Ketik disini

Praya

Sempat Dibakar, Hingga Jadi Markas

Bagikan

Konon Masjid Jamia�� yang didirikan Guru Bangkol merupakan eks markas pada abad 18.

***

KEBERADAAN Masjid Jamia�� tidak lepas dari nama Guru Bangkol. Karena memang, dia adalah pendiri masjid bersejarah di Gumi Tatas Tuhu Trasna itu. Nama lain Guru Bangkol adalah Lalu Ismail.

Dia merupakan warga Kelurahan Prapen. Ia adalah salah satu guru agama, sekaligus sesepuh masyarakat pulau Lombok, tokoh adat dan pemimpin pada masa itu.

Guru Bangkol adalah salah satu pengamal tarekad kadriah wanasabandiah. Wajar ia memberikan nama masjid di pusat Kota Praya itu dengan sebutan Jamia��. Kala itu, masjid Jamia�� didirikan atas partisipasi masyarakat melalui dorongan Guru Bangkol.

Pada masa itu juga, masjid Jamia�� sempat dibakar pasukan perang dari musuh. Peperangan akhirnya pun tidak bisa hindari kala itu. Umat Islam menggunakan berbagai strategis untuk memenangkan peperangan. Salah satunya adalah, menggunakan abu Quran yang dibakar musuh.

Mereka ditakut-takuti, jika mendekat atau menginjak abu tersebut, maka akan mendapatkan mala petaka kehidupan seperti, menderita sakit tenggorokan, demam dan sebaginya.

Musuh pun pun percaya, hingga keajaiban benar-benar terjadi. Di mana, mereka terserang berbagai macam penyakit.

Guru Bangkol pun berinisiatif mengajak warga bersama-sama bergotong-royong membangun kembali masjid yang dibakar. Hingga, akhirnya berdiri kokoh dan dapat digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam.

Untuk menghindari kekacuan kedua kalinya, mereka pun sepakat secara bergiliran menjaga masjid dari serangan pasukan musuh.

Kala itu, Masjid Jamia�� merupakan satu-satunya rumah ibadah yang berdiri di Praya. Sehingga, umat Islam merelakan nyawa, harta dan benda menjaga aset ini.

Setelah dipastikan Masjid Jamia�� kokoh, Guru Bangkol pun meminta kepada kaum perempuan dan kalangan anak-anak agar tetap berada di dalam masjid.

Karena pada masa itu, situasi lagi mencekam. Di mana, pertempuran kembali terjadi. Atas dasar itu, Guru Bangkol menetapkan Masjid Jamia�� digunakan sebagai markas perlindungan umat Islam. Sementara, kaum laki-laki dewasa tetap menjaga masjid dan sebagian ikut bertempur.(Bersambung/Dedi Shopan Shopian)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *