Ketik disini

Feature Headline

Ngejot Terbesar Digelar Tiga Tahun Silam

Bagikan

Ramadan di Lombok memiliki ciri khas tersendiri. Beberapa tradisi muncul hanya saat Ramadan hingga lebaran. Salah satu tradisi itu adalah ngejot. Tradisi berbagai makanan kepada kerabat dan tetangga ini lama dipraktekkan masyarakat Sasak. Tapi belakangan, tradisi ini mulai dilupakan.

***

DI SORE yang cerah, sehari jelang Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah, seribuan ibu-ibu dengan dandanan khas, berjalan kaki sembari membawa dulang yang berisi aneka hidangan lengkap yang telah ditata diatas piring, lengkap dengan tutup dulang warna merah yang terbuat dari anyaman daun enau atau pohon aren. Aneka hidangan dalam dulang ini diantar ke pelosok-pelosok kampung, ke rumah sanak keluarga, sebagai pertanda silaturrahim dan saling menghormati untuk jelang hari yang fitri.

Lebaran tahun itu, tradisi ngejot di Lenek jauh lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ribuan masyarakat Lenek tumpah ruah memadati lapangan umum yang terletak di depan kantor Kepala Desa Lenek Pesiraman. Mereka berbahagia melaksanakan tradisi leluhur itu, dengan kemeriahan yang luar biasa.

Festival Ngejot ini dimulai dengan prosesi adat dari tiga unsur kepemimpinan masyarakat Sasak yang ada di Lenek, yakni Mangku Adat, Pemusungan (kepala desa) dan Penghulu Agama. Sebelum memasuki tempat ritual, tiga unsur pemimpin masyarakat ini terlebih dahulu mengambil air wudhu. Sesuai adat istiadat, posisi duduk ketiga pimpinan ini disebalah utara. Pemusungan diapit Mangku Adat dan Penghulu Agama.

Selanjutnya, dilakukan prosesi penyerahan abah-abah (barang pemberian) dari perwakilan masyarakat kepada tiga unsur pemimpin masyarakat ini. Sebelum diserahkan, perwakilan masyarakat ini terlebih dahulu harus mengelilingi lokasi prosesi sebanyak tujuh kali. Abah-abah yang diserahkan ini berisi sampak atau dulang makanan, penginan atau lakesan, ceceret tanak dan teper galang (tikar dan bantal). Penyerahan abah-abah ini kemudian dilakukan dengan mengucapkan lafaz ijab-kabul, kemudian pembacaan doa yang dipimpin Penghulu Agama. Abah-abah yang diserahkan perwakilan masyarakat ini kemudian ditukar dengan makanan seperti beras, gula, buhan-buhan dan sembako lainnya.

Setelah prosesi inilah, seribuan ibu-ibu berjalan beriring mengantar dulang ke rumah sanak keluarga. Festival ini mendapatkan atensi luas dari masyarakat, sepanjang Jalan desa Lenek, berderet masyarakat menyaksikan Festival yang baru pertama kali digelar tahun lalu.

Itulah sedikit gambaran mengenai suasana tradisi Ngejot yang secara turun temurun dilaksanakan masyarakat Lenek Lombok Timur. Tradisi ngejot ini tidak hanya menjadi tradisi masyarakat Lenek, tetapi juga menjadi tradisi masyarakat Sasak Lombok. Di sejumlah desa, istilah ngejot ini dikenal dengan istilah ngater. Namun saat ini, tradisi ngejot atau ngater ini tidak lagi menjadi kebiasaan massal masyarakat.

Tidak diketahui kapan budaya Ngejot ini dilakukan saat perayaan hari raya Islam di Desa Lenek. Diyakini, tradisi ini sudah ada sebelum Islam masuk ke Lombok. Tradisi ngejot ini juga dikenal dalam masyarakat Hindu Bali yang biasnaya dilaksanakan saat hari-hari besar, istilah yang digunakan juga sama, yakni ngejot. Di Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, ngejot ini malahan melibatkan masyarakat Muslim dan Hindu.

Tradisi ngejot ini dibedakan tergantung dari tujuan ngejot. Pertama, ngejot seorang anak kepada orang tuanya sebagai wujud permintaan maaf dan merupakan wujud rasa hormat dan bakti kepada kepada orang tua atas asuhan sejak lahir hingga ke jenjang pernikahan. Ada juga ngejot kepada saudara tertua dari adik-adiknya sebagai bentuk rasa hormat.

Ada juga ngejot seorang kerabat dan keluarga lainnya untuk tetap menjalin kekeluargaan dan silaturahmi. Dan terakhir, ngejot warga kepada pemimpinnya, sebagai bentuk saling memaafkan antara masyarakat dengan pemimpinnya dan sebagai ucapan syukur terima kasih kepada pemimpin yang dianggap bisa memberikan tauladan.

‘’Ngejot ini wujud aktualisasi ajaran Islam agar umat tidak bercerai berai dengan sesama dan untuk menyambung silaturrami,’’ kata tokoh pemuda Lenek Lalu Saparudin.

Tradisi membawa makanan dalam masyarakat Sasak memang sudah lumrah. Tapi selama ini tradisi membawa makanan dalam dulang itu, dilakukan ketika Maulid Nabi, kerja bakti di masjid, atau ketika pengajian. Di beberapa tempat disebut naekang (menaikkan). Pada bulan Ramadan, warga biasanya membawa makanan untuk berbuka, dan bekal untuk tadarusan. Di kota-kota inilah yang kemudian menjadi acara buka bersama di masjid atau musala. Tapi dalam tradisi ngejot ini, pemberian makanan itu dari pribadi ke pribadi. Tidak dikumpulkan seperti tradisi naekang itu.

Makanan yang dibawa ketik ngejot itu adalah makanan terbaik, dimasak sendiri. Di kampung-kampung, dulunya, tradisi membagi makanan kepada tetangga atau kerabat ini sudah biasa. Jika memasak lauk berlebihan, sebagian diberikan ke tetangga. Sementara dalam ngejot memang khusus memasak untuk orang yang akan diberikan. (Fathul Rakhman)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *