Ketik disini

Metropolis

Nikmati Randol Beramal Rp 500 Percup

Bagikan

* Ini Dia Kudapan Asyik untuk Berbuka (1)

Buka puasa, bosan dengan cendol yang gitu-gitu aja? Ini ada terobosan baru dari Radja Cendol (Randol) Panglima Lombok. Es cendol ini tidak menggunakan santan, tapi susu full cream berkalsium tinggi. Cendolnya sendiri terbuat dari cincau hijau dengan ekstrak daun suji alami. Tentunya ini membuat minuman tersebut lebih sehat dan lezat.

INDONESIAA´┐Żkaya akan kuliner minuman. Misalnya bajigur, sekoteng, es teler hingga es cendol. Namun, banyaknya jenis minuman luar negeri membuat keberadaan minuman tradisional Indonesia makin tergeser.

Karenanya minuman khas Indonesia ini harus dilestarikan, sehingga tetap dikenal generasi penerus. Apalagi kualitas minuman tradisional tidak kalah bersaing dengan minuman dari luar negeri. Bahkan dari sisi gizi dan kesehatannya, minuman tradisional jauh lebih baik.

Inilah yang menjadi dasar dirintisnya kreasi es cendol unik milik Raja Cendol (Randol). Berpusat di Jakarta, Franchise tersebut mengusung konsep perpaduan tradisional dan modern. Pertama kali didirikan oleh Danu Sofwan pada 23 Juni 2014 lalu, Randol ini memiliki banyak mitra yang tersebar di seluruh tanah air, termasuk Kota Mataram.

Tiga bulan yang lalu, berawal dari ketertarikannya pada prinsip pemilik asli Randol, Reni Septiani bersama suaminya, Bogie mengajukan niat bermitra untuk wilayah Lombok. Setelah mendapat persetujuan mitra usaha, mereka mulai membuka usaha di Jalan Catur Warga dengan nama stan Panglima Lombok.

“Kita juga berjualan saat car free day di Udayana,” ujar wanita yang akrab disapa Tia tersebut.

Ramadan kali ini menjadi berkah tersendiri bagi Tia dan suaminya. Cendol merupakan salah satu menu kudapan yang banyak diburu untuk berbuka. Menurutnya, selama ini belum ada inovasi varian minuman di Lombok, khususnya Mataram. Karenanya ia berkesempatan mempromosikan minuman cendol uniknya kepada masyarakat luas.

“Selama ini kita promosinya via sosial media (sosmed), seperti di facebook, instagram, twitter dan BBM,” jelasnya.

Sesuai dengan namanya, Randol menyajikan minuman dengan berbahan dasarkan cendol, Ada dua jenis varian yang ditawarkan. Varian yang menggunakan campuran durian dan non durian. Randol juga menggunakan berbagai toping pelengkap, seperti keju, oreo, silver queen, toblerone, brownies, alpukat, dan astor. Nama tiap varian juga unik, misalnya kece parah (keju cendol pake duren aah) atau kecantol brondong (keju campur cendol brownies enak dong). Saat ini ada sembilan varian rasa untuk non durian dan lima varian rasa untuk campuran durian. Setiap varian rasa tersebut banyak digemari oleh berbagai macam kalangan. Mulai dari anak-anak hingga orang tua.

“Rasanya unik karena Randol tidak pakai santan tapi susu. Keunikan rasa campuran cendol dan susu plus toping membuat pembeli ketagihan,”kata perempuan satu anak tersebut.

Tia mengaku, setiap varian dibandrol dengan harga berbeda. Harga mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per cup. Dalam sehari, Tia dapat menjual hingga 60 lebih cup Randol. Meski hanya membukamenggunakan stan kecil, berjualan Randol dapat menghasilkan keuntungan besar. Menurutnya, per hari ia mampu meraup keuntungan sebesar Rp1,2 juta.

Untuk berjualan Randol, Tia merogoh modal sebesar satu juta rupiah. Modal tersebut digunakan untuk membeli bahan baku. Bahan baku tersebut bukan berasal dari Lombok. Setiap dua kali seminggu ia memesan cendol dan gula jawa langsung dari Jakarta.

“Kita pesan langsung dari pusatnya, agar cita rasa tetap terjaga,” ujar Tia.

Selama Ramadan, Tia mengadakan program beramal melalui Randol. Ia mengajak para pembeli untuk beramal melalui pembelian cup Randol. Setiap cup Randol yang dibeli akan disisihkan sebanyak Rp 500 untuk kaum duafa dan yang membutuhkan. Baginya, berjualan di bulan Ramadan bukan hanya sekedar mencari keuntungan tapi juga tempat mencari pahala.

“Ini kan bulan Ramadan, sekalian kita berbagi,” imbuhnya.

Ke depannya, ia dan suami ingin memperluas jaringan usaha di Lombok. Ia berharap agar bisa menjalin kerjasama dengan pengusaha-pengusaha besar di Lombok.

“Saya berharap bisa punya tempat jualan sendiri yang tetap,” tandas perempuan 25 tahun tersebut. (*/r4)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *