Ketik disini

Headline Selong

Japda : Dewan Kok Seperti LSM!

Bagikan

SELONG – Hingga kini sejumlah Perturan Daerah (Perda) terkait desa masih belum jelas kapan rampungnya. Ini menyebabkan jalannya pemerintahan di sejumlah desa terganggu, karena terbentur payung hukum yang belum ada.

‘’Total ada tiga perda terkait desa yang masih proses,” kata Ketua DPRD Lotim, H Khairul Rizal.

Perda yang tersebut antara lain Perda Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), Perda Perangkat Desa dan Perda tentang BPD. Dari ketiganya, Rizal mengatakan perda terkait Pilkades merupakan yang paling dekat dengan pembahasan.

Sedang dua sisanya masih terhalang beragam hal yang belum lengkap. Itu juga dipengaruhi peraturan menteri terkait yang hingga kini belum turun. Selama Perda belum bisa dibahas untuk ditetapkan, dewan katanya berharap para kades berkoordinasi dengan BPMPD untuk mengurusi beragam hal di desa.

‘’Sembari itu, diskusikan dulu di internal desa untuk mengambil satu kebijakan,” katanya.

Terkait itu, Jaringan Aktivis Peduli Daerah (Japda) NTB menilai DPRD Lotim lamban dalam bekerja. Padahal dewan sudah diberikan sejumlah fasilitas untuk mengerjakan tugas pokok termasuk membuat perda. ”Selama ini kerjanya apa dong,” kata L Syaparuddin Aldi, Ketua Japda NTB mengkritisi.

Dia menuding dewan di Lotim terlalu terbuai dengan beragam hal yang tidak substansi. Dewan yang terlalu sering membuat Panitia Khusus (Pansus) untuk membongkar sebuah masalah disebut Aldi sebagai bentuk pekerjaan sia-sia. Jika terus seperti itu, membentuk pansus, mengumpulkan data, mengolahnya, lalu memberikan rekomendasi pada bupati, dewan dikatakan tak ubahnya bekerja seperti LSM.

‘’Yang cari data seperti itu terus beri rekomendasi kan kerjaan LSM,” ketusnya.

Dia menyarankan dewan lebih fokus pada tugas inti semisal membuat Perda. Akibat tak kunjung rampungnya sejumlah perda terkait desa, pemerintahan menjadi terganggu. Sejumlah desa terpaksa menunjuk Pelaksana Tugas (PLT) untuk mengisi jabatan kepala desa yang lowong.

‘’PLT ini dijabat kaur yang sebenarnya punya banyak kerjaan lain, kan jadi terganggu akselerasi di desa,” pungkasnya. (yuk/r14)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *