Ketik disini

Selong

Warga Caplok Hutan TNGR

Bagikan

*Warga Klaim Milik Nenek Moyang

SELONG – Kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang ada di Bebidas, Jurang Koak sedang bergejolak. Warga sekitar memaksa memasuki area itu dan merambahnya karena merasa milik nenek moyang.

a�?Itu tanah leluhur kami yang dikuasai TNGR,a�? kata Rusmin, pria yang mengaku Ketua Pejuang Tanah Adat Jurang Koak.

Secara resmi ia, bahkan sudah mengeluarkan surat berisi desakan kepada Kepala Desa (Kades) setempat selaku ketua adat supaya mengesahkan hal tersebut. Dasarnya Aladdin almarhum Balok Imah, Papuk Banun, Papuk Putrasih merupakan leluhur mereka yang semasa hidupnya tinggal di kawasan itu. Pepohonan yang ada di kawasan itu juga diklaim sebagai hasil tanaman moyang mereka, sehingga ada beberapa pohon yang diakui sudah dipugar sebagai bukti sejarah. Kenyataan kalau di kawasan itu tak ada pepohonan lebat layaknya hutan belantara juga menjadi dasar warga berbuat demikian.
”Kalaupun ada, hanya nangka, kopi, dan mangga yang merupakan tanaman leluhur kami,a�? katanya.

Selain itu TNGR juga dianggap tak bisa menunjukkan tapal batas zaman Belanda sebagai pegangan hukum. Karena itulah mereka mengklaim tanah puluhan hektar itu. Sebelum ada pengesahan, semua lahan dikatakan dikuasai pejuang tanah adat. Bahkan siapapun yang ingin memasuki area tersebut haruslah seizin mereka.

”Ini untuk menjaga hal yang tidak diinginkan,a�? jawabnya.

Sedangkan Kades Bebidas, Sarapudin hanya meminta kedua belah pihak yang sama-sama mengklaim tanah tersebut untuk menahan diri. Baik TNGR maupun Pejuang Adat dikatakan harus menghormati bulan puasa yang sedang berlangsung. Bahkan sang kades sudah menembuskan surat imbauannya hingga ke presiden.

”Semua harus tahan diri,a�? katanya.

Menanggapi hal itu, Ramsjah, Kepala Seksi Pengelolaan Tamana Nasional (SPTN) Wilayah II yang mengelola kawasan tersebut mengatakan tak bisa tinggal diam. Awal perambahan itu katanya bermula pada 14 Juni lalu. Saat itu, puluhan warga atas komando sejumlah orang merangsek masuk ke kawasan hutan. Mereka membabat beragam tanaman yang dilindungi oleh negara. Tak mau tinggal diam, sehari berselang pasukannya datang dengan bersenjatakan lengkap. Mereka menemukan banyak masyarakat yang membawa parang, menebang satu demi satu pohon yang ada di sana. Hitung-hitungannya sekitar 70 orang yang masuk ke kawasan TNGR dan membabat lahan seluas 50 hektar.

”Mereka sembarangan saja masuk kawasan terlarang,a�? katanya dengan nada tinggi.

Saat itu petugas yang coba memberi penjelasan tak diindahkan. Bahkan hingga kini perambahan diyakini masih terus dilakukan. Luasan area tersebut mulai dari tapal batas TN 468 hingga TN 472. Yang terbaru, tanggal 18 lalu pihaknya kembali turun bersama polisi dan menangkap seorang warga berinizial ZA alias AA yang sedang melakukan perambahan. ”Prosesnya sampai mana, saya kurang tahu, itu ada di polisi,a�? jelasnya.

Bahkan informasi ini sudah terdengar hingga ke pusat. Tak tanggung-tanggung, Departemen Lingkungan Hidup dan Kehutanan katanya sedang dalam perjalanan dari Jakarta. Mereka segera melakukan tindakan pemberanasan aksi perambahan tersebut. Dalam UU nomer 18 tahun 2013 terkait pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, para pelaku bisa dijerat pidana 1 – 3 tahun. Tak hanya itu, mereka juga bisa dikenakan denda Rp 500 juta hingga Rp 15 M.
”Jangan main-main, itu taman nasional,a�? tegasnya.

Penetapan area TNGR dikatakan sudah mengacu sejumlah aturan negara. Tidak ada pihak manapun yang boleh melakukan pencaplokan dan mengklaim kawasan itu. Karena mediasi yang sudah berulang coba dilakukan terus gagal, ia berencana membawa pasukan penuh dengan meminta bantuan Polres Lotim untuk mensterilkan area itu.

”Kami undang media tak mau datang, jangan salahkan kalau pasukan penuh datang ke sana,a�? ancamnya. (yuk/r14)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *