Ketik disini

Selong

Ketika Pengemis Berburu THR

Bagikan

Jelang Raya Idul Fitri semua orang seolah sibuk dengan Tunjangan Hari Raya (THR). Ini tak hanya berlaku bagi para pekerja pemerintahan dan pegawai swasta saja. Para pengemispun sedang giatnya berburu rejeki tambahan untuk keperluan berhari raya.

SEORANG kakek berperawakan kurus memasuki kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lombok Timur (Lotim) pagi menjelang siang, kemarin. Menjinjing tas lusuh dengan bantuan tongkat untuk berjalan, pria itu memasuki satu demi satu ruang di kantor. Kendati berjalan terhuyung seperti orang sempoyongan, dengan pasti ia mendatangi para pegawai yang ada.

Setelah mengucap salam, ia langsung menengadahkan tangan ke lawan bicaranya. Kakek yang mengaku bernama Papuq Amat ini sedang menjalankan profesinya sebagai peminta-minta (pengemis). Walaupun terlihat lemas dan hampir jatuh saat berjalan, ia terbilang kuat. Dari pagi hingga siang ia selalu menyisir kantor-kantor yang ada di Selong. Bahkan jika masih ada tenaga, ia berkeliling ke rumah-rumah warga. Tak jarang ia baru pulang ketika sore bahkan jelang malam.

‘’Sudah lupa,” jawabnya ketika ditanya sejak kapan berkeliling meminta-minta.

Namun satu yang diingat kakek yang mengaku berusia 70 tahun itu, setiap Ramadan peghasilannya selalu meningkat. Selama ada tenaga untuk berkeliling, setiap hari uang puluhan bahkan ratusan ribu sudah bisa dikantongi.

Pekerjaan serupa tak hanya dilakukan Kakek Amat. Disaat Ramadan ini ada juga yang dadakan menjadi peminta-minta. Itu dilakukan demi meraup ”THR” dari para dermawan. Cukup pasang tampang memelas, sampaikan salam, lalu tengadahkan tangan. Hal itu sudah bisa meluluhkan hati banyak orang. Mereka seperti memanfaatkan betul kebutuhan orang untuk mendermakan hartanya ketika Ramadan.

Namun demikian, meski pekerjaan ini halal sorotan kini muncul dari berbagai pihak. Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) menjadi pihak yang paing getol menyuarakan pengehentian memberikan uang pada peminta-minta.

Bukan bermaksud jahat, namun hal ini dianggap tak mendidik. Terlebih jika peminta itu masih sehat jasmaninya. Apa lagi ada indikasi kegiatan meminta-minta ini dilakukan terkoordinir oleh orang yang sengaja membawa para peminta untuk disebar.

‘’Itu kan tidak bisa dibenarkan, kalau mau amal, lebih baik ke lembaga resmi saja supaya merata,” kata Kadissosnakertrans Lotim, HM Aminullah. (wahyu)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *