Ketik disini

Headline Metropolis

Lombok Kekeringan Akut

Bagikan

* Setengah Penghasilan Habis Beli Air

Krisis air bersih pada musim kekeringan tahun ini, diprediksi semakin akut. Meski waktu berlangsungnya kekeringan hanya antara lima hingga enam bulan, namun defisit air yang terjadi semakin parah.

***

KEKERINGANA�seolah menjadi takdir bagi Jerowaru. Daerah ujung selatan Lombok Timur ini setiap tahun mengalami kekeringan. Tidaa ada sumur warga yang bisa menyuplai air, bahkan hanya sekadar untuk keperluan sehari-hari sekalipun. Saat musim hujan, warga biasanya menampung air yang turun dari langit. Mereka memasang terpal-terpal di sepanjang halaman rumah. Air tampungan lalu dimasukkan dalam bak-bak yang umumnya selalu ada di tiap rumah warga. Tentunya setelah terlebih dahulu disaring dengan berbagai cara.

a�?Mau gali sedalam apapun tak ketemu air,a�? kata Amir, warga Lendang Terak saat ditemui Lombok Post, pekan lalu.

Kalaupun ada warga yang sumurnya masih berisi air, rasanya sangatlah tidak enak. Ada yang payau, banyak juga yang sedikit pahit. Paling banter air itu digunakan untuk minuman ternak atau pengairan sawah. Kondisi seperti ini sudah terjadi bertahun-tahun. Penderitaan berat ketika memasuki tengah tahun kedua.

Ia sendiri mengeluarkan uang hingga setengah juta rupiah hanya untuk membeli air dalam satu bulan. Ya, warga Jerowaru selama puluhan tahun seolah terus menjadi pesakitan. Mereka dipaksa bertahan di tengah hidup di tengah air yang terbatas. Air menjadi komoditas panas yang langka dan berujung mahal di sana.

Maun, seorang pengusaha pengantaran air mengatakan mata air di sumur Tutuk menjadi satu-satunya sumber air penyuplai kebutuhan warga Jerowaru Timur. Dia sudah belasan tahun menggeluti bisnis yang satu ini. Dia menjadi saksi sejarah kekeringan di Jerowaru. Setiap hari ia bisa bolak-balik hingga empat kali melakukan pengisian air dari satu-satunya sumber air yang digunakan sedikitnya enam desa sekitar itu. Ke pihak pengelola air di Desa Tutuk, ia harus membayar Rp 15.000. Setelah itu, harganya bisa naik berkali lipat. Kisarannya mulai dari Rp 100-200 ribu, tergantung jauh atau dekat jarak yang ditempuh.

a�?Kita hitung biaya bahan bakar dan onderdil,a�? jelasnya.

Mungkin terdengar klise, namun saat Lombok Post mencoba sejumlah rute yang ada di sana, wajar rasanya jika Maun meningkatkan harga berkali-kali lipat. Dibandingkan dengan Mataram saja, Jerowaru setidaknya dua kali lebih besar ukurannya. Itu masih diperparah dengan sejumlah jalan a�?nerakaa�? di sana. Dikatakan a�?nerakaa�? karena siapapun yang melewatinya pasti menghela nafas. Berkilo-kilo meter yang bisa ditemui hanya jalan bebatuan layaknya lintasan off road.

Ke sejumlah daerah terluar semisal Lendang Terak, Tabuan ,hingga Lendang Lombok, ia mematok harga hingga Rp 200 ribu rupiah. Dalam satu bulan, setiap rumah tangga bisa dikirimi air hingga dua, bahkan tiga kali.

a�?Coba saja hitung sendiri total yang harus dibayar warga,a�? katanya.

Rekannya yang lain menjual hingga Rp 350 ribu untuk daerah terluar seputaran Bloam. Itulah jumlah yang harus dibayarkan warga untuk satu tangki air penyambung kehidupan. Kendati hidup dalam keterbatasan, warga seolah tak memiliki pilihan lain. Kerap kali satu keluarga menyisihkan hingga 50 persen pendapatannya hanya untuk membeli air.

a�?Jauh lebih besar dari bayar listrik, uang makan, sampai biaya keseharian yang digabung jadi satu,a�? katanya.

Amaq Lukman, pria yang bertugas menunggui sumur mata air Tutuk itu mengatakan, setiap hari ada puluhan pengusaha air yang datang ke sana. Satu-satunya mata air yang bisa dikonsumsi itu menjadi ladang komersil bagi sejumlah pengusaha. Mereka memanfaatkan celah pasar yang ada untuk mengais rejeki.

a�?Mereka bayar Rp 15.000, itu untuk masjid dan desa,a�? jelasnya.

Sumur itu menjadi penyambung hidup warga. Bahkan saat musim kemarau memuncak, biasanya mulai September hingga akhir tahun, semakin banyak yang mengantre di sana. Ada mobil-mobil pemerintah yang ikut membantu menyalurkan air.

a�?Dari sosial NTB empat, dari kabupaten dua, ada juga swasta yang bantua�? katanya.

Saking banyaknya yang mengantre, biasanya sumur itu buka dari pagi hingga pukul 22.00 Wita. Saat ini di waktu baru memasuki musim kemarau sekalipun, sumur sealu ramai, setidaknya hingga pukul 19.00 Wita.

Camat Jerowaru L Ahmad Zulkifli mengatakan warganya seolah dipaksa hidup dalam berbagai keterbatasan. Sejumlah daerah yang paling parah mengalami krisis air adalah Pemongkong, Ekas, Ruang Rundun, Serewe dan Pengoros. Namun daerah lain bukan berarti terbebas dari itu, 15 desa di kecamatan terluar itu bisa dikatakan kering total saat seperti ini.

a�?Ini baru mulai, belum kering kalau kata warga,a�? jelasnya.

Selain mata air Tutuk, satu lagi mata air andalan warga ialah mata air Limbung di Sukarame. Sedikitnya ada empat desa yang menggantungkan hidup dari sumber air itu. Jika keduanya kering, ia mengatakan tak tahu harus berbuat apa. Itu belum termasuk sejumlah gili semisal Gili Re dan Gili Beleq yang hanya mengandalkan sistem tandon.

Pemerintah sebenernya tak tinggal diam. Zulkifli menjelaskan, yang terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim sudah beberapa kali meninjau lokasi bersama PDAM. Jika memungkinkan, mereka hendak memasang pompa air untuk mengalirkan air langsung ke desa-desa.

a�?Itu rencananya dia (BPBD-PDAM),a�? katanya.

Hal itu dibenarkan H Nafsi, Kepala BPBD Lotim. Secara spesifik ia mengatakan untuk solusi jangka pendek, droping air langsung ke desa-desa segera mulai dilakukan. Ia sebenarnya sudah merencanakan penyelesaian masalah jangka panjang. Pengadaan pompa air menjadi satu cara yang coba ditempuh. Namun demikian, karena belum mengetahui di mana titik-titik air berada, itu belum bisa dilakukan.

a�?Kalau kasi pompa sekarang, mau pasang di mana,a�? katanya balik bertanya.

Rencananya dilakukan penelitian terlebih dahulu, dimana sumber-sumber air tersimpan di sebuah desa. Saat itu sudah ditemukan, barulah dilakukan pemberian pompa.

a�?Supaya tak begini terus setiap tahun, pakai pompa saja,a�? jelasnya.

Tahun ini musim kemarau melanda sekurangnya delapan dari 20 kecamatan di Lotim. Di sana, masyarakat kesulitan memperoleh air untuk berbagai kegiatan mulai dari sekadar MCK, bahkan hingga bertani.

a�?Ini masih akan berlangsung sampai beberapa bulan ke depan,a�? jelasnya.

Kendati tahun ini kemarau berlangsung lebih singkat, dampaknya kemungkinan justru lebih besar. Itu karena dalam kemarau kali ini kondisinya benar-benar kering, dengan curah hujan yang hampir nol plus kelembaban yang sangat tinggi. Delapan daerah yang terserang adalah Sambelia, Terara, Suela, Sakra Barat, Sakra Timur, Sakra, Keruak dan Jerowaru. Bahkan kini mulai meluas lagi ke sebagian Pringgabaya.

a�?Di beberapa desa, drop air bersih sudah mulai kita lakukan,a�? katanya.

Di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) tercatat 60 desa di delapan kecamatan dilanda krisis air bersih. Mereka harus bersusah payah mencari air hingga ke sumur tetangga.Melewati perbukitan dan jurang. Parahnya lagi, bantuan air bersih yang disalurkan pemerintah tak berjalan maksimal lantaran minimnya kendaraan operasional.

Delapan kecamatan yang langganan krisis air bersih adalah Praya Barat, Praya Barat Daya, Pujut, Praya Timur dan Janapria, sebagian di Praya Tengah, sebagian Jonggat dan sebagian di Praya. Terparah di wilayah selatan Gumi Tatas Tuhu Trasna. Di mana, penderitaan krisis air bersih yang dialami warga setempat terjadi setiap tahunnya.

Pantauan Lombok Post, di Desa Serage, Kecamatan Praya Barat Daya, warga harus melewati jalan setapak untuk menuju sumur yang berada di bawah jembatan Dusun Beberik. Sumur itu merupakan satu-satunya sumber air yang dimiliki warga dusun setempat. Sumur lainnya kering kerontang.

Di dusun lain seperti Mapasang atau Batu Salan mengandalkan sumur bor. Itu pun jumlah debit airnya berkurang. Sehingga, warga dikenai jatah alias tidak boleh lebih dari aturan yang ditetapkan pemerintah desa setempat.

a�?Beginilah nasib kami setiap tahun di musim kemarau,a�? ujar ibu-ibu yang sedang mengantre untuk menggayung air sumur di Dusun Beberik pada Lombok Post.

Plt. Kepala Desa Serage Asnawi menilai krisis air bersih itu terjadi di seluruh dusunnya. Medan yang jauh ditambah jalan yang rusak parah, membuat pemerintah tidak pernah menyalurkan air bersih ke desanya tersebut.

a�?Mau bagaimana lagi, apa yang ada kita manfaatkan saja,a�? ujarnya.

Yang paling memprihatinkan lagi, ungkap Asnawi, setiap pasangan suami istri yang ingin berhubungan, harus bergiliran mengambil air yang jaraknya beratus-ratus meter. Naik turun perbukitan, jalan yang berlubang dan bebatuan. Jika tidak, salah satu dari mereka enggen berhubungan suami istri lantaran tidak ada air untuk mandi besar (junub).

a�?Apalagi, berbenturan dengan bulan puasa. Kalau tidak mandi besar, maka keesokan harinya bisa saja mereka tidak berpuasa,a�? ungkapnya.

Kondisi itu juga, kata Asnawi, membuat sebagian warganya mengurungkan niatnya untuk menikah. Biasanya, mereka harus mencari bulan yang tepat, sesuai kebutuhan air yang mencukupi.

a�?Kalau musim kering seperti ini, jangankan mau berbuat, niat saja ingin berhubungan suami istri kita mikir-mikir dulu. Air yang ada yang penting cukup untuk memasak dan meminum,a�? ujar Asnawi sembari tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara untuk kebutuhan mencuci, tambah Asnawi masyarakat harus menuju sumber air. Begitu pula untuk mandi.

a�?Biasanya kami gunakan pakaian berminggu-minggu, mencucinya sekali sebulan saja. Warga kami tidak perlu mandi, cukup untuk wudu salat lima waktu dan taraweh,a�? ujarnya.

Salah satu pasangan suami istri yang nama dan identitasnya enggan dikorankan membenarkan pernyataan pemimpin desanya tersebut.

a�?Selama ini, suami saya saja yang mau berhubungan. Jadi, dia wajib mengambil air untuk mandi besar. Kalau tidak, saya ngak mau. Apalagi, sekarang puasa. Air harus diambil beberapa jam mau berhubungan di malam hari,a�? ujarnya sembari tersenyum dan menundukkan kepala.

Potret yang sama terjadi di Desa Montong Ajan dan Montong Sapah Praya Barat Daya. Begitu pula Desa Tumpak Praya Barat dan beberapa desa di wilayah Pujut. Bedanya, mereka menerima bantuan air bersih dari pemerintah.

a�?Kami kekurangan operasional angkutan tangki air. Untuk itu, mohon provinsi turun tangan membantu,a�? sambung Wakil Bupati HL Normal Suzana.

Orang nomor dua di Loteng itu menyerukan agar warga desa yang mengalami krisis air bersih untuk menggalakkan hemat penggunaan air.

a�?Cukup untuk kebutuhan hidur sehari-hari saja, jangan sampai dibuang untuk menyiram tanaman dan sebagainya,a�? seru wabup.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Lalu Nurpuri mengaku telah berkoordinasi dengan Disnakertrans, Dinas PU dan PDAM. Tujuannya, untuk bersama-sama mengantisipasi krisis air warga. Hanya saja setiap tahunnya, penyaluran bantuan air bersih selalu terkendala kendaraan operasional.

a�?Kita punya dua mobil tangki air saja kapasitas 4 ribu liter, itu pun dimiliki PDAM. Memang ada satu di Disnakertrans, tapi kondisinya tidak layak. Sementara desa yang dilanda krisis air bersih banyak. Sehingga, kita pun menyewa dua mobil tangki air,a�? bebernya.

Biaya sewanya, ungkap Nurpuri antara Rp 200-250 ribu per hari, itu pun di luar bahan bakar. Per harinya, paling tidak menyalurkan air bersih empat kali jalan.

a�?Yang membuat lama di lapangan, kadang masyarakat desa tidak memiliki tandon air. Sehingga, terpaksa mengantre menggunakan ember atau jeriken,a�? ujarnya.

Krisis air bersih juga menjadi penyakit tahunan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Salah satu daerah yang menjadi langganan kekeringan adalah Dusun Orong Nagasari, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung. Kekeringan di daerah ini kontras dengan kondisi kantor pemerintahan yang berlimpah air. Padahal Desa Sokong tak jauh dari pusat pemerintahan.

Kepala Dusun Orong Nagasari Narto Ariadi mengatakan saat ini di dusun yang dihuni 20 kepala keluarga tersebut mulai dilanda kekeringan. Pasalnya satu sumur yang sehari-hari digunakan warga untuk mengambil air bersih mulai mengering.

a�?Sudah mulai berkurang airnya,a�? ujarnya.

Akibat berkurangnya air di sumur tersebut, Narto mengatakan saat ini sumur hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari warga. Sementara itu untuk kebutuhan ternak yang dulunya juga diambil dari sumur kini harus mengambil ke sungai yang ada di dekat permukiman warga.

a�?Kalau nanti sumur mengering yang warga juga ambil ke sungai itu,a�? tandasnya.

Karena sumur sudah mulai mengering, akhirnya pihak dusun melaporkan ini ke desa kemudian ditindaklanjuti dengan meminta bantuan ari bersih ke BPBD Lombok Utara.

a�?Kita sudah ajukan permintaan bantuan air bersih ke BPBD,a�? ungkapnya.

Selain itu, di wilayah timur Lombok Utara kekeringan juga sudah melanda di Dusun Teluk Nare, Desa Pemenang Barat. Akibat musim kemarau kini warga harus mengambil air dari satu mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Dusun Teluk Nare Agiludin mengatakan kekeringan yang terjadi di wilayahnya biasanya terjadi memasuki bulan Juni hinggga Oktober mendatang. Tetapi saat ini kekeringan sudah mulai terjadi di sejumlah wilayah.Ini terlihat dari keringnya beberapa sungai yang ada di sekitar pemukiman warga. Namun sejauh ini warga masih bisa mendapatkan air dari sumber mata air Sumber Jeruk.

a�?Sungai sudah mulai kering. Warga di dusun ini semuanya akan mengambil air ke mata air ini. Ada rasa khawatir nanti air disini juga akan ikut kering,a�? ujarnya.

Dari data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Utara ada 16 desa yang berpotensi mengalami kekeringan antara lain di Kecamatan Pemenang yakni Desa Malaka, Desa Pemenang Barat, Desa Pemenang Timur. Di Kecamatan Tanjung yakni Desa Medana dan Desa Sigar Penjalin. Di Kecamatan Gangga yakni Desa Sambik Bangkol dan Desa Gondang. Di Kecamatan Kayangan yakni Desa Gumantar, Desa Dangiang, Desa Salut, dan Desa Selengen. Dan di Kecamatan Bayan yakni Desa Akar-Akar, Desa Sukadana, Desa Anyar, Desa Loloan, Desa Sambi Elen, dan Desa Senaru. Ada sekitar 62 dusun dari seluruh desa yang berpotensi kekeringan. Kecamatan Pemenang yang sebelumnya jarang terkena kekeringan, tahun ini diprediksi juga terkena dampak kekeringan.

Sementara itu di Lombok Barat (Lobar), tahun ini daerah yang mengalami kekeringan mencapai 57 titik. Jumlah itu tersebar di 14 desa. Jika dibanding tahun lalu, kekeringan yang bakal melanda Lobar tahun ini semakin meluas.

Ada beberapa titik yang kerap dilanda kekeringan. Khusus di Kecamatan Sekotong , diantaranya Desa Sekotong Tengah, Pelangan, Buwun Mas, Cendi Manik, dan Sekotong Barat. Sedangkan di Kecamatan Lembar terdapat di Grepek, Embung Kolah, Tibu Lilin.

Untuk mengantisipasi kekeringan ini, pemda Lobar belum bergerak. Tapi, merujuk pada penanganan tahun lalu, mereka droping air bersih ke sepuluh kecamatan se-Lobar. Karena hampir kecamatan rata-rata terdapat wilayah yang kekeringan.

Pendistribusian air bersih diperuntukkan hanya untuk kebutuhan air bersih seperti untuk masak, minum atau untuk kebutuhan pokok yang mendesak. Disamping mengandalkan distribusi memakai mobil tangki, pemda juga mendistribusi air pada tiap tandon air.

Tandon air berasal dari bantuan pusat melalui dana siap pakai (DSP) yang diturunkan ke provinsi lalu di sebar ke masing-masing kabupaten/kota. Lobar sendiri mendapatkan jatah 20 unit tandon air. Sejauh ini, Lobar telah memiliki 70 tandon air. Tapi sebagian besar banyak yang rusak.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Krimatoligi, dan Geofisika (BMKG) Kediri, dari 119 desa yang tersebar di Lobar, sebanyak 88 desa terancam kekeringan. Selain itu, kekeringan dipastikan melanda tiga kelurahan.

a�?Puncak kekeringan sekitar bulan Agustus hingga September,a�? kata Climate Forecaster BMKG Kediri, Hamdan Nurdin.

Menurut dia, kawasan bagian selatan Lobar akan menjadi daerah dengan kekeringan paling parah yakni Kuripan, Labuapi, Gerung, Lembar, dan Sekotong. Sementara, beberapa wilayah lain diprediksikan bakal turun hujan. Hanya saja, intensitasnya berkisar 0-20 milimeter dengan sifat hujan normal dan bawah normal.

a�?Potensi hujan akan terjadi di wilayah bagian utara dan timur. Seperti Batulayar, Narmada, dan Lingsar,a�? bebernya.

Ia mengungkapkan, puncak musim hujan telah berakhir Mei lalu. Penghujung bulan itu, kekeringan mulai nampak dengan fase tanpa hujan. Nah, memasuki bulan Juni hujan berkurang dan akan terus seperti itu.

a�?Dampaknya berpengaruh pada debit air,a�? jelasnya. (uki/dss/puj/yuk/jlo/cr-rid/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *