Ketik disini

Sportivo

Kesuksesan itu Butuh Usaha, Kerja Keras, dan Doa

Bagikan

* Cerita Mantan Atlet NTB Peraih Medali di PON (2)

BISA berprestasi di kancah nasional adalah mimpi setiap atlet. Terlebih di ajang bergensi empat tahunan Pekan Olahraga Nasional (PON). Salah satunya Dewi Lantari, mantan atlet atletik nomor tolak peluru NTB.

Manis dan murah senyum, begitulah menggambarkan sosok Dewi Lantari. Atlet yang pernah mengharumkan nama NTB diajang PON empat tahun silam. Wanita yang akrab disapa Dewi ini pernah merasakan manisnya gelar juara PON XVIII/2012 Riau dan PON XVII/2008 di Kalimantan Timur.
”Waktu di Riau saya dapat perak. Di Kaltim baru dapat emas,” katanya singkat saat berbincang dengan koran ini.

Bagi seorang Dewi tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa usaha dan kerja keras. Atlet yang ingin menorehkan prestasi harus memiliki tekad dan keinginan kuat untuk berhasil. ”Sehebat apapun seorang pelatih, jika tidak diimbangi dengan tekad ingin maju dari atlet, tidak akan pernah menjamin sebuah gelar juara,” terangnya.

Sebuah kemenangan bisa tercapai lanjut Dewi, karena didorong oleh sebuah keyakinan yang kuat dari dalam diri setiap atlet itu sendiri. ”Aku harus menang. Tekad itu harus menjadi landasan apabila atlet ingin mencapai tujuannya,” tegas wanita kelahiran 20 Juni 1989 ini.

Dikatakan, bukan hal yang sederhana mental juara itu dimiliki seorang atlet, selain kemampuan teknik atau skill yang mumpuni. Secara psikologis seorang atlet harus memiliki kejujuran, kesabaran, dan ketenangan.

Ia pun mengimbau agar seluruh atlet yang dipersiapkan ke PON nanti untuk senantiasa berlatih dengan penuh keyakinan. Menurutnya, masa latihan yang cukup lama sedikit banyak akan membuat para atlet merasakan kejenuhan. Namun menurutnya, tekad dan keyakinan yang sejak awal ditanamkan akan memberikan hasil maksimal kalau dijaga dengan baik.

“Orang yang berhasil adalah mereka yang punya tekad baja. Karena keyakinan adalah setengah dari keberhasilan. Tapi kalau dari awal sudah merasa akan kalah dan takut menghadapi lawan yang lebih kuat, lebih baik tak bertanding. Malu-maluin saja,” candanya.

Ia mengaku, selama menjadi atlet sejak 2004 lalu, tidak sedikit atlet yang memiliki motivasi hanya ikut-ikutan latihan dan hanya mementingkan bonus dari pemerintah. Mereka lupa dengan tugas utamanya sebagai seorang atlet.

”Saya menjamin atlet yang seperti itu (latihan setengah-setengah, Red) akan mendatangkan hasil yang tidak maksimal juga. Saya berharap yang PON Jabar nanti tidak ada yang seperti itu,” cetusnya.

Ia menambahkan, jika ingin berhasil, atlet juga harus mengikuti setiap petunjuk dan porsi latihan yang diberikan pelatih. Baginya pelatih berperan sangat vital demi kemajuan seorang atlet. ”Harus tetap semangat. Buang jauh-jauh pikiran lelah latihan. Yang terpenting kerja keras dan berdoa, pasti bisa,” tandasnya. (bersambung/r10)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *