Ketik disini

Politika

Berkah Konstituen, Musibah Bagi Legislator

Bagikan

Menjadi anggota dewan tidak seindah yang dibayangkan. Terutama jelang lebaran. Para wakil rakyat ini dipusingkan dengan tuntutan masyarakat yang silih berganti meminta sedekah.

**********
HARI-hari Parhan, Anggota DPRD Kota Mataram kini semakin sibuk. Telepon genggamnya tidak pernah berhenti berdering. Banyak pesan singkat dan telepon yang masuk. Isinya hampir sama, meminta bantuan pada dirinya. Mulai dari uang tunjangan hari raya (THR), uang lauk pauk, hingga uang untuk membeli seragam sekolah. Orang tua yang tidak mampu datang ke tempatnya, meminta sekadar bantuan untuk membeli seragam sekolah.

Mendekati lebaran, kesibukannya bertambah tiga kali lipat. Mulai dari mengahadiri pertemuan dengan warga. Berkumpul dan menyerap aspirasi konstituen di daerah pemilihannya. Konsekuensinya, ia juga harus mengeluarkan biaya materi untuk itu. Apakah hanya sekadar menyediakan pernak pernik lebaran seperti sarung, mukenah dan peci. Meski nilai satuannya tidak terlalu mahal, namun karena konsituennya banyak, maka total kebutuhan pengeluaran juga banyak. Paling tidak mencapai Rp 35 juta lebih.

a�?Ternyata jadi dewan itu tidak seindah yang dibayangkan,a�? kelakar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Sebagai politisi baru, ia mengaku cukup kaget dengan kebutuhan dan aktivitasnya jelang lebaran. Apalagi ia tidak memiliki persiapan khsus. Mau tidak mau, sebagai anggota legislatif yang dipilih rakyat, kali ini ia harus meladeni apa yang diinginkan sang pemilihnya.

a�?Sangat kewalahan, soalnya saya baru pertama jadi dewan belum ada persiapan apa-apa,a�? tuturnya.

Meski demikian, Parhan menyadari konsekuensi menjadi anggota dewan saat ini harus siap-siap mendapat a�?tagihana�? dari masyarakat. Secara pribadi, dirinya juga bukan orang yang terlalu kaya namun juga tidak pelit-pelit amat. Semuanya dilakukan dengan senang hati.

a�?Ini kesempatan kami untuk bersedekah, kalau dibawa susah jadi susah, tapi kalau dibawa senang alhamdulillah jadi ringan,a�? katanya.

]Cerita tentang dewan yang kewalahan melayani konstituen tidak hanya dialaminya. Beberapa anggota dewan yang enggan disebut identitasnya juga mengaku pusing dengan permintaan warga yang tidak ada habis-habisnya. Bahkan sampai tidak berani pulang, takut dimintai uang THR. Ada juga yang mendapat omelan dari warga gara-gara tidak bisa membantu.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga anggota legislatif Kota Mataram Lalu Suryadi mengatakan, kondisi ini menjadi konsekuensi pemilihan langsung. Dewan yang terpilih seperti menjadi tempat masyarakat meminta segala bantuan. Meski kadang kemampuan seorang dewan terbatas, namun mereka mau tidak mau harus memenuhinya.

a�?Masyarakat menganggap dewan di daerah sama seperti di pusat dengan dana yang besar,a�? katanya.

Menurutnya, masyarakat salah menafsirkan makna keterwakilan dan pemilihan menggunakan hak suara. Dalam beberapa kasus, dewan kadang tidak bisa membantu seperti kasus penerimaan peserta didik baru (PPDB), tapi warga sebagai pemilik suara dan dewan sebagai orang yang dipilih melakukan a�?transaksia�? secara tidak langsung. Akhirnya anaknya dipaksakan masuk ke sekolah meski tidak memenuhi syarat.

a�?Anggapan ini harus diubah agar dewan juga bisa menjalankan peran dan fungsinya sebagai mana mestinya, mengawal pembangunan dan kebijakan pemerintah daerah,a�? tagasnya.

Lain lagi yang dilakukan Anggota DPRD Kabupaten Lombok Barat Ahmad Zainuri. Tidak hanya saat lebaran, tapi dirinya kerap menggelar buka puasa bersama.

a�?Kita tetap berbagi saat lebaran, bahkan sebelumnya kami berbuka bersamam,a�? katanya.

Baginya, konstituen orang berharga dalam karirnya. Berkat dukungan mereka, dirinya bisa duduk dua periode sebagai dewan. Tahun lalu, kata dia, dirinya tetap menggelar acara bersama tim sukses dan pendukungnya.

a�?Dua periode saya tetap adakan pertemuan. Tahun lalu juga seperti itu,a�? akunya.

Walau acaranya tidak megah, terpenting bagi Zainuri adalah bisa saling menyapa. Lewat cara ini, aku dia, dirinya bisa lebih dekat dengan para pendukungannya.

a�?Ini juga bagian mendekatkan diri dengan pendukung. Makanya saya bisa terpilih,a�? bebernya.

Setiap kali lebaran, dirinya menyiapkan khusus pendukungnya oleh-oleh yang bakal dibawa pulang. Biasanya, Zainuri menyiapkan sarung dan baju koko. Bahkan, dia membagikan pula uang sekadarnya kepada konstituen.

a�?Kita bantu semampu kita dan memang disiapin khusus,a�? terang dia.

Dana untuk membeli sarung, baju koko, dan uang yang dibagi-bagi berasal dari hasil menabung. Sebelumnya, dia sisihkan uang dari sisa dari sisa dana reses dan gaji tiap bulan.

Menurut dia, dana yang keluar lebaran ini memang besar. Tapi, dirinya tidak terlalu risau. Karena, dari awalnya dirinya sudah siapkan.

a�?Tiap lebaran saya habis Rp 30 juta,a�? sebutnya.

Hal yang sama diungkapkan dewan lain, Munawir Haris. Dia tetap menyapa konstituen lebaran ini. Namun, dia enggan membeberkan apa yang dibagikan, dan berapa uang yang dihabiskan.

a�?Itu tetap dan keharusan bagi saya,a�? katanya.

Bagi dewan baru tradisi ini mengagetkan. Namun suka tidak suka mereka harus menyiapkan. Jika tidak, mereka tidak dipilih kembali.

a�?Menjelang lebaran ini memang kebutuhan hidup kami cukup tinggi. Bukan karena urusan rumah tangga, tapi konstituen,a�? kata Anggota Komisi IV DPRD Loteng Didik Ariesta.

Sebagai pendatang baru, dia tetap berkomitmen untuk mensyjahterakan masyarakat. Sehingga, segala konsekuensi moral dan material harus dijalankan.

a�?Setiap saya berkunjung ke konstituen, saya harus menyisipkan ala kadarnya untuk mereka. Saya lebih memilih turun, daripada mereka yang datang ke rumah. Itu bentuk pelayanan saya,a�? ujar politisi PBB tersebut.

Selain berbentuk uang, pihaknya juga memberikan bingkisan berupa sarung dan parsel. Isinya, ada makanan dan minuman ringan, gula, susu dan kebutuhan pokok lainnya. Jika dihitung, bisa setengah dari penghasilan setiap bulannya, bahkan lebih. Namun, lagi-lagi itu menjadi konsekuensi seorang politisi atau pejabat publik.

Sementara itu, politisi Demokrat yang juga Ketua Komisi I DPRD Loteng Samsul Qomar mengatakan, setiap tahun menjelang lebaran dirinya membagi rizki seadanya. Namun, hanya diberikan kepada tim sukses dan sebagian konstituen.

a�?Kalau semua kita berikan tentu tidak mencukupi dengan anggaran,a�? katanya.

Yang sering dibagikan menjelang lebaran ini, beber Qomar adalah sarung dan kurma. Bagi dia, sarung menjadi hal utama untuk disiapkan, sehingga bisa digunakan untuk pelaksanaan salat Idul Fitri.

a�?Selebihnya, kalau ada uang lebih, saya berikan. Begitu sebaliknya,a�? katanya.

Sekwan DPRD Loteng H Awaludin mengatakan, sekretariat tidak menyiapkan uang lebih kepada 50 anggota dewan setiap menjelang lebaran. Kecuali, gaji dan tunjangannya masing-masing. Untuk anggota dewan sebesar Rp 14 juta lebih per bulan, pimpinan komisi dan badan-badan Rp 14,5 juta lebih per bulan serta pimpinan dewan Rp 16 juta lebih per bulan.

a�?Soal kemudian gaji dan tunjangannya itu disisihkan untuk kepentingan konstituen masing-masing, itu menjadi urusan dan tanggungjawabnya dewan,a�? ujar Awaludin.

Untungnya, tambah Awaludin beban 50 anggota dewan teratasi setelah mereka melaksanakan reses. Di mana, masing-masing mendapatkan dana reses sebesar Rp 25 juta dipotong pajak.

a�?Sehingga, bisa jadi dana itu disalurkan kepada konstituennya. Sekarang, hanya tambahan saja,a�? katanya. (ili/jlo/dss/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *