Ketik disini

Opini

Puasa Ramadan sebagai Edukasi Diri

Bagikan

* Oleh: H Ropii, S.Ag
(Karyawan Kementerian Agama Prov. NTB)

Bulan Ramadan dalam sejarah perjalanan Islam menjadi saksi yang didalamnya terjadi suatu peristiwa dimana umat Islam memperoleh kemenangan besar. umat Islam meraih kemenangan besar dalam perang badar terjadi dalam bulan Ramadan, umat Islam meraih kemenangan dalam penaklukan kota mekkah terjadi di bulan Ramadan, bangsa kita mengusir kafir penjajah dan meraih kemerdekaan yang mainstream dilakoni umat Islam atas rahmat Allah terjadi juga di bulan Ramadan. Dan bagi kita kaum muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan pada kesekian kali Ramadan berikhtiar meraih kemenangan dan kemerdekaan dari jajahan hawa nafsu atau setidak-tidaknya kita sedang berjuang menundukkannya.

Perjuangan menundukkan hawa nafsu merupakan perjuangan besar dan berat dikarenakan nafsu tersebut bagian dari diri setiap insan. Ketika Rasulullah SAW baru kembali dari perang badar yang merupakan peperangan terbesar dalam sejarah perjuangan Islam yang telah mengorbankan sejumlah syuhada’ beliau bersabda:

“kita telah kembali dari perang kecil menuju perang besar. Para shahabat bertanya, apakah perang terbesar itu ya Rasulullah? Beliau menjawab; perang menundukkan hawa nafsu”.

Memang jika kita lihat secara syar’i bahwa dalam juklak juknis puasa hanya terdiri dari dua rukun yakni berniat dan menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Sangat simple dan sederhana, tetapi dibalik kesederhanaannya ternyata puasa menyodorkan kita tantangan berat berupa menundukkan hawa nafsu. Seakan-akan kita ditantang oleh bulan ini sembari mengatakan pada kita “langkahi dulu nafsumu!”. Dan uniknya perkara yang ditundukkan itu berada dalam setiap diri, NAFSU. Sederhana tapi cukup menantang. Pantaslah Nabi SAW menegaskan dalam sebuah hadits beliau bahwa orang yang kuat bukanlah yang mampu mengalahkan musuh di medan laga tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menundukkan/mengendalikan nafsu amarahnya (emosinya). Luar biasa! Lebih lanjut lagi perlu kita ketahui bahwa puasa Ramadan tidak mendidik kita membunuh hawa nafsu, tentu tidak dong !! hanya menundukkan. Sebab jika nafsu dibunuh kita akan mengalami kerugian besar dalam hidup ini. Kita makan minum karena ada nafsu, kita kerja karena ada nafsu, kita cari uang karena ada nafsu, kita belajar karena ada nafsu, kita menikah karena ada nafsu dan lain sebagainya. Dengan demikian puasa Ramadan tidak mendidik kita untuk hidup sadisme sampai membunuh nafsu, tapi sekedar menundukkan nafsu. Lagi sekali “sekedar” menundukkan, tapi wow ! beratnya setengah maut. Berikutnya lagi, apakah setelah kita menundukkannya lantas perkara selesai ?? disinilah letak beratnya lagi. Bila kita telah mampu menundukkan hawa nafsu maka perjuangan selanjutnya adalah mempertahankan diri untuk tidak lagi dikuasai oleh hawa nafsu kita. Sampai kapan ? seumur hidup kita. Inilah sehingga puasa Ramadan menjadi ibadah yang sederhana tetapi sangat menantang. Inilah jihad. Oleh karena itulah tidak sepatutnya manusia mencari-cari musuh sebab musuh itu bermarkas dan bersembunyi pada setiap diri, itulah nafsu.

Ibnu ‘Athoillah menjelaskan :

“Peran nafsu dalam maksiat itu jelas nyata, tetapi perannya dalam taat sangat halus dan tersembunyi. Untuk menyembuhkan yang tersembunyi itu sangatlah susah”.

Ulama menjelaskan: “Berbahagialah orang yang hawa nafsunya menjadi tawanan akalnya, dan celakalah orang yang akalnya menjadi tawanan hawa nafsunya”.

Berangkat dari hal tersebut diatas maka sepatutnya kehadiran bulan Ramadan yang setiap tahun kita jalani harus dilandasi dengan imanan (aqidah) dan ihtisaban ( dgn kesungguhan mencari ridho Alloh). Karena tujuan puasa Ramadan ujungnya adalah taqwa dan taqwa mustahil diraih tanpa iman. Ini prinsip. Cobalah kita kembali pada ayat Alquran yang menjelaskan perintah berpuasa. Yang diperintah berpuasa adalah orang yang beriman. Dan kita ditunjukkan jalan atau media strategis untuk sampai ke taqwa yaitu dengan berpuasa Ramadan. Dan jelas berpuasa disini bukan untuk alasan medis, diet, sembako mahal, dan lain sebagainya melainkan karena alasan tujuan taqwa. Kenapa harus taqwa? Karena taqwa merupakam tangga berkelas, bergengsi dan termahal dalam bertaqarrub kepada Alloh SWT. Dan taqwa merupakan bekal terbaik untuk dibawa mati. Derajat taqwa itu tidak mustahil untuk diraih, bukan derajat fatamorgana, dan peluang untuk menjadi taqwa tidak memandang ulama’ atau umaro’, miskin kaya, laki perempuan, semua diberi kesempatan untuk menduduki kursi taqwa dengan persyaratan yang tidak bisa ditawar, IMAN. Dan ini bukan khayalan. Karena dalam ayat itu menggunakan kalimat la’alla-kum yang dalam tata bahasa arab (nahwu) bahwa ia termasuk kalimat tamanni litarojji (harapan yang bisa diharapkan untuk diraih) bukan kalimat tamanni litawaqqu’ ( harapan yang mustahil diraih). Terlebih harapan menjadi taqwa melalui puasa tersebut disampaikan oleh Alloh Yang Maha Benar.

Menurut imam al-Gazali bahwa seseorang untuk sampai ke derajat taqwa harus menempuh beberapa tahapan, yakni iman, islam, ihsan dan ikhlas barulah taqwa. Diri kita baru sampai mana? Barangkali ikhlas yang sulit kali ya ? kalau beramal seikhlasnya mungkin semua orang mampu ; bersedekah seribu dua ribu, bahkan bersedekah dengan senyuman. Tapi ikhlas dalam setiap amal, sudah mampukah ?.

Ikhlas itu bersifat rahasia dan berada satu tingkat dibawah taqwa. Suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh para shahabat, ya Rasulullah, bagaimanakah ikhlas itu ? Rasulullah tidak memberi jawaban, maka beliau bertanya kepada Jibril As. Ia pun tidak mengetahui hakikat ikhlas, kemudian Jibril As memohon jawaban kepada Alloh SWT sehingga DIA memberitahu Jibril bahwa ikhlas itu rahasia antara AKU dan hambaKu.

Mungkin bisa saja seseorang mengatakan ikhlas dalam berbuat, tapi tidak semestinya ikhlas sebagai sesuatu yang mulia didudukkan pada tempat yang tercela sehingga tidak patut seseorang mengatakan umpamanya “ gue walaupun merampok tapi gue ikhlas”. “gue walaupun mengumbar aurat tapi hati gue ikhlas” atau yang sejenisnya – lah. Ikhlas diletakkan pada amal yang ihsan (baik).Dalam perbuatan baikpun tidak sayogianya memproklamirkan keikhlasan.

Dengan demikian taqwa memang sulit untuk diraih tapi jika betul focus dan istiqomah menjadikannya target pencapaian tentu dapat diraih. Pepatah arab mengatakan -man jadda wa jada- (siapa yang bersungguh-sungguh pasti mendapatkannya).

Bulan Ramadan sebagai madrasah untuk kita mendidik diri kita menjadi manusia muttaqun yang didalamnya kita memperoleh fasilitas pendidikan favorit untuk media kita menggapai taqwa. Didalam madrasah Ramadan terdapat rahmat, magfirah, itqum minannar, tarawih, berzakat fitrah, ghirah shodaqoh, malam lailatul qadar, nuzulul Qur’an dan amalan wajib serta nawafil (sunnah) lainnya, imbalan pahala berlipat, semuanya bisa menjadi media unggulan untuk dapat menduduki kursi taqwa.

Sebagai bulan yang penuh rohmat dan barokah Ramadan menghadirkan perasaan dan jiwa yang mendalam kepada setiap kaum muslimin untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Diriwayatkan bahwa apabila tiba akhir Ramadan, menangislah tujuh lapis langit dan bumi dan seluruh malaikat karena berlalunya Ramadan dan fadhilahnya. Karena kepergian bulan Ramadan merupakan musibah bagi umat Muhammad SAW. Para sahabat bertanya, “apakah musibah dengan kepergian Ramadan ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena di bulan Ramadan doa mustajab, sedekah diterima, segala kebajikan dilipat gandakan dan siksa kubur terangkat. Maka apakah musibah yang terlebih besar daripada berlalunya Ramadan bagi umatku?”.

Oleh sebab itulah apabila bulan Ramadan kita jalani sesuai dengan hakikat puasa yang intinya mampu mengendalikan hawa nafsu atas dasar imanan ihtisaban digambarkan bagaikan kelahiran seorang anak manusia yang kehadirannya membahagiakan manusia sekelilingnya, tatapan matanya menyejukkan, kaki tangannya tidak menyakitkan orang disekitarnya, ucapannya tidak menyinggung perasaan, Kepada dirinya ditumpahkan segala harapan kedepan. Itulah sebagian dari hasil tarbiyah puasa Ramadan. Semoga bulan Ramadan kali ini dapat kita jadikan kesempatan mengedukasi diri. Amiin ya rabbal ‘alamiin. (*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *