Ketik disini

Headline Sumbawa

Payah, PLTU Kertasari Baru 65 Persen

Bagikan

*Izin Lokasi Dermaga Belum Terbit

TALIWANG — Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kertasari, Kecamatan Taliwang yang menelan dana Rp 290 miliar itu secara fisik baru terealisasi sekitar 65 persen.

Proyek yang kontrak induknya ditandatangani tahun 2011 lalu itu saat ini berjalan lamban karena sejumlah persoalan di lapangan. Proyek itu bahkan harus dikerjakan dalam masa perpanjangan kontrak. Salah satu penyebab adalah pembangunan darmaga (Jeti) yang sampai saat ini belum bisa dilakukan. Penyebabnya sampai saat ini Pemda KSB belum memberikan rekomendasi terkait lokasi. Sementara dermaga itu merupakan satu paket proyek yang harus dituntaskan.

‘’Kalau progresnya sudah sekitar 65 persen. Nah yang belum bisa kita lakukan saat ini adalah membangun dermaga bongkar muat bahan baku untuk PLTU berupa Batu Bara. Karena sampai saat ini izin lokasinya belum keluar,’’ ujar Supervisor PLTU Kertasari, Heri Budiarto, kemarin.

Saat ini, kendala yang dihadapi dalam proses pembangunan PLTU itu adalah lokasi pembangunan dermaga Batu Bara. Dua dermaga yang ada misalnya milik PT BPM kapasitasnya tidak memenuhi syarat minimal yang dibutuhkan. Demikian halnya dengan Dermaga Labuan Lalar yang dibangun Pemda KSB juga tidak memenuhi syarat untuk bongkar muat Batu Bara. ‘’Kalau dermaga milik BPM itu kapasitasnya hanya 350 GWT. Sementara kita butuh dermaga yang kapasitasnya 500 GWT. Demikian halnya dengan Labuan Lalar, malah tidak masuk kriteria. Tidak hanya itu, dermaga yang diusulkan pemerintah itu jauh dan kita juga harus mengeluarkan cost tambahan. Belum lagi soal sosialnya kemasyarakat,’’ tandasnya.

Dermaga yang dibangun nanti akan digunakan secara continu, jika terjadi masalah terkait bongkar muat Batu Bara akan menghambat proses penyediaan listrik tenaga uap. PLTU Kertasari sendiri memiliki kepasitas 2×7 MW. ‘’Ketika PLTU selesai, kita butuh Batu Bara untuk uji coba, karenanya kita butuh dermaga dan harus dibangun sendiri. Kalau untuk uji coba, mungkin masih bisa, tapi kalau menyewa lagi dermaga lagi, biaya yang dikeluarkan itu akan membengkak. Belum lagi kita harus menanggung dampak sosial,’’ sebutnya.

Sampai saat ini, PLTU sendiri masih menunggu rekomendasi dari Pemda KSB terkait pembangunan dermaga tadi. Diharapkan, lokasi dermaga itu tidak jauh dari lokasi PLTU. ‘’Nah ini yang belum ada, sudah kita usulkan ke Pemda KSB. Sampai saat ini belum ada keputusan apapun. Kita harap lokasi Jeti ini satu paket atau berdekatan dengan PLTU, karena ini juga satu paket proyek dengan pembangunan PLTU,’’ harapnya.

Diakuinya, salah satu penyebab keterlambatan izin pembangunan dermaga ini disebabkan karena dianggap melanggar tata ruang KSB. Apalagi di wilayah Kertasari sendiri, ditetapkan sebagai kawasan wisata dan minapolitan. Meski demikian, pihaknya memastikan pembangunan fasilitas PLTU selain dermaga tetap jalan. ‘’Jika tidak ada masalah, tahun 2016 diluar dermaga, ini bisa selesai. Tapi biarpun bisa selesai, kalau tidak ada Jeti, kita tidak bisa beroperasi juga,’’ akunya. (far/r9)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *