Ketik disini

Metropolis

Dirikan Sekolah Dalang, Bangkitkan Tokoh Pahlawan Lokal

Bagikan

Anak semakin asing dengan budaya sendiri. Mereka tidak lagi mengenal kehebatan cerita para leluhur. Peran orang tua pun digantikan teknologi gadget yang mengagungkan kebudayaan dari luar. Hal ini mendorong pegiat Ideaksi, bergerak menyelamatkan generasi muda.

***

PUISI berjudul a�?Selandira�? mengawali prosesi pembukaan sekolah Pedalangan Wayang Sasak yang digagas pegiat Ideaksi Mataram. Puisi ini mencerminkan nasib wayang sasak yang sudah dilupakan generasi Suku Sasak sendiri. Cerita para leluhur digilas pesatnya perkembangan teknologi.

Puisi ini ditulis Abdul Latif Apriaman pada 17 April 2011, ketika pertunjukan wayang hanya ditonton empat orang. Saat malam beranjak hanya seorang penonton yang tersisa. Hal ini membuatnya sangat miris. Anak-anak tidak lagi bangga dengan cerita pewayangan dan lebih mengagungkan cerita dari luar negeri yang jauh dari nilai-nilai kearifan lokal.

Beranjak dari kisah ini, beberapa pegiat Ideaksi di Mataram mulai menggagas berdirinya Sekolah Pedalangan Wayang Sasak. Dan baru bisa diresmikan tanggal 29 Mei 2015 di Desa Sesela, Lombok Barat. Mereka memilih desa itu karena di sana ada kampung budaya yang digerakkan seniman setempat. Di sini para pedalang cilik dididik menjadi pedalang handal.

Fitri Rachmawati, pegiat Ideaksi yang menggagas sekolah dalang menjelaskan, sekolah dalang adalah bagian kecil dari upaya menghidupkan kembali pewayangan Sasak. Sebab hampir sebagian besar anak-anak tidak mengenal lagi apa itu wayang Sasak. Disebabkan, tidak ada wadah bagi mereka untuk belajar dan mengetahui semua itu. Orang tua pun tidak melakukannya karena mereka juga tidak tahu.

Kekosongan ini kemudian diisi informasi dari luar, budaya-budaya dari luar yang semakin menggerus mereka dari nilai-nilai budayanya sendiri. Kondisi ini diperparah dengan pesatnya perkembangan teknologi. Anak-anak semakin akrab dengan gadget, game dan segala macam informasi bisa diakses dengan mudah tanpa ada saringan.

Tontonan anak-anak juga sebagian besar merupakan kartun atau cerita luar. Hampir tidak ada tokoh pahlawan lokal atau nasional yang dikenal. a�?Teknologi bagus bagi anak bila digunakan dengan tepat,a�? ujar Fitri.

Melalui sekolah dalang, anak-anak juga dikenalkan dengan tokoh-tokoh pahlawan lokal dalam kisah pewayangan Sasak. Seperti tokoh Umar Maye, merupakan sosok bijaksana dan suka menolong sesama, ia memiliki Gegendek sejenis kantong yang bisa mengeluarkan apa saja untuk membantu orang lain. Bila dikontekstualisasikan untuk kisah anak-anak bisa seperti kantong ajaib doraemon.

a�?Tokoh-tokoh pewayangan ini bisa dikemas lagi dalam certita kekinian sehingga mereka bisa mengerti,a�? katanya.

Kemudian ada juga Selandir, tokoh sakti mandraguna yang kekuatannya bisa sampai menendang gunung, dia sosok yang melawan orang jahat. Tokoh ini mengajarkan tentang kepedulian terhadap lingkungan, melawan orang yang merusak lingkungan.

Jayengrane, dikenal juga sebagai wong menak, seorang raja sakti mandraguna namun rendah hati, sabar dan arif bijaksana. Ada Sekardiu, hewan sakti berbentuk kura, singa dan naga, tunggangan raja jayangrane atau wong menak. Maktal, seorang raja dari Albani ahli strategi perang, ia juga dikenal sebagai pendekar ahli pedang.

Gunungan, simbol kehidupan manusia digunakan sebagai pembuka dalam setiap pertunjukan wayang. a�?Dan masih banyak tokoh dalam wayang Sasak yang perlu dikenali generasi muda kita,a�? katanya.

Dengan adanya sekolah pedalangan, ia berharap minimal warisan budaya masyarakat Sasak bisa dilanjutkan ke generasi selanjutnya. Sebab saat ini, jumlah pedalang wayang Sasak sangat sedikit, itupun usianya sudah sangat tua. a�?Regenerasi ini penting agar nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga,a�? harapnya.

Teknologi juga menurutnya tidak selamanya negatif, media ini bisa dimanfaatkan untuk itu. Program game wayang juga bisa dibuat untuk memperkaya kreasi dalam menghidupkan budaya. Hanya saat ini, Ideaksi belum memiliki tenaga yang ahli dalam bidang program itu.

Mereka memimpikan, suatu saat, selain menggunakan sarana tradisional, mereka juga bisa menggunakan pendekatan teknologi supaya semakin banyak dinekal dan diminati anak-anak. (bersambung/SIRTUPILLAILI/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys