Ketik disini

Headline Opini

Mewaspadai Hipertensi Dalam Kehamilan

Bagikan

Oleh : dr. Asep Nasrullah

WORLD Health Organitation (WHO) memperkirakan di seluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7 persen, dimana hanya 7,2 persen ibu yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus yang minum obat hipertensi. Prevalensi hipertensi pada kehamilan di negara maju bervariasi antara 10-20 persen serta merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas bagi ibu dan janin (Umans, 2007). Saat ini mortalitas maternal akibat hipertensi mencapai 16% disamping penyebab lain seperti sepsis, perdarahan, maupun abortus (Khan et al., 2006). Sampai sekarang penyakit hipertensi dalam kehamilan (HDK) masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat dipecahkan dengan tuntas. HDK adalah salah satu dari trias penyebab utama kematian ibu di samping perdarahan dan infeksi. Penanganan kasus HDK atau Gestosis atau EPH Gestosis masih tetap merupakan kontroversi karena sampai saat ini etiologi dan patofisiologi penyakit HDK masih belum jelas diketahui, sehingga penanganan yang definitif belum mungkin dijalankan dengan sempurna. Hanya terninasi kehamilan yang dapat dianggap sebagai terapi yang definitif.

Menurut Zweifel dalam Manuaba (2007) mengungkapkan bahwa cukup banyak teori tentang bagaimana hipertensi pada kehamilan dapat terjadi sehingga disebut sebagai a�?disease of theorya�?. Beberapa landasan teori yang dikemukakan yaitu teori genetik, teori immunologis, teori iskemia region uteroplasenter, teori kerusakan endotel pembuluh darah, teori radikal bebas, teori trombosit dan teori diet. Ditinjau dari teori yang telah disebutkan di atas, maka teori diet merupakan salah satu faktor risiko yang dapat dikendalikan dengan melakukan upaya pencegahan oleh ibu hamil. Tahapan timbulnya preeklampsia dibagi menjadi 2 tahap meliputi plasentasi abnormal dan sindrom maternal (Kaplan, 2010). Klasifikasi hipertensi pada kehamilan yang banyak dipakai menurut The National High Blood Pressure Education Program Working Group on Hypertension in Pregnancy (NHBPEP) adalah tekanan darah a�? 140/90 mmHg (Brown, 2002).

Ada beberapa jenis hipertensi dalam kehamilan, antara lain hipertensi kronik, hipertensi gestasional, preeklamsia ringan dan berat dan eklamsia. Jika hipertensi terjadi sebelum hamil atau lima bulan sebelum hamil, maka kondisi tersebut disebut hipertensi kronik. Hipertensi gestasional terjadi ketika tekanan darah meningkat setelah lima bulan kehamilan, tidak ada kandungan protein pada urine atau tanda-tanda rusaknya organ. Pre eklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi dengan tekanan darah 140/90 mmHg disertai proteinuria dan/atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan neurologik) dan/atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklampsia.

Hipertensi yang tidak ditangani dengan baik bisaberdampak negatif bagi bayi dan ibu. Berikut ini kondisi yang dapat terjadi pada pada bayi : Aliran darah ke plasenta berkurang, Kondisi ini bisa membuat bayi dalam kandungan tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi. Pertumbuhan janin terhambat, Janin yang tidak cukup menerima oksigen dan nutrisi bisa menghambat proses pertumbuhan janin, bayi lahir dengan berat badan yang rendah, atau lahir secara prematur. Abrupsio plasenta. Ini adalah kondisi ketika plasenta terpisah dari dinding dalam rahim sebelum proses persalinan.(BCRCP Obstetric Guidelines 11 Hypertension in Pregnancy, 2006). Adapun yang dapat terjadi pada ibu hamil adalah koagulasi intravaskular diseminata (KID), perdarahan otak, gangguan fungsi hati, dan gagal ginjal akut.. Perubahan hemodinamik, anatomi fisiologi ginjal dan adaptasi tubuh yang terjadi selama kehamilan menyebabkan deteksi dini tidak mudah dilaksanakan (McCarthy & Kenny, 2009; August, 2009).

Menurut Blum dalam Notoatmojo (2007) bahwa status kesehatan individu/masyarakat sangat dipengaruhi oleh lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan herediter/keturunan. Berdasarkan teori tersebut dapat dikatakan bahwa status kesehatan ibu hamil dapat dipengaruhi oleh perilaku ibu dalam memelihara kesehatan selama hamil. Dalam program perawatan kehamilan (antenatal care) terdapat beberapa perilaku sehat yang dianjurkan, Perilaku sehat tersebut antara lain pemeriksaan kehamilan secara teratur, makanan yang bergizi, tidak melakukan aktivitas fisik yang berlebihan dan senam hamil. Dengan kesadaran dari ibu hamil serta kerjasama yang baik antara masyarakat, petugas kesehatan dan pemerintah, maka angka kejadian hipertensi dalam kehamilan serta resiko yang diakibatkannya dapat di kurangi secara signifikan. Sehingga di harapkan ibu hamil dapat melakukan persalinan secara normal. (*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *