Ketik disini

Politika

Pilkada Bima Dinamis, Mataram Sepi

Bagikan

MATARAM – Dari tujuh kabupaten/kota yang menggelar pemilu kepala daerah, Kabupaten Bima menjadi daerah yang tensi politiknya cukup dinamis. Sedangkan Kota Mataram menjadi daerah yang tensi politiknya sangat sepi.

Hal itu dikatakan pengamat politik IAIN Mataram Dr Kadri saat berbincang dengan Lombok Post, kemarin (17/6). Menurut dia, situasi perpolitikan di Kabupaten Bima sangat dinamis menyusul banyaknya figur bakal calon kepala daerah yang muncul. Demikian halnya di daerah lainnya seperti di Kabupaten Dompu dan Sumbawa.

Adapun tiga daerah yang berpilkada di Kabupaten Lombok Tengah, Kota Mataram, dan Kabupaten Lombok Utara belum menunjukkan dinamika yang signifikan. Apalagi di Mataram, kata Kadri, mulai muncul fenomena cara berpikir politik menggunakan cara-cara lama seperti di era orde baru. Artinya, ruang perbedaan pendapat terutama dalam menentukan sikap politik seolah menjadi mahal dan tertutup.

“Di Bima memang saya akui sangat dinamis meskipun memang masing-masing bakal calon kepala daerah belum mengarah pada perang ide atau visi-misi. Sementara di Mataram ini kecenderungannya justru berbeda karena belum ada ruang demokrasi yang bagus,” kata Kadri.

Meski begitu, dia berharap dalam perjalanan memasuki tahapan pilkada akan muncul perlawanan sengit dari para aktor politik. Dia menilai, pemilu kepala daerah di tujuh kabupaten/kota akan memperlihatkan karakter masyarakatnya. Jika dalam satu daerah kental dengan dinamika politiknya, maka akan berdampak pada pendidikan politik masyarakat. Namun, dia berharap agar jangan sampai dinamika politik hanya dalam konteks kemunculan figur. Tapi lebih memberikan ruang pertarungan wacana masing-masing kandidat.

“Nah kalau di Mataram ini yang sangat berbeda dengan daerah lainnya. Di Sumbawa misalnya, publikasi terhadap calon sudah mulai dinamis begitu juga di Lombok Tengah,” tandas dia.

Pola-pola politik otoriter dengan menutup ruang berkembangnya demokrasi menurut dia dapat memberikan dampak negatif bagi pendidikan politik masyarakat. Jika dibiarkan, justru hal ini akan menimbulkan sikap apatis masyarakat dalam mengikuti pemilu. Kecenderungannya, bahkan akan berdampak pada tingkat partisipasi pemilih.

Menurutnya, figur bakal calon kepala daerah harus memberikan informasi yang banyak kepada masyarakat berdasarkan visi yang bagus. Dalam hal ini, partai politik harus berperan aktif memberikan pencerahan-pencerahan kepada publik.

Terpisah, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Ali Ahmad menilai iklim politik akan semakin dinamis jika kandidat bakal calon benar-benar menyampaikan isi pikirannya kepada masyarakat. Visi-misi yang logis harus disampaikan melalui berbagai media baik melibatkan pers maupun terjun langsung ke masyarakat.

“Hingga saat ini saya tetap bergerak untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Di satu sisi memang partai politik punya kewajiban memberikan pendidikan politik itu,” tandasnya. (tan/r4)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *