Ketik disini

Politika

Mahasiswa Harus Kawal Demokrasi

Bagikan

MATARAM a�� Pascareformasi 1998 bukan berarti perjuangan aktivis dan mahasiswa selesai. Justru pascareformasi tugas berat di pundak mereka. Demokrasi yang dibangun harus dikawal agar tetap berada di relnya.

Setelah Orde Baru tumbang, seolah-olah perjuangan usai. Aktivis seakan tidak lagi memiliki a�?musuh bersamaa�?. Mahasiswa sibuk berkutat dengan pelajaran di kampus, dan belakangan mulai cuek dengan isu-isu demokrasi. Kondisi ini tentu saja tidak bagus bagi perjalanan demokrasi itu sendiri.

a�?Mahasiswa harus melek politik. Reformasi bukan akhir, tapi awal perjuangan,a��a�� kata Dewan Guru Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Efendi Saman saat dikusi dengan para aktivis ProDEM NTB di Mataram, Senin malam (29/6).

Demokrasi yang sedang dinikmati hari ini tidak boleh dibiarkan berjalan begitu saja. Masih banyak tantangan yan dihadapi demokrasi. Munculnya primordialisme, menguatnya sentimen identitas lokal, sektarian, sentimen kelompok agam, suku, golongan, selama ini berlindung di balik jubah demokrasi itu sendiri.

a�?ProDEM harus menjadi pemersatu, memperkuat NKRI di tengah menguatnya isu-isu kelompok,a��a�� kata pengacara yang juga pernah menjadi Ketua Majelis ProDEM ini.

Menurut Efendi, mahasiswa sebagai salah satu motor penggerak demokrasi tidak bisa begitu saja melepas demokrasi hanya diurus oleh legislatif a�� eksekutif a�� yudikatif. Mahasiswa harus tetap mengawal. Untuk itulah para mahasiswa juga harus tahu seluk beluk dan perkembangan demokrasi. ProDEM sendiri, kata Efendi, sudah menyelenggarakan Sekolah Politik. Lewat Sekolah Politik inilah, mahasiswa diberikan pemahaman tentang perpolitikan Indonesia.

a�?Dengan cara ini mahasiswa memberikan kontribusi pada demokrasi di Indonesia,a��a�� ujarnya.

Khusus NTB, Efendi memberikan apresiasi pada para aktivis ProDEM dan dewan guru. NTB termasuk daerah yang aktif dan dinamika demokrasinya hidup. Pengamatan Efendi, di tengah keragaman masyarakat NTB, baik secara politik, kultur, agama, dan budaya, justru demokrasi tumbuh sehat. Itu tercermin dari para anggota dan dewan guru ProDEM NTB dari berbagai latar belakang.

a�?Saya apresiasi keragaman di NTB ini, tapi tetap kompak,a��a�� katanya.

Dewan Guru lainnya, Paskah meminta ProDEM NTB meneruskan tradisi diskusi dan advokasi. Kemampuan dalam teori harus kuat. Ini tentu saja dibangun dalam tradisi diskusis terbuka, debat, dan kajian-kajian ilmiah. Tapi juga advokasi lapangan tidak boleh ditinggalkan. Paskah memberikan apresiasi pada ProDEM NTB yang baru seumur jagung tapi sudah mulai advokasi lapangan.

a�?Advokasi di lapangan yang adik-adik lakukan jangan berpikir ini harus berhasil. Proses advokasi itulah pelajaran terbaiknya,a��a�� katanya.

Paskah sendiri mengakui beberapa advokasi agraria yang dilakukan a�?aktivis seniora�? tidak semuanya berhasil. Tapi ketika kegagalan itu dijadikan alasan mundur, sama saja mengamini penindasan itu. Advokasi konflik agraria di kawasan wisata yang mulai digarap ProDEM NTB diharapkan bisa menjadi pelajaran dalam advokasi lebih besar.

a�?Konflik di NTB, khususnya di Lombok memang banyak seputar perebutan kawasan wisata. Adik-adik sudah turun ke Sire, Senggigi, Lombok Tengah,a��a�� kata Lalu Syaepudin Gayep, Dewan Guru ProDEM NTB.

Sementara itu Ketua ProDEM NTB Megawati Lestari mengatakan, banyak ilmu baru didapatkan di ProDEM. Sebagai mahasiswa hukum, khazanah berpikirnya makin luas setelah diskusi dan turun advokasi. a�?Tentu ini bimbingan dari dewan guru,a��a�� ujarnya. (fat)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *