Ketik disini

Metropolis

Penjual Kembang Bertabur Uang

Bagikan

* Berkah Ramadan Bagi Warga Mataram (1)

Ramadan membawa berkah bagi semua kalangan. Baik muslim maupun non muslim, sama-sama bisa tersenyum. Seperti para penjual kembang yang meraup banyak untung. Penjualan meningkat, usaha pun bergeliat.

PUKULA�09.30 Wita, cuaca cerah. Pemakaman Umum Mataram di Lingkungan Karang Madain tidak terlalu ramai. Di hari pertama puasa, tradisi nyekar mulai berkurang. Tapi saat Lombok Post berhenti di depan pintu gerbang, anak-anak penjual bunga menyerbu. Mereka menawarkan kembang warna warni, dibungkus dengan kantong plastik putih.

a�?Bunga pak, bungaa��tiga lima ribu,a�? kata I Putu Eka Liana, bocah SD yang berjualan kembang bersama teman-temannya.

Mereka adalah para penjual kembang musiman. Karena banyak permintaan, anak-anak ini ikut berjualan untuk mendapatkan sekedar uang belanja.

Di salah satu pojok tembok pemakaman, I Nengah Rusni, nenek penjual kembang duduk sambil memilah kembang yang akan dijual. Wangi khas kembang rampe ini menusuk penciuman.

Dipilahnya kembang-kembang itu, lalu dikemas sederhana menggunakan kantong plastik. Ada bunga gumitir, bunga tabur dan panda harum. Kembang warna warni dengan wangi khas inilah yang biasa digunakan para peziarah saat nyekar ke makam keluarganya.

Meski bukan muslim, namun Nengah Rusni juga bisa merasakan kemeriahan suasana Ramadan. Menjelang puasa ramadan dan hari raya Idul Fitri ia selalu sumringah. Karena jualannya bisa laku keras. Selain itu, melalui kembang yang dijualnya, ia membantu para peziarah melakukan tradisi nyekar atau ziarah makam.

a�?Jualannya meningkat, tapi hitung-hitung cukup buat makan keluarga,a�? kata nenek asal Lingkungan Karang Monjok, Kelurahan Mataram Timur ini.

Nengah Rusni bukan penjual musiman, ia adalah penjual kembang tetap di kawasan itu. Setiap hari ia berjualan kembang dibantu sang suami yang juga sudah tua.

Selain kembang, ia juga menjual air. a�?Dari jualan inilah kita bisa hidup, suami sudah tidak kuat bekerja,a�? ujarnya.

Kebahagiaan Rusni berlipat ganda saat Ramadan tiba. Sebab dibandingkan hari-hari biasa, penjualan kembang meningkat tajam. Jika pada hari biasa hanya mendapat Rp 25 ribu, kini rata-rata ia bisa berjualan hingga Rp 50 ribu lebih per harinya. Baginya jumlah itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Satu hal yang disyukuri I Nengah Rusni adalah keharmonisan hubungan antar umat beragama di Mataram. Selama ini ia bisa hidup tenang, bekerja mencari makan tanpa saling menganggu. Tidak pernah ada yang saling menyalahkan.

Nenek ini berharap agar kerukunan terus terjaga.a�?Kita sama-sama cari makan, harus saling hormati,a�? katanya. (bersambung/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *