Ketik disini

Headline Metropolis

Dewan Isyaratkan Tolak Jual Aset BIL

Bagikan

MATARAM – Panitia Khusus (Pansus) DPRD NTB untuk pelepasan aset Pemprov NTB di Bandara Internasional Lombok memberi isyarat penolakan pelepasan aset senilai Rp 114,86 miliar tersebut. Dewan menilai, tak ada hal mendesak yang mengharuskan NTB menjual asetnya.

a�?Bisa diprediksi, hasil pansus nanti akan menolak penjualan aset tersebut. Kecil kemungkinan kita akan setuju,a�? komentar anggota Pansus DPRD NTB, Lalu Satriawandi.

Pria yang juga anggota Komisi IV DPRD NTB ini mengatakan, sejauh ini, rekan-rekannya dalam pansus belum mendapati alasan kuat bagi pemprov untuk melepaskan aset tersebut ke pihak Angkasa Pura I.

Pihaknya sudah mengkaji sejumlah aspek yang melatarbelakangi rencana penjualan aset itu. Namun, belum menemukan alasan yang kuat. Aset yang awalnya bernilai Rp 109 miliar itu pun masih dipercaya bakal memberikan keuntungan bagi daerah nantinya jika tak dilepas.

Dilihat dari postur anggaran dalam APBD, NTB tidak dalam posisi defisit sehingga harus melepas aset untuk menutupi kekurangan. Sehingga kata dia, opsi menjual aset adalah kebijakan yang keliru.

Pansus kini justru lebih tertarik mendalami alasan Pemprov NTB tidak juga bisa menerima deviden dari investasi yang dilakukan di AP I. Pihaknya menangkap kejanggalan karena di satu sisi, AP I berargumen tidak bisa menyetor deviden karena mengalami kerugian. Tapi di sisi lain justru berminat mengambil alih aset Pemprov di BIL.

Di luar itu, pansus juga kini tengah berang. Pasalnya, sejumlah dokumen yang mereka minta ke ekskutif tak diindahkan. a�?Kita seperti dicuekin sama ekskeutif ini,a�? kata Satriawandi.

Menurutnya, pansus sudah jauh hari meminta data dan dokumen perihal investasi yang dilakukan pemprov NTB ke BIL. Namun, hingga kini, dokumen dan data tak diberikan. a�?Kita minta data saja tidak diindahkan,a�? kritiknya.

Meski demikian, Pansus sendiri mengaku tetap aktif menjemput bola untuk mengkroscek latar belakang penanaman modal oleh pemprov ke BIL. Mulai dari kronologis investasi hingga sistem yang dipakai juga sudah didalami. (uki/r12)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *