Ketik disini

Headline Pendidikan

Kabid Dikdas Lobar Dituding Arogan

Bagikan

GIRI MENANG — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lobar mendapat sentilan. Kepala SD-SMP Satu Atap 2 Kediri menuding I Dewa Gede Weda Kabid Dikdas Dikbud Lobar H Sabidin arogan. Penyebabnya, Kabid Dikdas ingin menutup sekolah yang sudah dibinanya sejak 2006. Alasan penutupan jumlah siswa kurang dari 60 orang.

“Tanpa memikirkan pentingnya sekolah tersebut bagi masyarakat sekitar Desa Montong Are Lobar ini. Kalau sekolah ini ditutup kemana anak Desa ini bersekolah,” ucap Kepala SD-SMP Satu Atap 2 Kediri Lobar I Dewa Gede Weda pada Lombok Post, kemarin.

Penyataan dari dinas, kata dia, membuat kecewa. Apalagi tanpa mempertimbangkan dampak bagi masyarakat. Sekolah tersebut sudah banyak membantu masyarakat menuntaskan wajib belajar sembilan tahun.

“Akan membuat angka drop out tinggi di desa ini. Di sisi lain, bagaimana dengan guru,” tanya dia.

Disebutkan, sebagian besar guru sudah memiliki NUPTK. Sudah mengabdi puluhan tahun. Sekolah harus tetap jalan. Karena memikirkan semua aspek.

“Harusnya (Sabidin) mengerti tentang proses pelaksanaan sekolah seatap,” ucapnya.

Menurutnya, sebelum menjadi Kabid Dikdas, Sabidin pernah menjadi kepala sekolah SD-SMP satu atap di Batulayar. Seharusnya mengeri kondisi yang ada. “Gedung ini mau diapakan jika sekolah ini ditutup,”tuturnya.

Tidak hanya Kabid Dikdas, Made pun menyemprot pengawas pendidikan yang dinilai memberikan informasi sepihak. Menurut pengawas ini kemampuan operasional masih sangat kurang. Dengan kekurangan tersebut, seharusnya memberi pembinaan kepada guru. “Satu orang pengawas memberikan pembinaan kepada 40 orang guru. Namunhal ini tidak pernah dilakukan pengawas. Mereka hanya datang tanda tangan sebagai bukti mereka berkunjung ke sekolah,”urainya.

Apa yang disampaikan pengawas, lanjutnya, berbeda dengan realita di sekolah. Ada sekolah lain yang siswanya lima orang namun tidak ditutup.

“Disini SD saja jumlah siswa kami 175 orang, sedangkan SMP 44 orang,”akunya.

Made tak keberatan jika sekolah ini ditutup, asalkan anak dipastikan bisa menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Melihat kondisi wilayah, jarang yang mau sekolah jauh.

“Jarak SMP ke sini hampir dua kilo,”ucapnya.

Apa yang disampaikan Kabid Dikdas Dikbud Lobar ini bertolak belakang dengan Kepala Dinas Dikbud Lobar H Ilham. Dikatakan, dinas tidak pernah meminta sekolah untuk ditutup. Apalagi sekolah ini mengurangi angka drop out.

“Kadis ini cukup bijak dalam menentukan keputusan. Beda dengan Kabid yang tak tahu kemana arahnya dalam membawa pendidikan Lobar ini,”sindirnya.

Karena ingin mempertahankan sekolah satu atap, Gede Weda mengaku, sempat diancam untuk dipindahkan. Ancaman tersebut tidak membuatnya surut.

“Saya tak takut. Niat saya hanya ingin anak di sekitar sekolah bisa menuntaskan wajib belajar sembilan tahun,”katanya.

Di tempat yang sama Komite SD-SMP Satu Atap 2 Kediri Lobar Munawir menilai ada provokasi di desa. Ada persaingan tidak sehat antara sekolah satu dengan yang lain. “Masak sekolah ini dibilang ditutup,”katanya.

Ia melihat ada orang yang iri dengan kemajuan sekolah. Sehingga ingin mengacaukan sekolah dengan berbagai provokasi.

“Sekolah ini untuk masyarakat. Anak yang di sini sebagian besar kurang mampu,”terangnya.

Terpisah Kadis Dikbud Lobar H Ilham saat dikonfirmasi menuturkan tidak pernah meminta sekolah ditutup. Apalagi sekolah tersebut menuntaskan wajib belajar sembilan tahun.

“Kami hanya meminta pertimbangan kepala sekolah saja,”katanya.

Ilham menegaskan apa yang disampaikan Kabid Dikdas itu salah. Sebab Dinas Dikbud tak pernah meminta sekolah ditutup.(jay/r13)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *