengan menjadi juara dalam lomba pustakawan. Kawan-kawan pustakawan se Indonesia, kalian adalah orang-orang hebat. (*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys