Ketik disini

Metropolis

Tinggal Pilih, Foya-Foya atau Beramal

Bagikan

Mendengar kata sosialita, yang terlintas adalah orang dengan golongan kelas atas dan gaya hidup serba mewah. Mereka juga biasanya hidup foya-foya. Benarkah?

***

SOSIALITA, terutama di kalangan perempuan, sangat identik dengan arisan yang nilainya bisa mencapai ratusan juta. Mereka juga memakai barang bermerk yang harganya selangit. Mereka mempercantik diri melalui perawatan dengan biaya tinggi. Satu lagi, sosialita selalu update dengan mode.

Namun, sosialita dalam arti sebenarnya adalah seseorang yang menghabiskan sebagian waktunya untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Sopan santun tetapi tidak berlebihan. Mereka bersikap ramah tetapi disegani.

Mereka tahu bagaimana caranya agar dapat menarik perhatian tanpa cara-cara yang berlebihan, juga merupakan ciri dari sosialita.a�?Pergeseran makna sosialita karena banyak sosialita yang hanya menonjolkan sisi negatifnya saja,a�? kata Selva, dosen sekaligus pengusaha di Mataram.

Menurut wanita yang akrab disapa Eva ini, kehidupan glamor, kelas atas, dan hanya untuk kalangan terbatas banyak diperlihatkan para sosialita. Gaya hidup yang dijalani hanya sebatas mendapatkan pengakuan dari orang lain.

a�?Selalu menganggap segala sesuatunya itu kurang. Kalau sudah begitu, citra diri yang dibangun akan terasa semu,a�? ujar wanita lulusan S2 UGM Jogja, jurusan Economic Management Science ini.

Dari kehidupan sosialita yang pernah dia ikuti, Eva mencontohkan kegiatan arisan di kalangan sosialita. Arisan di kalangan sosialita menurutnya sangat tidak umum. Seringkali jadi tempat pamer barang mahal, hingga membahas operasi yang dilakukan untuk mempercantik diri. a�?Bahkan yang paling ekstrem, hadiahnya bisa cewek atau cowok bayaran,a�? terang wanita pebisnis ini.

Ada baiknya, kata Eva, arisan yang dilakukan itu bernilai positif dan sosial sehingga mampu membantu orang-orang sekitar. Arisan di kelompok sosialitanya, banyak diisi dengan kegiatan liburan dan sekaligus bakti sosial.

Arisan sambil liburan dengan keluarga atau teman sosialita dirantau dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan berbagi kisah suka dan duka selama perantauan. a�?Biar tidak bosan, jadi bisa sambil jalan-jalan,a�? ujar dosen salah satu universitas swasta di Mataram ini.

Adapun kegiatan sosialnya, Eva mengaku, kelompok sosialitanya sering menyumbang di beberapa panti asuhan. Terkadang, dari pemenang arisan di kelompoknya, menyisihkan sedikit uang yang didapat untuk bisa disumbangkan. “Pada saat ramadan ini, teman-teman rutin mengadakan bakti sosial,” ujarnya.

Sosok sosialita, lanjut dia, seharusnya memiliki sesuatu yang dibanggakan dan mempunyai penghargaan atas dirinya. Memiliki nilai kemanusiaan dan kejujuran. Bukan sesuatu yang palsu. a�?Sosialita harus memiliki kepercayaan diri, menggali dan mempelajari kelebihan diri dan tidak menggunakan topeng di balik sesuatu yang semu,a�? tegasnya.

a�?Sosialita, terutama perempuan, harus menjadi inspirasi, memiliki kekuatan dan karakter yang membanggakan, serta berkontribusi terhadap masyarakatnya,a�? tambah wanita kelahiran Mataram, 28 tahun lalu.

Selanjutnya Eva menyatakan, tinggal kebijaksanaan masing-masing saja mau mendefinisikan dan didefinisikan sebagai sosialita yang mana. Tapi yang jelas, selama sosialita berkecimpung dalam kegiatan sosial dan diikuti dengan gaya hidup mewah, kalau mampu, kenapa tidak.

Sebaliknya, kalau mengadakan kegiatan sosial demi mencari simpati, ketenaran, dan diikuti dengan gaya hidup yang sok bermewah-mewahan, padahal tidak mampu, tentu akan menyiksa diri. a�?Intinya sosialita sah-sah saja, selama diiringi dengan otak yang smart dan jiwa yang bagus. Yaitu dekat dengan tuhan. Jadi segalanya bisa berimbang,a�? pungkasnya sambil tersenyum.(Wahidi Akbar Sirinawa*/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *