Ketik disini

Headline Sumbawa

Kantor Dikbudpora KSB Digeledah Jaksa

Bagikan

TALIWANG – Satuan khusus pemberantasan korupsi Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumbawa menggeledah kantor Dinas Pendidikan, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) KSB, kemarin. Sejumlah dokumen penting disita.

Dokumen-dokumen yang disita itu terkait proyek pembangunan rumah adat tahun 2014 senilai Rp 2,9 miliar. Proyek itu dimenangkan CV Agung Sembada, perusahaan asal Tuban, Jawa Timur. Satuan khusus ini mulai melakukan penggeledahan pada pukul 13.40 Wita hingga pukul 15.40 Wita. Selama tiga jam, seluruh ruang kerja sekretariat Dikbudpora KSB digeledah. Satu per satu dokumen dan berkas yang berkaitan dengan proyek itu bongkar. Selain melakukan penggeledahan di ruangan sekretariat Dikbudpora, jaksa juga memeriksa ruang kerja Sekretaris Dikbudpora KSB.

Di tempat ini, terdapat sejumlah dokumen penting yang ditemukan. Dokumen-dokumen itu kemudian diteliti dan dimasukkan dalam boks berukuran besar dan langsung diamankan untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut. Satuan khusus kejari Sumbawa kemarin dipimpin langsung Kasi Pidsus Iwan Kurniawan dan Kasi Intel Eka Sabana Putra SH. Tidak hanya membongkar ruangan sekretariat, ruang bendahara Dikbudpora juga sempat digeledah.

”Kedatangan kami saat ini berkaitan dengan penyidikan kasus rumah adat tahun 2014. Saya bersama tim turun ke Dikbudpora dan langsung melakukan penggeledahan,” jelas Kasi Pidsus Kejari SumbawaDinasA� Iwan Kurniawan didampingi Kasi Intel Eka Sabana Putra usai penggeledahan kantor Dikbudpora, kemarin.

Iwan menyebut dari hasil penggeledahan yang dilakukan, pihaknya menemukannya sejumlah dokumen kaitannya dengan proyek rumah adat. Dokumen yang ditemukan tim ini cukup banyak dan berbeda-beda. Beberapa tanggal surat masuk dan keluar selama proyek itu berlangsung terjadi perbedaan mencolok. ”Iya ada empat dokumen yang diambil, kaitannya dengan proyek itu semua. Setelah penggeledahan ini, agenda ke depan, kami akan memanggil keterangan tambahan sejumlah saksi,” janjinya.

Pantauan Koran ini, sekitar pukul 13.40 Wita, satuan khusus ini mulai melakukan penggeledahan ruangan sekretariat Dinas Dikbudpora KSB. Di tempat ini, sejumlah pegawai sekretariat ditanya satu per satu terkait sejumlah dokumen yang ditemukan penyidik kejaksaan. Arsip surat masuk dan keluar selama proyek itu berlangsung diteliti satu persatu. Penyidik sempat mendalami sejumlah hal yang ditemukan di lapangan, terutama terkait dengan surat dan proses administrasi antara surat yang dikeluarkan dengan yang tercatat dalam buku register. ”Minta tolong ini dicarikan file aslinya. Pasti Dikbudpora punya salinan aslinya, karena kita mau cocokkan lagi dengan yang diberikan kepada kami,” tegas salah satu penyidik di lokasi.

Bahkan salah seorang pegawai sekretariat setempat sempat dimintai keterangan di ruangan Sekdis. Satu orang ini dimintai keterangan terkait dengan tidak ditemukannya sejumlah file penting yang asli. Sebaliknya, kejaksaan hanya menemukan file-file itu dalam flasdisk yang sudah digandakan. ”Jangan yang diflasdisk. Harus cari file aslinya,” tegas penyidik lagi sambil mengutak atik salah satu laptop milik pegawai setempat.

Kejaksaan juga sempat meminta arsip terkait dengan berkas konsultan yang mengawasi proyek tersebut. Penyidik tidak bisa menemukan dokumen yang dibutuhkan dan akhirnya melanjutkan penggeledahan di ruang bendahara. ”Kalau arsip yang berkaitan dengan konsultan itu dimana? Kita juga butuh data dan dokumennya,” tambah salah satu penyidik lagi.

Dokumen itu ternyata tersimpan di ruangan bendahara. Penggeledahanpun akhirnya berpindah tempat. Hanya saja di tempat ini proses tersebut tidak lama. Saat penggeladahan berlangsung Kepala Dikbudpora KSB, Drs Mukhlis M Si, juga ikut mendampingi. Namun tidak lama, Mukhlis memilih meninggalkan ruangan sekretariat. Sementara Sekdis Dikbudpora KSB selaku pemilik ruangan yang digeledah kemarin, tidak berada di tempat. Menurut informasi yang disampaikan pihak kejaksaan sendiri, Sekdis tengah berada di Sumbawa.

”Ada banyak yang tidak tahu terkait dengan surat menyurat dalam proyek tersebut. Karena surat menyurat seperti ini bukan hanya ditanggani satu orang. Tapi setiap proyek itu berbeda-beda pencatatnya,” jelas sejumlah staf sekretariat Dikbudpora saat satu persatu ditanyai tim jaksa. (far/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys