Ketik disini

Happy Wednesday

Butuh Waktu Lama untuk Jadi Muda

Bagikan

Hari ulang tahun bisa jadi hari terbaik, atau hari terburuk.

***

Tidak setiap hari ulang tahun adalah hari istimewa. Ada yang benar-benar istimewa, ada yang biasa-biasa saja. Ya, nggak?

Ada yang habis-habisan merayakan ulang tahun pertama anaknya. Ada yang habis-habisan merayakan ulang tahun ke-17 anaknya. Ada juga yang habis-habisan merayakan ulang tahunnya yang ke-50.

Dan itu sah-sah saja, hak masing-masing, karena memang umur tidak bisa di-rewind.

Ada juga yang merayakan ulang tahun angka tertentu dengan tawa, pesta, juga tangis. Dan bukan tangis haru bahagia.

Karena jarang merayakan ulang tahun, hanya ada beberapa kesempatan yang buat saya terkenang sampai sekarang.

Pertama, ulang tahun ke-21. Kalau di Amerika, itu penanda sudah boleh belanja minuman beralkohol.

Lalu, ulang tahun ke-27 pada 2004. Karena pada hari yang sama diselenggarakan technical meeting pertama DBL, liga basket pelajar yang sekarang menyebar di seluruh Indonesia.

Lalu, ulang tahun ke-30.

Kebetulan, pada tahun yang sama, banyak teman dekat saya yang merayakan ulang tahun ke-30 pula. Kebanyakan sudah menikah dan berkeluarga, walau ada juga teman yang ternyata masih single dan pacaran dengan yang jauh lebih muda.

Secara bergantian, kami mentraktir makan. Lalu berbagi cerita. Tentu saja, teman kami yang masih single itulah yang banyak dihujani pertanyaan.

“Bagaimana rasanya, bro?” tanya teman saya yang lain, yang sudah berkeluarga.

“Kalau dulu main fisik, sekarang main teknik,” begitu jawabnya santai, mengundang tawa yang lain.

“Wah, kalau gue gimana, bro?” tanya teman saya yang lain itu lagi.

“Kalau elu mah kaya Chelsea aja, main duit” celetuknya, lagi-lagi mengundang tawa yang lain.

Ini kali pertama saya memakai kata “gue” dan “elu” di kolom Happy Wednesday. Sebab, dua teman saya itu memang orang Jakarta, dan kami makan-makannya waktu itu di Jakarta.

Dan waktu itu, Chelsea memang lagi rajin belanja pemain mahal.

Terus terang, saat ultah ke-30 itu, saya lebih banyak bengong, menyendiri, dan bahkan sempat menangis. Dan bukan menangis haru bahagia.

Kali pertama berusia kepala tiga, waktu itu saya merasa sudah tua. Tidak bisa lagi bilang umur “dua puluhan”.

Saya yakin saya tidak sendirian menangis di ulang tahun usia tertentu. Liv Tyler, bintang film cantik, mengaku menangis saat ultah ke-18. “Karena saya merasa 17 tahun itu usia yang manis. Cukup muda untuk tidak disalahkan dalam banyak hal, tapi juga cukup dewasa” ungkapnya.

Baru setelah satu dua tahun melewati usia 30, hati saya menjadi lebih tenang. Ternyata, “muda” itu relatif. “Muda” itu tergantung memandangnya dari mana. Kalau dilihat dari usia lebih “atas”, ya masih muda.

Walau pada saat yang sama, sakit rasanya mendengar ada anak/remaja memanggil saya “Om”.

Jleb! Jleb! Jleb!

Sakitnya tuh di mana-mana.

Tidak terasa, dalam beberapa tahun lagi saya sudah akan menginjak kepala empat. Banyak orang yang sudah merasakannya, dan setiap orang akan punya perasaan beda-beda.

Seperti apa rasanya buat saya nanti. Kalau masih ada kolom Happy Wednesday pada 2017 nanti, semoga saya bisa bercerita. Dan semoga bahagia.

Dan seperti kebanyakan orang, saya juga ingin merayakan ulang tahun ke-50, ke-60, dan seterusnya, dalam kondisi sehat dan masih bisa banyak berbuat.

***

Hari ini Jawa Pos merayakan ulang tahun ke-66.

Pada tahun yang tidak dianggap enak oleh banyak orang ini, kami bersyukur masih bisa menjadi perusahaan yang solid, mantap melangkah ke depan. Dan kami sudah menjalani proses restrukturisasi serta regenerasi yang komprehensif, di hampir seluruh departemen dan lapisan manajemen.

Tidak semua perusahaan dengan usia setara sudah “lolos” dari proses yang berat itu. Bahkan ada yang baru akan memulainya.

Karena ini bukan tahun yang overall menyenangkan, kami pun menahan diri dalam merayakannya. Biasanya, setiap ulang tahun, karyawan bikin pesta seru di ruang redaksi di Graha Pena Surabaya, yang memang luas dan terbuka.

Ada dress code heboh, ada DJ, ada kompetisi yel-yel antardepartemen, dan sebagainya. Maklum, walau usia koran sudah 66 tahun, usia rata-rata karyawan kami masih di angka 30. Ya, 30 tahun! Kebanyakan manajer pun usianya masih di pertengahan 30-an.

Tahun ini, kami hanya akan bikin acara sederhana.

Dan kami berterima kasih kepada semua pembaca serta mitra bisnis Jawa Pos, yang setiap tahun selalu menjadikan ulang tahun kami sebagai event yang heboh.

Sudah dalam beberapa hari terakhir, dan biasanya sampai beberapa hari ke depan, bergantian dan berbondong-bondong kelompok pembaca serta mitra kerja Jawa Pos berkunjung ke kantor kami di Surabaya maupun Jakarta.

Dalam seminggu, bisa lebih dari 3.000 orang berkunjung dan mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung.

Betapa berterima kasihnya kami kepada mereka. Plus banyak kue dan makanan enak menumpuk di kantor selama seminggu. Hehehe.

***

Tahun ini, kami juga meminta seluruh karyawan untuk menuliskan visi mereka untuk Jawa Pos ke depan. Seru juga membaca ratusan tulisan yang masuk tersebut. Dan ada hadiah seru untuk ide-ide atau saran-saran yang konkret serta menarik. Tidak harus visi besar, tapi bisa juga tentang hal-hal kecil yang bisa membantu perkembangan perusahaan ini ke depan.

Karena usia rata-rata karyawan masih muda, tentu saja ini sangat penting. Sebab, mereka pulalah yang akan menikmati/menanggung beban itu semua pada masa mendatang.

“Jawa Pos harapan saya dapat senantiasa menjadi mata air, yang dapat selalu memberikan sumber kehidupan dan penghidupan bagi kita semua. Jawa Pos dalam mimpi saya adalah Jawa Pos yang dapat mengarahkan kita semua ke atas, untuk menjadi lebih baik. Seperti pohon rotan yang bisa membantu menjaga kelestarian hutan, maka Jawa Pos tidak hanya bermanfaat secara internal, tetapi harapan saya agar Jawa Pos bisa juga tetap selalu menjaga bangsa dan negara Indonesia ini.a�?

Begitu penggalan salah satu tulisan yang masuk. Dan karena menginspirasi untuk saya kutip, maka yang menulisnya akan dapat Rp 10 juta.

Seperti apa Jawa Pos ke depan ? Tentu tidak bisa ditulis di kolom ini. Juga belum tentu bisa di-sharing begitu saja ke semua pihak.

Yang pasti, dengan kekuatan tim muda yang mampu berlari maraton dengan pace cepat, masa depan kami bisa lincah ke mana saja.

Banyak plan dalam setahun, tiga tahun, dan lima tahun ke depan. Juga untuk tahun-tahun selanjutnya. Semua siap berlari mengeksekusinya, juga siap zig-zag dan ganti haluan dengan lincah kalau memang diharuskan.

Secara resmi usia Jawa Pos 66 tahun. Tapi, engine-nya masih 30-an tahun. Benar juga kata Pablo Picasso: “It takes a long time to become young.”
Butuh waktu lama untuk menjadi muda. (azrul ananda)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *