Ketik disini

NASIONAL

Polisi Gunakan Lie Detector

Bagikan

* Periksa Agustinus, Margareith dan AA

DENPASAR – Guna mengungkap tuntas terkait tewasnya Angeline, Polda Bali akan melakukan pemeriksaan menggunakan lie detector (alat tes kebohongan) untuk memeriksa tiga orang. Mereka adalah Agustinus Tae, 25 (tersangka pembunuhan), Margareith CH Megawe (tersangka penelantaran anak) dan AA, seorang saksi yang terus didalami keterlibatannya terkait tewasnya Angeline.

Ini dilakukan karena keterangan Agus, kerap berubah-ubah. Salah satunya soal iming-iming uang Rp 2 miliar.

“Kalau ada penjelasan dari tersangka Agus yang menyiratkan kesan negatif, hal itu tentunya perlu dikaji,” kata Kapolda Bali Irjen Pol Ronny F Sompie saat ditemui.

Mantan Kadiv Humas Mabes Polri tersebut berharap masyarakat tidak dengan mudah bias terhadap pengakuan dari Agus tersebut. Sebab dalam penyelidikan lanjutan, pengakuan Agus kerap berubah-ubah.

“Sejauh ini kami ingin menunjukkan proses penyidikan jauh dari penyimpangan,” lanjut Irjen Pol Ronny.

Untuk itu, penyidik akan menggunakan lie detector (pendeteksi kebohongan).

“Kami akan melakukan pemeriksaan, baik tersangka Ag (Agus, Red) maupun tersangka M (Margreith, Red), dengan menggunakan alat yang memudahkan untuk mengetahui apakah yang bersangkutan masih bohong ataukah memberikan penjelasan secara benar,” lanjutnya.

Perwira asal Minahasa, Sulawesi Utara, ini juga mengatakan bahwa alat detektor kebohongan digunakan untuk memudahkan penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP) kedua tersangka.

“Alat tes kebohongan itu merupakan hasil dari penelitian ahli yang menciptakannya, dan telah digunakan sebagai alat bantu dalam memudahkan penyidik,” ujar Irjen Pol Ronny.

“Dalam hasil pemeriksaannya, tersangka, saksi, atau siapa saja telah memberikan keterangan di depan penyidik secara benar. Akurasinya tentu melalui pembuktian dan penggunaan (detektor tersebut) dalam proses-proses penyidikan sebelumnya,” lanjutnya.

Sementara itu Ibu kandung Angeline, Hamidah kemarin mendatangi Polda Bali untuk melaporkan Margareith terkait penganiayaan yang dilakukan terhadap Angeline. Hamidah datang didampingi oleh Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak Naomi Werdisastro, dan pengacara P2TP2A Siti Sapura, dan tim pengacara yang ditunjuk oleh Menpan-RB.

Siti Sapura mengatakan jika laporan tersebut dikuatkan dengan bukti-bukti yang sudah ada, yakni hasil forensik terhadap jenazah Angeline dan penemuan bercak darah yang ada di kamar Margarieth.
“Kita juga menghadirkan empat orang saksi. Saya rasa itu sudah sangat cukup,” ujar perempuan yang akrab disapa Ipung tersebut.

Dirinya pun mengatakan jika laporan tersebut masih di-BAP di Polda Bali untuk selanjutnya akan dibawa ke Polresta Denpasar.

“Jadi untuk kasus penelantaran anak itu di Polda Bali, dan penganiayaannya di Polresta Denpasar,” lanjutnya.

Selain itu, Ipung juga menyampaikan rencana jenazah Angeline yang akan dipulangkan Selasa (16/6) hari ini. Dirinya menjelaskan jika pemulangan jenazah Angeline tersebut sudah melalui pembicaraan dengan tim penyidik di kepolisian.

“Saat ini proses penyidikan dari tim laboratorium forensik di Rumah Sakit Sanglah juga sudah selesai dilakukan.Besok hari Selasa (hari ini, Red) jenazahnya bisa dibawa pulang,” lanjut Ipung.

Bahkan pihak P2TP2A mengaku sudah mendapat rekomendasi dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Yuddy Chrisnandi.

“Sudah dapat rekomendasi dari kementerian, kami tinggal tunggu surat turun dari Polda Bali. Tapi pada dasarnya sudah siap dan jenazah bisa pulangkan,” sambungnya.

Sementara itu, terkait pemberangkatan jenazah Angeline, rencananya akan menggunakan jalur darat dengan menyebrangi Pelabuhan Gilimanuk – Ketapang Banyuwangi.Tim pengacara yang ditunjuk langsung oleh Menpan-RB untuk mengawal kasus kematian Angeline yang ikut mendampingi orang tua Angeline ke Polda Bali mengatakan terkait laporan tersebut, Hamidah dan Rosyidi diperiksa dengan 23 pertanyaan.

“Pertanyaan seputar proses adopsi ANG. Mulai dari ANG lahir sampai diadopsi oleh Margareith karena faktor ekonomi dengan harapan ANG mendapat kehidupan yang lebih layak,” jelas Misyal B. Achmad.

Dijelaskan, kedatangan tim kuasa hukum Hamidah dan Rosyidi tersebut adalah untuk membuat laporan terkait dugaan pembunuhan berencana yang dilakukan terhadap Angeline.

“Tetapi setelah kita diskusikan bersama pihak kepolisian, laporan itu dirasa belum tepat untuk saat ini, dan kita hanya minta pihak kepolisian mengeluarkan SP2HP,” lanjutnya.

Namun apabila nanti dalam SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan)”ditemukan keganjilan dalam prosesnya, dirinya menyatakan akan membuat laporan jika dipandang perlu.

Sementara itu nampak Ketua P2TP2A Kota Denpasar, Luh Putu Anggreni, mendatangi Polda Bali untuk menyampaikan dukungan terhadap kinerja kepolisian untuk bisa bergerak dengan cepat dan dapat memberikan keadilan kepada Angeline.

“Sebenarnya harapan kita, bukan hanya satu orang pelaku saja yang ditetapkan sebagai tersangka, harus benar-benar ketemu otak pembunuhannya,” ujarnya.

Sementara itu, sekitar pukul 14.04 Wita terlihat tim INAFIS Polda Bali masuk ke ruangan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali bersama dengan tim Labfor usai melakukan Olah TKP bersama tim Polresta Denpasar di rumah Margareith, di Jalan Sedap Malam, Nomor 26, Denpasar Timur.

Mengenai hal tersebut, Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Hery Wiyanto mengatakan bahwa olah TKP yang dilakukan mulai dari pukul 11.00 Wita tersebut adalah untuk mencari bukti-bukti lain di TKP.

“Misalnya pencarian sidik jari, apakah pada benda atau pada bagian-bagian rumah, seperti di pintu, atau semacamnya,” jelas Kombes Pol Hery.

Dirinya menambahkan jika kemarin memang sengaja tidak dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka M (Margareith,Red) dan A (Agus,Red) akan dilakukan besok (hari ini, Red) karena harus dalam kondisi fit dan fresh

“Jadi besok (hari ini) pemeriksaan kita lakukan untuk saksi AA menggunakan lie detector,” ungkapnya.

Mengenai saksi AA yang diperiksa kemarin, menurut salah seorang sumber di lingkungan Polresta Denpasar, saksi AA menolak untuk diambil sampel darahnya oleh penyidik.

“Pengambilan sampel darah AA itu untuk mencocokkan dengan penemuan darah di kamar Margareith dan Agus, tetapi dia tidak mau,” ujar sumber yang enggan dikorankan namanya.

Dirinya juga menambahkan jika saat dijemput oleh tim Polresta Denpasar, AA menolak, dan hal yang sama juga dilakukan AA ketika tadi pagi dijemput kembali untuk pengambilan sampel darah ke RS Trijata.

Sedangkan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) tiba di Mapolda Bali sekitar pukul 14.00 Wita.Kedatangan Kompolnas yang wakili oleh Komisioner Kompolnas Edi Hasibuan dan Hamidah Abdurahman adalah untuk mengetahui perkembangan kasus pembunuhan Angeline dan mengetahui kondisi tersangka secara langsung.Hamidah Abdurahman mengatakan jika Kompolnas sangat menaruh perhatian terhadap kasus ini.

“Kedatangan Kompolnas juga untuk melakukan klarifikasi bahwa kepolisian dalam mengungkap kasus ini sudah sesuai prosedur,” ujar. (ras/zul/yes/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *