Ketik disini

Opini

Marhaban Ya Ramadhan

Bagikan

* Oleh : H. Ropii, S.Ag (Karyawan Kanwil Kementerian Agama Prov. NTB)

PERGANTIAN waktu yang begitu tidak terasa telah membawa kita semakin dekat dengan sayyidusysyuhur (penghulu segala bulan ) yaitu bulan Ramadlan almubarok. Bulan Syakban ini (1436 H) dalam penanggalan hijriyah berada pada urutan kedelapan.  Sebagian ulama berpendapat dinamakan syakban karena ia sya’ab artinya menonjol diapit diantara dua bulan yakni rajab dan ramadlan.  Sebagian mengartikan syakban dengan arti berserak atau berpencar karena bangsa arab zaman dahulu pada bulan tersebut berpencar mencari air dan berperang. Dalam kultur budaya kita syakban disebut dengan bulan rowah yang bermula  dari kata arwah yang merupakan bentuk  jamak taksir (irreguler) dari kata roha – yaruhu- arwah artinya tenang, dibulan syakban ini kita menenangkan diri dengan berzikir, tahlilan  baik secara munfarid (sendiri-sendiri ) atau berjama’ah untuk mengingat Allah agar hati menjadi tenang dan memperbanyak puasa sunnah sehingga kita nantinya dalam keadaan tenang dan bahagia serta terlatih memasuki bulan Ramadan kedepan.

Dibulan syakban amal manusia terangkat kelangit sehingga Rasulullah ingin amal beliau terangkat dalam keadaan beliau berpuasa sebagaimana dijelaskan bahwa ketika Usamah bin Ziad bertanya “Ya Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa sunnah dalam satu bulan seperti saat ini, Rasulullah menjawab:

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan diantara rajab dan ramadlan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Robb semesta alam dan aku ingin ketika amalku diangkat dalam keadaan berpuasa (HR. Annasai dan Ahmad).

Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa

“Adalah Rasulullah SAW berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan ramadlan dan aku tidak pernah melihat pada bulan yang paling banyak beliau berpuasa kecuali pada bulan syakban”. ( HR. Muslim)

Dibulan syakban saat ini kita  masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bersiap diri dengan memperbanyak amal ibadah yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai ketaatan kita dan wujud gembira dengan mendekatnya kehadiran  bulan ramadlan. Bulan Ramadan akan datang dan kedatangannya semakin mendekat, maka seyogyanya sebagai orang yang beriman tentunya melakukan persiapan untuk menyambut kehadiran Ramadan. Perintah Allah untuk berpuasa Ramadan di turunkan tepatnya pada tanggal 10 syakban tahun kedua hijriyah. Perintah Allah tersebut menegaskan bahwa :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Albaqarah: 182)

Bulan syakban berada diantara dua bulan yang mulia yaitu bulan Rajab dan Bulan Ramadan.  Ketiga bulan tersebut Rajab, Syakban dan Ramadan memiliki keistimewaan malam tersendiri. Bulan Rajab didalamnya terdapat malam isro’ wal mi’roj.  Bulan syakban di dalamnya terdapat lailatunnisfissyakban. Dan Ramadan yang didalamnya terdapat malam lalilatul qadr yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Bulan syakban adalah salah satu bulan yang hendaknya dihidupkan dengan ibadah mendekatkan diri kepada Alloh SWT sebagai salah satu bentuk persiapan serta rasa bahagia kita menyambut akan hadirnya bulan Ramadlan nanti.

Wujud kebahagiaan akan hadirnya bulan ramadlan tentunya dalam bentuk kebahagiaan yang bersifat syar’i yang tidak bertentangan dengan syari’at agama. Karena ramadlan adalah bulan yang mulia maka sudah sayogyanya disambut dengan amalan yang mulia. Bahkan Rosululloh SAW ketika mulai memasuki bulan rajab beliau memohon keberkahan kepada Alloh dan keberkahan dibulan syakban dengan peningkatan amal ibadah, dan memohon agar Alloh menyampaikan umur beliau hingga bertemu dengan bulan Ramadlan yang penuh dengan rahmat, magfiroh dan pembebasan dari api neraka.

“Ya Alloh berkatilah kami dibulan rajab dan syakban dan sampaikanlah kami di bulan ramadlan”

Karenanya bulan syakban ini sepatutnya dihidupkan dengan ibadah fardlu tentunya, dan ibadah nawafil agar ketika memasuki bulan ramadlan nantinya dapat kita jalani dengan semangat ibadah yang terlatih dan terdidik. Karena di bulan ramadlan kita berjihadul akbar  menundukkan hawa nafsu yang teramat berat sebagaimana halnya menundukkan musuh dalam medan laga maka sikap yang bijak adalah  mempersiapkan diri sebelumnya.

Menghidupkan bulan syakban dengan amalan-amalan sunnah didalamnya, qiroatil qur’an, bersholawat ‘alannabiy, sholat lail dan ibadah sunnah lainnya hendaknya janganlah melalaikan kita dari amalan yang wajib karena amalan sunnah merupakan penyempurna dari amalan yang wajib. Sebagaimana nasihat syeikh ibnu atho’illah dalam ALHIKAM bahwa;

“diantara tanda-tanda bahwa engkau menurutkan hawa nafsu ialah bersegera dalam menjalankan amalan sunnah namun bermalas-malasan dalam menjalankan amalan yang wajib”.

Begitu mulianya bulan ramadlan sehingga kita sebagai ummat Muhammad SAW menyambut kehadirannya sejak bulan syakban ini bahkan para ulama’ salafussholih mempersiapkan diri menyambutnya sejak beberapa bulan sebelumnya menunjukkan bahwa bulan ramadlan adalah bulan yang agung dan mulia. “Diriwayatkan bahwa Alloh berfirman kepada Nabi Musa As. bahwa ummat Muhammad diberi dua cahaya agar mereka tidak dicelakakan oleh dua kegelapan. Lalu Musa bertanya, wahai Tuhanku apakah dua cahaya itu? Alloh berfirman cahaya bulan ramadlan dan cahaya al-Qur’an. Nabi Musa bertanya lagi wahai Tuhanku apakah dua kegelapan itu? Alloh berfirman kegelapan alam kubur dan kegelapan hari kiamat.”

Sebelum hadirnya bulan ramadlan, maka di bulan syakban ini hendaklah kita bermuhasabah diri, merenungi diri kita sejauh mana kita mengisi dan menghidupkan  bulan-bulan yang dimuliakan Alloh dan RosulNy dengan ibadah kepada Alloh termasuk di bulan syakban ini, apakah kita telah merasakan adanya peningkatan dalam ibadah ataukah kita semakin menjauh dari ibadah. Wabilkhusus generasi muda mudi hendaknya persiapan  yang positif ditancap, Bro ! jauhkan diri dari tingkah laku nyeleneh, temukan jati diri dan masa depan you melalui moment Ramadan  nanti karena you adalah cerminan kehidupan bangsa dimasa depan. Jangan  membanggakan diri dengan perkara-perkara negatifisme, narkobaisme, hedonisme dan isme-isme negatif  lainnya. Jangan jadikan bulan Ramadan sebagai bulan petasan, gak meching coy !

Marilah kita periksa kembali bulan – bulan yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya, apakah kita menghidupkannya dengan cara-cara baru yang merusak kemuliaannya? Tentu sebagai hamba Alloh dan Ummat Muhammad SAW akan tetap memegang ajaran-ajaran syariat dalam mengisi bulan syakban ini, dan seluruh bulan yang ada.

Diriwayatkan oleh Thobrony bahwa didalam salah satu khutbah menjelang datangnya   bulan ramadlan Nabi kita Muhammad SAW memanjatkan do’a ;

“Ya Alloh selamatkanlah aku pada bulan ramadlan, selamatkanlah ramadlhan bagiku dn selamatkanlah ia dariku, terimalah amal ibadahku”.

Marilah kita pelihara diri dan keluarga kita serta generasi bangsa agar tetap menjadi generasi yang utuh  memegang teguh alqur’an dan sunnah Rosul termasuk tiga pilar kebangsaan,  sehingga kehidupan bangsa dan negara  selalu dalam rahmat dan rido Alloh SWT. akhirnya  marilah kita  menghidupkan bulan syakban tahun ini dan seterusnya dengan harapan semoga  Alloh memberkati kita dibulan ini dan semoga Alloh SWT menyampaikan umur kita untuk dapat bertemu dengan bulan Ramadlan nanti untuk kesempatan kita berjuang dan berikhtiar  meraih tingkatan taqwa. Amiin ya Robbal ‘alamiin.(*) 

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *