Ketik disini

Headline Metropolis

Besok Puasa Serentak

Bagikan

* Kemenag Akan Satukan Sistem Kalender Hijriah

MATARAM a�� Awal Ramadan dipastikan Kamis, besok. Seluruh umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa secara serentak. Berdasarkan hasil rukyat yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) NTB, kemarin, hilal (bulan) belum terlihat hingga pukul 18.00 Wita.

Peneropongan hilal dilakukan tim rukyat di Taman Loang Baloq, pesisir pantai Kota Mataram. Pengamatan ini dimulai pukul 16.00 Wita sampai terbenamnya matahari.

Pembimbing Syariah Kanwil Kementrian Agama NTB, H Khairi menerangkan, hasil pantauan tim rukyat menunjukkan, bulan berada di bawah ufuk, min (-) 1 derajat. Jadi bulan tidak mungkin dilihat. Maka karena tidak dapat dilihat, berarti bulan Syakban dicukupkan menjadi 30. Hal ini sesuai hadis Rasulullah SAW, ketika bulan tidak bisa melihat, makan bulan Syakban dicukupkan menjadi 30 hari

a�?Maka insyaallah puasa jatuh pada hari Kamis tanggal 18 Juni,a�? katanya.

a�?Pada saat ini terjadi ijtima. Semua kriteria utama hilal yang ditetapkan oleh Mabins tidak dipenuhi oleh hilal,a�? kata Kepala Kanwil Kemenag NTB H Sulaiman Hamid yang ditemui Lombok Post secara terpisah.

Dikatakan, hasil pemantauan, tinggi hilal hingga kemarin sore masih sekitar min (-) 1 derajat. Padahal syarat keberadaan hilal untuk memastikan jatuhnya awal bulan disyaratkan di atas atau minimal 2 derajat di bawah ufuk. Sehingga, hilal tidak mungkin dapat dirukyat atau diamati. Alhasil, umur bulan pada syaban ini akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

a�?Hasil hisab di NTB ini akan kami laporkan juga ke pusat langsung. Hasil ini menjadi bahan pertimbangan dalam diskusi itsbat. Kemungkinannya jatuh pada Kamis 18 Juni,a�? lanjutnya.

Hasil hisab rukyat ini juga tidak berbeda dengan perhitungan hisab hakiki wujudul hilal sebagaimana yang dipedomani organisasi masyarakat (Ormas) Muhammadiyah. Sehingga, awal Ramadan tahun ini bisa dikatakan spesial karena tidak terjadi perbedaan hasil, baik melalui pemantauan hilal maupun perhitungan hisab.

a�?Sejak satu bulan sebelumnya, kita sudah mendapat hasil perhitungan pusat. Intinya, memastikan bahwa awal Ramadan 1436 Hijriah pada Kamis, 18 Juni,a�? kata Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB Abdul Wahab yang ikut hadir paca acara rukyat hilal tersebut.

Tahun ini, menurutnya, memang menjadi lebih istimewa karena awal Ramadan versi Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama (NU) termasuk pemerintah tidak berbeda. Bagaimanapun, persaman ini memang tak dipungkiri menjadi harapan semua pihak. Namun, ia menekankan, walaupun awal Ramadan ditetapkan berbeda itu bukan menjadi hal yang perlu diperdebatkan karena kembali lagi pada prinsip masing-masing.

a�?Selama ini, baik NU maupun Muhammadiyah, masing-masing punya alasan yang kuat untuk menentukan awal Ramadan. Itu keyakinan dan tidak perlu dipermasalahkan,a�? katanya.

Senada juga disampaikan Lalu Winengan, Sekretaris Perwakilan Wilayah Nadhlatul Ulama (NU) NTB. Dikatakan, NU memang tetap berpatokan pada rukyat hilal sebagaimana halnya pemerintah. Namun, pihaknya juga bersyukur bahwa tahun ini, hasil pantauan tersebut ternyata ikut menetapkan awal Ramadan jatuh pada Kamis mendatang, tak berbeda dengan Muhammadiyah.

a�?Sebenarnya perbedaan juga tidak ada masalah karena menurut keyakinan. Yang menjadikannya istimewa karena kita bisa memulai Ramadan secara bersama-sama. Tentu ini juga berkah tersendiri. Mudahan lebaran juga bisa sama,a�? kata Winengan.

Tokoh daerah yang mewakili dua ormas besar tersebut berharap agar Ramadan tahun ini bisa menjadi berkah bagi semua umat muslim yang melaksanakannya. Yang paling utama, jangan ada gejolak di tengah masyarakat selama Ramadan. Sehingga semua bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk.

a�?Semoga Ramadan tahun ini bisa kita manfaatkan sebaik mungkin untuk melipat gandakan pahala dan lebih mendekatkan diri kepada pencipta,a�? kata Winengan.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB Bidang Hukum dan Fatwa Mustamiuddin Ibrahim yang ikut hadir di lokasi pemantauan hilal ikut menyambut suka cita atas tidak adanya perbedaan awal Ramadan pada tahun ini. MUI pun mengimbau mengimbau masyarakat untuk dapat secara bersamaan menjalankan puasa di waktu yang telah ditetapkan sesuai hasil sidang isbat.

a�?Tahun ini alhamdulillah tidak ada perbedaan. Kecuali bagi yang sengaja mencari-cari perbedaan. Karena sudah jelas, baik berdasarkan perhitungan hisab hakiki maupun rukyat hilal, 1 Ramadan jatuh hari Kamis,a�? katanya.

Ia mengimbau agar umat muslim dapat meningkatkan volume ibadahnya selama Ramadan, begitupun setelahnya. Ramadan patut menjadi momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih dekat dengan Allah SWT. Sehingga, jangan sampai bulan suci ini dinodai oleh perbuatan-perbuatan yang mencela danpada akhirnya merugikan diri sendiri.

a�?Selama Ramadan, jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat apalagi merugikan. Perbanyak amal,a�? pesannya.

Senada juga disampaikan oleh TGH Safwan Hakim. Pendiri Pondok Pesantren Nurul Hakim ini mengingatkan agar masyarakat saling meredam emosi, khususnya selama Ramadan. Sehingga, tidak ada gejolak. Ia mengingatkan umat untuk saling toleransi, mulai dari hal-hal kecil hingga besar.

Terkait kesamaan memulai awal Ramadan, TGH Safwan juga melihatnya sebagai berkah yang patut disyukuri. Meski pada prinsipnya, perbedaan faham soal awal Ramadan dan Syawal merupakan sesuatu yang masuk dalam wilayah toleransi sehingga tidak perlu dibesar-besarkan dan diperdebatkan. Dua perbedaan itu adalah yang satu rukyat menentukannya harus melihat dengan mata kepala dulu atau istilahnya meyakini sesuatu dengan melihat. Sedangkan hisab dengan perhitungan akal pikiran yang meyakini dengan mengetahui walaupun tidak melihat.

Dari Jakarta, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku bersyukur awal puasa tahun ini kompak. Tidak ada perbedaan penetapan 1 Ramadan antara Muhammadiyah maupun NU. Dia berharap kekompakan awal puasa ini juga mencerminkan kekompakan dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Termasuk dengan informasi 1 Ramadan dan 1 Syawal yang kompak hingga 2023, Lukman mengatakan sebagai fenomena alam karunia Allah.

Meski begitu, Lukman mengatakan Kemenag tetap berupaya menyatukan kalender Islam. Caranya adalah mencari titik temu kriteria penetapan awal bulan Hijriah antara NU dengan Muhammadiyah.

a�?Saya mengapresiasi kedua ormas ini yang terbuka untuk diajak berdialog,a��a�� katanya.

Beberapa waktu terakhir, Lukman memang terlihat road show ke markas NU dan Muhammadiyah. Tujuannya untuk sosialisasi bahwa Kemenag ingin menyatukan kalender Islam di Indonesia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin sepakat bahwa perbedaan kriteria antara Muhammadiyah dengan NU harus dicari titik temu.

a�?Kami perlu mengapresiasi upaya Bapak Menag Lukman,a��a�� kata dia.

Sebagai pimpinan MUI, Din juga siap mendukung upaya Kemenag itu. Caranya adalah dengan membuka kajian-kajian tentang penetapan awal bulan puasa.

Din juga menyerukan kepada pemilik restoran supaya menutup sementara warungnya sampai waktu berbuka puasa.

a�?Rumah makan seeloknya tutup sementara. Insyallah tambah barokah,a��a�� katanya.

Dia mengatakan sudah konfirmasi kepada Menag Lukman tentang pernyataan umat yang berpuasa juga harus menghormati umat yang tidak berpuasa. Maksud dari pernyataan yang berujung kontroversi itu adalah, umat Islam yang dalam keadaan darurat dan tidak bisa berpuasa juga harus dihormati. Keadaan darurat itu seperti sakit atau menempuh perjalanan jauh. Sementara bagi umat Islam pada umumnya menjalankan ibadah puasa seperti biasanya. (ili/uki/wan/end/ r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys