Ketik disini

Headline Metropolis

Sosialita Punya Cerita

Bagikan

Sosialita tak hanya milik wanita kaya Jakarta atau kota besar lainnya. Namun, di Mataram, kata sosialita mulai populer. Mau tau? Ini cerita sosialita Mataram.

***

SOSIALITA memang memiliki arti luas. Namun, belakangan, arti sosialita semakin dipersempit oleh sebagian kalangan. Sosialita dianggap hanya milik wanita-wanita kaya raya di kota besar. Mereka berkumpul, bersosialisasi dan membuat acara-acara nan glamor.

Itu memang ada benarnya jika melihat bagiamana kehidupan sosialita Jakarta. Kalau tidak percaya, baca saja ini.

Ya, dikutip dari Harian Warta Kota, setahun lalu sebuah kelompok sosialita Jakarta menghebohkan Indonesia saat menggelar arisan. Meski model kocokan arisannya sama saja dengan gaya di kampung, nilai dan tempat ngocok sosialita Jakarta ini beda.

Mereka melakukannya di dalam pesawat jet pribadi. Lalu berapa nilai uang kocokan arisannya? Rp 1 miliar. Karena nilai kocokan uang arisannya Rp 1 miliar, maka alat pengocoknya pun menyesuaikan. Konon, wanita-wanita jelita itu memakai gelas wine ukuran besar.

Kocokan arisan itu dilakukan di atas sebuah meja yang memanjang di dalam kabin berkapasitas 13 orang saja. Peserta arisan duduk santai di kursi atau duduk di sekitar meja. Selama kocokan arisan, layanan wine dari pramugara atau pramugari tak berhenti.

Kocokan Rp 1 miliar kali ini jadi milik istri seorang pengusaha besar. Sebagian uang itu dipakai untuk bersenang-senang. Sebagian lagi konon disumbangkan.

Cerita itu tentu berbeda dengan cerita Sosialita Mataram. Sosialita Mataram tidak melakukan kegiatan semewah itu. Tidak akan melakukan arisan dengan nilai sebesar itu. Tapi, tetap saja mereka punya kelas berbeda dengan kelompok masyarakat pada umumnya.

Yeyen Thoriq, salah satu sosialita Mataram menilai, status sosialita hanya sebuah definisi sempit, bagi mereka yang memang terkenal suka bersosialisasi atau berteman dengan orang lain.

a�?Bukan masalah tentang status sosial seseorang,a�? tegasnya pada Lombok Post.

Menurut istri dari dr Agus Thoriq, SpOG ini, sosialita adalah penilaian orang. Bukan lantaran dirinya sendiri yang menyebut sebagai wanita sosialita. Serta bagaimana orang lain memandang sosialitas dari sudut mana.

a�?Bagaimana sudut pandang cara melihatnya saja, karena masing-masing orang penilaiannya beda-beda,a�? terang Yeyen ditemui di di Permata Salon, Kamis (18/6) lalu.

Bagaimana pun juga, kehidupan mewah para sosialita tentunya sering menimbulkan tuntutan untuk selalu berada di lingkungan yang sepadan dengan mereka. Agar gaya hidup mereka tersebut dapat terpenuhi dengan baik.

Kebanyakan para sosialita juga sering membatasi pergaulannya dengan kalangan tertentu, dan sesuai dengan status ekonominya saja. Tetapi, Yeyen justru mengaku tidak pernah memilih-milih teman.

Ia bergaul dengan siapa dia. Yeyen justru bisa dengan senang hati berteman dengan siapa pun yang memang berkarakter baik dan bertanggung jawab. a�?Tidak ada batasan bergaul dengan siapa saja, kalau sama-sama merasa cocok kenapa tidak,a�? katanya.

Tidak bisa dipungkiri, jika kehidupan glamor dan aksi hura-hura juga sebuah kata yang sering menggambarkan kaum sosialita. Mereka dengan kekayaannya kerap menghambur-hamburkan uang dan berpesta untuk menunjukkan seberapa banyak uang mereka.

Bagi Yeyen Thoriq, hal itu tidak selamanya benar. Dia mengatakan, para sosialita tidak harus selalu hura-hura. Akan tetapi ada juga melakukan bakti sosial, memberikan sumbangan pada anak yatim piatu, panti asuhan, panti jompo, Sekolah Luar Biasa, serta membantu korban bencana alam.

a�?Kami bukan tipe yang hobi nongkrong tidak jelas, kami juga ingin bermanfaat bagi sesama,a�? terang Yeyen.

a�?Bahkan kami telah merencanakan akan berbuka puasa bersama 100 anak yatim piatu di RSIA Permata Hati,a�? tambahnya.

Ibu muda yang tergabung dalam Sosialita of Lombok (SOL) ini menuturkan, sangat penting bersosialisasi. Karena disana bisa saling memahami karakter orang lain. Saling memberikan perhatian baik suka maupun duka.

a�?Teman ulang tahun kami rayakan bersama, teman ada yang sakit kami tetap kasih support, ada yang berduka kami jambangi,a�? papar Owner Permata Salon ini.

Sosialita juga identik dengan mengikuti arisan dengan jumlah cukup banyak dan nominal arisan pun terbilang sanagat besar. Yeyen menuturkan, sosialita tidak mesti ikut arisan di lima tempat.

Diakui, dirinya memiliki tiga grup arisan. Seperti arisan antara istri Ikatan Dokter Indonesia (IIDI) dimana sang suami yang berprofesi sebagai dokter kandungan, kemudian arisan antara SOL, dan arisan pengajian. Dia tidak mengikuti terlalu banyak arisan seperti kebanyakan sosialita.

Namun, menurut Yeyen, sosialita yang mengikuti banyak arisan sah-sah saja bila kemampuan finansialnya mencukupi. a�?Terserah mereka saja mau ikut arisan dengan jumlah yang banyak,a�? kata Yeyen.

Seperti yang diketahui bersama, sosialita selalu identik dengan koleksi-koleksi khusus barang mewah. Seperti tas atau sepatu dengan merek tertentu. Tetapi, bagi Yeyen yang tergabung dalam SOL tidak ada koleksi khusus. Walau menurutnya sudah pasti setiap wanita menyukai hal-hal tersebut. a�?Koleksi khusus tidak ada, kami sewajarnya saja,a�? imbuhnya.

Menilik cerita dress code sosialita di Mataram, pada kelompok SOL, dress code dan sesi foto menjadi salah satu hal penting yang harus dipatuhi setiap anggotanya. Seperti beberapa waktu lalu, SOL menggunakan dress code ala Yunani “Greek Party” Ini dilakukan sebagai seru-seruan antar anggota saat merayakan ulang tahun salah satu anggota yang dirayakan bersama.

a�?Kebetulan ada lima anggota hari ualang tahunnya bersamaan, ya kami buat dress code seperti itu,a�? paparnya.

Sisi lain, Yeyen menjelaskan tidak selamanya sosialita memiliki dampak negatif. SOL sendiri, diakuinya sebagai ajang bersilaturahmi, karena kegiatan atau rutinitas menuntut mereka tidak memiliki waktu yang banyak untuk berkumpul.

Mengapa? Karena bisa dijadikan tempat untuk berbisnis. Terkadang antara anggota bila ada kecocokan dalam bisnis, bisa saling kerja sama atau pun menawarkan produk-produk baru yang dimiliki.

Tidak hanya itu, tergabung dalam grup sosialita, bisa saling berbagi tips. Baik produk atau perawatan kecantikan terbaru. Bila menimbulkan efek negatif, Yeyen melanjutkan, tidak mungkin SOL bertahan dari tahun 2002 hingga saat ini.

a�?Karena Allah SWT mengingatkan kita untuk selalu menjaga hubungan Habbluminallah dan Habluminannas, maka tak salah jika SOL sebagai ajang silaturahmi,a�? tandasnya. (Lestari Dewi/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *