Ketik disini

Ekonomi Bisnis Headline

Marhaban Ya “Bisnis” Ramadan

Bagikan

BULAN Ramadan yang semestinya mengajar untuk hidup hemat, justru menjadi bulan yang boros. Belanja makanan meningkat. Belanja konveksi naik tajam. Akhirnya Ramadan menjadi lebih konsumtif.

Ramadan tidak hanya ajang mengumpulkan pahala. Namun juga dijadikan momen mengumpulkan keuntungan. Dari pedagang kali lima hingga pemodal kakap berlomba-lomba menggelar bazar dan diskon. Selamat datang bisnis Ramadan.

—————–

Malam itu, ribuan warga Mataram memadati Matahari Departement Store, Lombok Epicentrum Mall (LEM). Mereka berdesak-desakan, menyerbu berbagai produk pakaian dengan label diskon. Magnet diskon berhasil menghipnotis para konsumen. Meski harga terbilang cukup mahal, namun niat memborong tidak bisa dibendung.

Suasana serupa juga terlihat di bazar murah Inul Vizta, di Selaparang Square. Di depannya, terpampang diskon 70-80 persen. Diskon gila-gilaan membuat pembeli memborong pakaian murah dengan kualitas tinggi.

Para pengusaha benar-benar memanfaatan momentum jelang Ramadan. Mereka tidak ingin ketinggalan menawarkan segala kebutuhan warga. Mulai dari pakaian, jilbab, peci, sendal, sepatu, tas, dan asesoris lainnya. Ditambah dengan label diskon, warga seakan berlomba-lomba membeli.

”Mumpung masih diskon besar, kesempatan belanja sama keluarga,” kata Pak Tono salah seorang pengunjung Matahari Departement Store.

Momen ini juga dimanfaatkan manajemen Matahari Departement Store. Meski gedung Lombok Epicentrum Mal belum sepenuhnya rampung. Namun mereka tidak ingin ketinggalan momen. Senin (15/6), mereka meresmikan gerai terbarunya. Gerai merupakan yang ke-139. Diresmikan Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana.

Manajer Operasional Lombok Epicentrum Mal, Kawi Armiyasa mengakui, hari-hari besar, baik Ramadan, lebaran, Natal dan lainnya dari segi bisnis memang menguntungkan para pebisnis. Sebab, sesuai dengan budaya yang berkembang di Indonesia. Mereka biasanya membutuhkan yang baru jelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

”Peluang itulah yang ditangkap para pebisnis,” ujarnya.

Lombok Epicentrum Mal sendiri menegaskan dirinya sebagai salah satu pusat perbelanjaan terlengkap di NTB. Momen beroperasi jelang Ramadan juga menjadi perhitungan untuk mendapatkan keuntungan.

”Tidak hanya Ramadan, hari besar lainnya juga, tapi memang sebagian besar penduduk kita muslim,” ujarnya.

Direktur SDM Matahari Department Store Andre Rumantir menuturkan, dalam momen bulan puasa pusat-pusat perbelanjaan sebagian besar bisa meraup keuntungan dua hingga tiga kali dibandingkan bulan biasanya. Ini disebabkan daya beli masyarakat cenderung meningkat.

“Entah kenapa di bulan puasa daya beli mereka tinggi dari sebelumnya,” terangnya.

Sisi lain, perolehan keuntungan ini juga berimbas bagi karyawan-karyawan di tempatnya. Karena mereka harus bekerja lebih ekstra.

“Multiflier efeknya kemana-mana,” imbuhnya.

Menyambut Ramadan ini gerai Matahari Department Store, kata dia, menjanjikan kenyamanan pada pelanggan dengan menyuguhkan suasana yang berkelas dan menyenangkan. Matahari menghadirkan ragam produk menarik dan memberikan berbagai promo khusus. Seperti di hari pertama pembukaan Senin (15/6) lalu, pelanggan mendapatkan gift voucher sebesar Rp 50 ribu. Berlanjut dengan diskon hingga 70 persen untuk beragam pilihan produk. Termasuk selama 10 hari ke depan juga akan bagikan 5.000 buah balon dan coklat bagi para pengunjung.

“Goodie bag cantik berisi kejutan prodeuk menarik pun kami sediakan,” jelasnya.

General Manager Lombok Epicentrum Mall Salim Abdad mengakui dari sisi bisnis, momen puasa memberikan peluang bagi pedagang. Namun, mereka harus benar-benar mempersiapkan segala kebutuhan konsumen.

“Bila tidak disediakan maka konsumen akan lari ke tempat lain,” ujar Salim.

Tidak hanya menguntungkan toko saja, lanjut Salim, keuntungan besar yang diperoleh toko juga diharapkan bagi karyawan untuk memperoleh tunjangan hari raya (THR) lebih besar.

“Karyawan sudah bekerja dengan keras tentu harus mendapat upah yang layak dan sesuai termasuk THR,” paparnya.

Pemilik Aldies Moslem Aliya mengatakan, bulan puasa adalah peluang bagus bagi para pedagang. Karena permintaan akan barang mengalami peningkatan. Sehingga pedagang harus sudah menyiapkan ketersediaan barang jauh-jauh hari sebelumnya. Apalagi saat mendekati lebaran, biasanya ekspedisi penuh pengiriman barangnya.

“Puasa ini bukan hanya untuk pedagang tetapi juga buat suplier, penjahit, pegawai toko dan lain-lain,” ujarnya.

Berbeda dari yang lain Distributor Excecutive Maika NTB Heppi Bidrahapsari menambahkan, bulan puasa konsumen cenderung terlalu boros. Dia menilai kenaikan daya beli menunjukkan tingginya tingkat konsumtif masyarakat. Baik dari sisi produk barang maupun makanan.

“Ramadan harusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas spiritual, bukan boros untuk beli ini dan itu,” tambahnya.

Bukan hanya pedagang besar yang memanfaatkan peluang Ramadan. Pedagang kecil pun membaca Ramadan sebagai peluang bisnis. . Seperti yang dilakukan Citra Mayasari. Bersama teman-teman satu kosnya, perempuan dari Sumbawa ini satu kosnya sudah mulai mencari lokasi untuk berjualan takjil buka puasa. Berbagai macam jenis takjil juga mulai dibicarakan dengan temannya yang akan berjualan nanti.

”Sejak seminggu yang lalu kami mulai mempersiapkannya,” katanya pada Lombok Post.

Sasaran yang akan diambil ada tiga titik penjualan kuliner. Tempatnya di Jalan Airlangga, seputar kos-kos yang ada di Kekalik, dan Jalan Majapahit.

”Tahun lalu kita hanya ambil dua titik di Airlangga dan Kekalik. Sebenarnya tahun ini kami ingin di empat titik penjualanan tapi hanya mampu di tiga titik saja,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu dengan membuka dua titik saja ia dan temannya bisa mendapatkan hasil yang lumayan perharinya. Dalam sehari mereka bisa menjual 60 buah takjil dan lauk berbuka dengan nilai Rp 200 ribu.
”Sehari bersihnya kami bisa dapat sekitar Rp 500 ribu,” ujarnya.

Untuk modal memang selama ini urunan dan hasil pun dibagi sama rata. Tentunya dengan pendapatan juga dibagi sama rata pada akhir bulan Ramadan.

”Hanya dengan berjualan seharinya tiga jam sama dengan saya jualan dua hari baru bisa mendapatkan hasil yang sama,” kata wanita yang juga bisnis perlengkapan wanita.

Ia bisa membandingkan bisnis harian yang dijalankan dengan bisnis musiman lebih menguntungkan bisnis musiman. Apalagi ini hanya terjadi sebulan dalam setahun.

”Inilah yang kini banyak diincar untuk membuat usaha,” jelasnya.

Sementara itu salah satu penjual online, Tya yang tinggal di Tanjung Karang mengatakan ia mulai padat order. Khususnya order untuk mukena, baju koko, kopiah, dan ghamis.

”Dalam sehari beberapa minggu ini order naik tiga kali lipat dari hari biasanya,” katanya.

Kondisi pasar tradisonal juga ramai menjelang Ramadan. Keramaian ini akan diprediksi sampai dengan hari mendekati dimulainya puasa dan masuk puasa.

”Tingkat pembelajaan masyarakat sekarang meningkat dua kali lipat,” kata seorang pedagang Dayah.

Ia mencontohkan beberapa barang yang banyak diborong seperti bumbu dapur bawang merah dan bawang putih. Selain bumbu dapur, bahan untuk pembuatan bubur seperti ketan putih, ketan hitam, dan kacang-kacangan juga mulai diburu.

”Biasanya pelanggan yang beli setengah kilogram, kemarin mengambil sekitar dua sampai tiga kilogram,” jelasnya.

Jika di Mataram hiruk pikuk, lain halnya di Lombok Tengah. Di Lombok Tengah potret seperti itu justru tidak ada. Para pedagang pun mengeluh.

“Ramadan tahun ini bagi kami sangat memprihatinkan. Jumlah pengunjung berkurang. Di satu sisi, stok sembako dan pernak pernik emas tersedia,” kata salah satu pedagang di pasar Renteng H Tarki.

Sebagai pemilik toko perhiasan, Tarki merasa merugi. Jangankan yang membeli, menjual emas saja berkurang. Begitu pula, untuk kebutuhan sembako. Salah satunya minyak goreng. Dalam sehari dia menyiapkan delapan drum. Namun, yang terjual hanya 1/5 drum. Pada Ramadan tahun sebelumnya, bisa habis 3-4 drum.

“Saya kok heran, pada kemana pengunjung ini. Kalau begini terus, kami bisa merugi. Tolong pemerintah segara turun tangan, jangan diam diri saja,” ujarnya.

Dikatakannya, kalau minyak goreng bisa disimpan sampai beberapa minggu ke depan. Tapi, telur ayam bisa saja membusuk dalam hitungan hari.

“Satu butir telur saya jual Rp 1.300- Rp 1.400. Harga normalnya Rp 1.100 per butir. Yang terjual bisa dihitung dengan jari tangan,” kata Tarki sembari menunjukkan stok sembakonya.

Di tempat yang berbeda, pusat-pusat perbelanjaan di Praya mulai bermunculan. Khususnya, pakaian dan pernak pernik Ramadan. Lagi-lagi, minim pembali.

“Apa ini karena masyarakat Loteng lebih memilih berbelanja ke Mataram, sehingga sepi pembeli,” ujar sejumlah pedagang pakaian pusat pertokoan Praya.

Mereka khawatir, tumbuh pesatnya pusat perbelanjaan di Mataram seperti mall atau mega mall justru memengaruhi masyarakat Gumi Tatas Tuhu Trasna lebih memilih berbelanja di tempat lain. Untuk itulah, mereka berharap pemerintah segera turun tangan.

“Tolong dinas teknis untuk mengontrol dan mengawasi permasalahan yang dihadapi pedagang, baik soal harga maupun daya beli,” sambung Sekda HL Supardan.

Dia menginginkan, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan menjawab persoalan yang ada. Dengan cara, tetap berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi. Sehingga, tidak ada ketimpangan harga atau daya beli disetiap daerah. Khususnya, Loteng.

“Insya Allah, kita akan buat pusat perbelanjaan yang nyaman, aman dan mewah di depan Masjid Agung selama satu bulan penuh di Ramadan ini. Harapannya, masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke daerah lain,” kata Supardan.

Urusan teknis selanjutnya, tambah Supardan diserahkan sepenuhnya ke Diskoperindag.

“Yang penting, stok sembako kita aman. Tidak langka,” lanjut kepala Dinas Koperindag H Amir Husen.

Menurut Amir, menurunnya daya beli masyarakat bisa jadi karena kebutuhan hidup terpenuhi, peredaran uang kurang atau memang karena mahalnya kebutuhan hidup. Untuk menjawab itu, pihaknya telah menurunkan tim guna meminimalisir permasalahan yang dihadapi pedagang.

Pengamat Ekonomi M Firmansyah menuturkan, momentum ekonomi terjadi meluas ketika terjadi peningkatan permintaan barang dan jasa di pasaran. Sebagai akibat meningkatnya kebutuhan akan barang dan jasa itu secara riil.

“Laboratorium menarik momentun positif itu adalah pada bulan Ramadan,”kata Firmansyah.

Firmansyah menilai tingginya permintaan pada bulan Ramadan melahirkan inflasi. Beberapa penyebab inflasi itu adalah, pertama, masyarakat meningkatkan variasi produk yang dikonsumsi saat berbuka puasa. Tidak afdal kalau hanya berbuka dengan satu macam makanan saja. Kedua, adanya kegiatan-kegiatan buka puasa bersama atau sedekah untuk anak yatim. Ketiga, pedagang dadakan berjamuran di jalan-jalan raya atau di pusat-pusat perbelanjaan sehingga menambah permintaan barang.

Beberapa penyebab itu menyebabkan geliat ekonomi tumbuh, khususnya dari aspek konsumsi. Banyak orang mendadak memproduksi. Mulai dari makanan jadi, minuman dan seterusnya.

“Saya kira fenomena ini cukup wajar, selama supply barang tersedia dan tidak ada aksi borong yang berlebihan oleh sebagian masyarakat,” tuturnya.(ili/cr-ewi/nur/ded/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *