Ketik disini

Praya

Diperkirakan Berdiri Tahun 1886, Simbol Kebesaran Islam

Bagikan

* Menelusuri Jejak Historis Masjid Raden Nune Umas Bonjeruk (1)

Raden Nune Umas adalah nama salah satu masjid di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat. Masjid itu diperkirakan berdiri sejak 1886 dan menjadi simbol kebesaran Islam kala itu.

DIBUTUHKAN waktu sekitar sepuluh menit dari perempatan Desa Puyung untuk mencapai Masjid Raden Nune Umas. Jika diukur, jaraknya sekitar 6 kilometer. Sementara, dari pertigaan Desa Ubung, jaraknya lebih jauh lagi, sekitar 10 kilometer.

Kondisi jalan yang mulus, membuat langkah menuju masjid bersejarah tersebut lebih singkat. Dari kejauhan, nampak tidak ada simbol perjalanan historis yang ditinggalkan. Namun, jika didalami ada beberapa peninggalan sejarah yang masih tersimpan rapi. Sejarah masjid itu pun menjadi buah bibir masyarakat. Sehingga, mereka berupaya memelihara dan menjaganya.

Di salah satu sisi tembok masjid terdapat tulisan “Rn Umas”. TAK ada yang bisa memastikan kapan tepatnya masjid ini mulai dibangun. Namun, salah seorang keturunan Raden Nune Umas yang juga pengurus masjid, HL Zainudin memperkirakan masjid itu dibangun bersamaan dengan pembangunan kantor onderdistrik atau sejenis kantor desa sekaligus kecamatan, sekitar tahun 1886 silam. Namun, masjid itu mulai menjadi perbincangan masyarakat pada tahun 1921 silam.

Zainudin menceritakan panjang lebar perjalanan historis, sosiologis, dan filosofis masjid yang berdiri di perempatan jalan Desa Bonjeruk atau tepatnya di samping kantor Desa Bonjeruk tersebut. Sejak berdirinya sampai sekarang, masjid itu tak pernah berubah nama.

Kantor onderdistrik Bonjeruk kala itu membawahi Praya, Kopang, dan Jonggat. Pejabat pertamanya adalah Raden Nune Umas. Dia dipercaya memegang tampuk kepemimpinan onderdistrik untuk wilayah Jonggat utara dan selatan. Pusat pemerintahan desa dan kecamatan di kendalikan di Desa Bonjeruk. Pada 1972, barulah kantor kecamatan dipindah ke Desa Ubung.

Raden Nune Umas merupakan keturunan dari Datu Jonggat dan Raden Gusti. Sebagai pria yang bergelut di dunia birokrasi kala itu, Raden Nune Umas menyempatkan waktu memikirkan syiar Islam. Dia mengajak masyarakat desa untuk mengenal dan menganut ajaran Islam.

Simbolnya adalah dibangunnya masjid yang konon terbuat dari tumpukan batu bata yang tersusun rapi dan dieratkan menggunakan tanah liat. Atapnya terbuat dari ilalang. Pintunya dari kayu dan ukurannya pun cukup untuk beberapa puluh orang.

Keberadaan masjid yang dibangun Raden Nune Umas sempat menjadi perhatian penjajah Jepang dan Hindia-Belanda kala itu.

Seiring perkembangan waktu, bagian atap masjid sempat diubah menggunakan genteng yang konon diambil di Ampenan, Kota Mataram dengan berjalan kaki. a�?Karena memang pada masa lalu tidak ada kendaraan. Namun, semangat Raden Nune Umas menyejehterakan masjid, demi kemajuan Islam kala itu luar biasa,a�? ujar Zainudin yang juga imam masjid Raden Nune Umas.

Bangunan masjid kala itu, ungkap Zainudin cukup tinggi dari jalan raya. Tidak ada pengeras suara untuk memanggil masyarakat guna melaksanakan salat. Tapi, menggunakan bedug yang terbuat dari kulit sapi betina, yang sampai saat ini bisa dijumpai di masjid tersebut. a�?Beduk inilah saksi sejarah masjid Raden Nune Umas,a�? ujarnya. (bersambung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *