Ketik disini

Praya

Mengenang Masa Lalu, Membuat Sejarah Kekinian

Bagikan

Sekitar tahun 1926 keturunan Guru Bangkol, HL Abdul Azim yang menuntut ilmu di Mekkah pulang kampung dan membesarkan masjid Jamia��.

***

JIKA dibuat dalam bentuk buku, perjalanan berdirinya masjid Jamia�� bisa menghabiskan ratusan lembaran kertas. Karena, banyak cerita masa lalu yang belum terungkap kepermukaan. Kendati demikian, intisari dari sejarah masjid yang berdiri kokoh di pusat Kota Praya itu, akan dikemukakan dalam tulisan ini.

Ketua yayasan masjid Jamia�� yang merupakan keturunan dari Guru Bangkol, HL Moh Syamsir menceritakannya secara detail. Dia mengemukakan, kemajuan masjid Jamia�� mulai tersentuh ketika Abdul Azim pulang kampung bersama Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari menuntut ilmu di Mekkah.

Kedatangannya ke Praya kala itu, disambut gembira keturunan Guru Bangkol lainnya, hingga dia pun didaulat menjadi imam masjid. Di tangannya, masjid diremajakan hingga menjadi embrio kemajuan Islam dan pengembangan Nahdatul Wathan (NW) kala itu. Seiring perkembangan waktu, masjid Jamia�� dijadikan pusat syiar Islam. Tidak saja bagi mereka di wilayah Praya, tapi di beberapa kabupaten/kota di Lombok kala itu.

a�?Rehab pertama kali dilakukan sejak tahun 1972 atau saat Lalu Sri Gede menjadi bupati. Namun, pada atapnya saja. Bukan rehab besar-besaran,a�? kata Syamsir.

Konon, ujar Syamsir selain atap masjid dari genteng, terdapat pula menara masjid. Namun, karena alasan keselamatan dan keamanan pengunjung menara itu pun diruntuhkan.

a�?Kebetulan beliau (Sri Gede) diangkat sebagai ketua yayasan masjid Jamia�� kala itu. Alhamdulillah, ada perubahan signifikan,a�? ujarnya.

Pada tahun 1980, lanjut mantan pimpinan DPRD NTB tersebut ketua yayasan masjid Jamia�� berpindah tangan ke H Masa��ud. Kemudian kepada dirinya pada tahun 2004 hingga sekarang. Ditangan Syamsir, masjid dengan luas bangunan 30×40 meter itu berkembang pesat. Kini aset tanah yang dimiliki masjid Jamia�� tersebut mencapai 27 hektare (ha).

Dengan keberadaan aset tersebut, Syamsir membentuk panitia pembangunan masjid yang dipimpin Ruslan Turmuzi. Detail master plan telah disiapkan, termasuk desain bangunan yang tetap mempertahakan nilai historika masa lalu. Khususnya, atas bangunan yang menyerupai masjid Demak.

Bupati Loteng, HM Suhaili FT pun mendukung program yang dilaksanakan pengurus yayasan masjid Jamia��. Wujudnya yaitu, pemerintah siap memberikan hibah di atas bangunan SDN 22 Praya. Selanjutnya, SDN 22 Praya itu, akan dipindahkan ke SMAN 2 Praya. Lalu, SMAN itu sendiri dipindah kembali ke lokasi bangunan baru di Tampar-Ampar.

Bantuan yang diberikan pemerintah itu, menurut Syamsir akan menjadi catatan sejarah generasi berikutnya.

a�?Insya Allah, kita akan siapkan anggaran sebesar Rp 15 miliar untuk rebah besar-besaran masjid Jamia��. Kita berharap, masjid Jamia�� menjadi icon sejarah penyebaran Islam di Praya dan sekitarnya,a�? ujar Syamsir.

Dia pun merencanakan bangunan induk nantinya selus 33×33 meter dan tinggi menara 33 meter. a�?Angka 33 itu memiliki makna jumlah kita berzikir. Kalau ditambah, maka berjumlah 99 sesuai dengan asmaul husna. Semoga, amal ibadah kita diterima Sang Maha Pencipta,a�? tambahnya.(Dedi Shopan Shopian)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *