Ketik disini

Metropolis

Dari Pameran hingga Pertajam Program

Bagikan

PRAYA – Polres Lombok Tengah sukses menggelar pameran terbesar, pertama dan terunik di NTB. Dimulai dari kedatangan artis ibukota Cita Citata. Kegiatan itu, dilaksanakan dalam rangka rangkaian HUT Bhayangkara.

a�?Kami mengangkat tradisi dan budaya lokal bertajuk keamanan selama tiga hari, Jumat-Minggu,a�? kata Kapolres Loteng AKBP Nurodin pada Lombok Post.

Dikatakannya, pameran tersebut menampilkan puluhan stan yang disiapkan secara gratis. Di dalamnya, dipamerkan berbagai kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Gumi Tatas Tuhu Trasna seperti, perlengkapan spear gun atau alat tangkap ikan, makanan khas, kerajinan anyaman bambu dan rotan, mutiara, songket, kerajinan batu akik dan foto-foto destinasi wisata.

Bagi Nurodin, kekayaan alam yang dimiliki Loteng, tidak kalah dengan kabupaten/kota lain di NTB, bahkan Indonesia. Hanya saja, minim promosi. Sehingga, Polres pun berinisiatif mengangkat dan mengenalkan sumberdaya yang dimaksud. Sembari menekankan bahwa polisi siap menjaga keamanan.

a�?Kita bersyukur, kegiatan itu berlangsung meriah dan dipadati pengunjung. Apalagi, kami juga menyisipkan kegiatan tes safety riding dan lomba mewarnai bagi anak-anak TK,a�? ujarnya.

Yang membuat dirinya terkesan adalah pameran alat tangkap ikan yang menggunakan spear gun. Alat itu, menurutnya hampir tidak terdengar dipermukaan. Padahal, pembuatnya warga Loteng. Namun, justru mereka dikenal dan diakui daerah luar.

a�?Setelah kita pamerkan alat spear gun itu, pengunjung pun baru sadar ternyata kita punya potensi yang tersembunyi,a�? katanya.

Pameran yang berlangsung di halaman BRI Cabang Praya itu pun, tambah Nurodin, terselenggara dengan sukses atas kerja sama semua pihak. Khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) NTB, da��praya Lombok hotel, BRI dan tidak lupa artis yang dikenal dengan lagu a�?Sakitnya Tu Di Sinia�? Cita Citata.

a�?Hany satu pesan yang saya sampaikan yaitu, mari wujudkan daerah kita tercinta ini sebagai destinasi wisata yang aman. Sehingga, kita mampu mengangkat dan mengembangkan tradisi dan budaya lokal yang kita miliki bersama,a�? seru Nurodin.

Senada dikatakan Kasat Lantas Polres Loteng IPTU Lalu Ryan Aditya. Yang terkesan dari rangkaian HUT Bhayangkara adalah kompetisi mewarnai tingkat TK. Kendati usia mereka masih kecil, kata Ryan, ternyata sebagian besar mengetahui tertib berlalu lintas. Dibuktikan dari proses mewarnai gambar yang disediakan Satlantas.

Salah satunya gambar anggota polisi yang memberi tanda stop lampu merah. Hasilnya, 99 persen anak-anak tersebut mengetahuinya. Bagi Ryan, pengenalan tertib berlalu lintas sejak usia dini dapat mengasah imajinasi dan kemampuan pola pikir anak-anak, sehingga ke depannya mereka mengingat, lalu mematuhinya.

a�?Secara tidak langsung, kami juga menyerukan kepada orang tua atau kerabat mereka yang mengantar agar tertib berlalu lintas. Sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor 4 Tahun 2013 dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009,a�? jelas Ryan.

Sementara itu momentum pertambahan usia dijadikan Polres Lotim untuk terus memperbaiki diri. Secara bertahap, Polres yang mengurusi daerah terpadat di NTB itu ingin menjadikan diri sebagai pengayom masyarakat yang sejati. Sejumlah terobosan, sudah, sedang dan terus dilakukan. Salah satu yang patut diapresiasi adalah langkah melibatkan masyarakat dalam setiap upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Paling nyata adalah slogan daerah seribu masjid dan seribu pos kamling.

a�?Polisi sendiri tak akan mampu,a�? kata Kapolres Lotim AKBP Heri Prihanto.

Terobosan yang dilakukan sejak era kapolres terdahulu tak diubah oleh Heri. Ia justru melanjutkannya karena program yang satu ini terbukti bisa menekan beragam tindak kriminalitas di masing-masing desa dan dusun.

a�?Peran serta masyarakat itu penting,a�? ucapnya.

Selain melibatkan masyarakat, polres juga menjalankan sejumlah kebijakan berdasar sejumlah kearifan lokal yang sudah tumbuh subur dan mengakar pada masyarakat Lotim. Tengok saja kebijakan melarang total izin petasan berjenis apapun dari produsen manapun. Padahal, kalau mau sedikit nakal, bisa saja hal itu dibolehkan, toh memang ada aturan yang membolehkan. Namun masyarakat Lotim yang 99 persen menganut agama Islam jadi patokan utama. Ia tak ingin dengan pemberian izin itu selama puasa, ibadah yang dilakukan menjadi terganggu.

Yang terbaru, polres yang harus menjaga keamanan 1,3 juta penduduk ini melakukan terobosan pola penanganan masalah. Tak lagi bersifat parsial, jajarannya didorong bersinergi. Tak ada ego sub sektoral antara bidang yang satu dengan yang lain. Semua dipesankan untuk bekerja layaknya satu tubuh yang menyatu.

Terbukti, kemarin sebuah penangkapan narkoba dilakukan. Berkat sinegi yang cepat itu, empat lokasi digerebek tanpa ada seorangpun yang berhasil melarikan diri atau lolos dari radar. Sat Reskrim, Sat Natkoba serta Elit Dalmas bekerjasama. Mereka, kata Heri, tak lagi menunggu komando dari atasan, tapi menjalankan semua tugas dengan saling melibatkan.

a�?Kecepatan kami sekarang 100 kilometer per jam,a�? jelasnya.(dss/yuk/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *