Ketik disini

Praya

Putrie: Lombok Baru Dirusak Warga

Bagikan

PRAYA – Terdakwa A�HL Muhammad Putrie memberikan sanggahan dalam lanjutan persidangan kasus perusakan Hotel Lombok Baru di Pengadilan Negeri (PN) Praya, Lombok Tengah (Loteng) kemarin. Pria yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata A�(Budpar) Loteng ini menekankan, robohnya bangunan Lombok Baru terjadi karena ketidakpuasan warga desa setempat.

Dimana, dari sekian banyak bangunan hotel, kafe dan restoran hanya Lombok Baru yang tersisa. Permasalahan itu, ungkap Putrie membuat warga melakukan aksi unjuk rasa pada 15 Oktober 2013 lalu.

“Mereka mendemo kami, Mereka mendesak kami agar bangunan Lombok Baru itu diruntuhkan,” kata Putrie, kemarin dihadapan mejelis sidang.

Di depan sidang, Putrie menceritakan, A�saat itu warga mencurigai tim dan pemerintah seolah a�?a��mendukunga��a�� hotel milik A�Minarni tersebut. Namun, pihaknya mengaku penundaan perobohan hotel Lombok Baru karena menunggu prosedur hukum yang berlaku.

Dimana, pihaknya terlebih dahulu A�mengeluarkan surat teguran sebanyak tiga kali, melakukan kajian teknis dan non teknis, tinjauan yuridis dan lain sebagainya. Namun di tengah perjalanan, terang Putrie warga justru tidak sabaran. Mereka melakukan pengerusakan hotel yang dimaksud, hingga rata dengan tanah.

“Saya baru tahu kejadian itu, setelah saya dihubungi salah satu warga yang menyaksikan pengerusakan tersebut. Saya pun menyampaikan melalui saluran telepon dan menyayangkan serta menyesalkan kajian itu,” ujarnya.

Atas dasar itulah, pihaknya berharap agar majelis hakim mengedepankan sisi obyetifitas dalam menegakkan keadilan dan hukum. Apalagi, kebijakan relokasi dan penertiban itu murni kepentingan umum. Bukan pribadi atau kelompok tertentu.

“Prinsipnya, saya tidak pernah melakukan kesalahan prosedural,” katanya.

Terbukti, terang Putrie setiap pelaksanaan relokasi dan penertiban, pihaknya tidak pernah mendapat teguran lisan maupun tulisan dari pembina tim, bupati, wakil bupati, PN, Kejaksaan Negeri (Kejari), Polres dan Kodim.

“Dilokasi penertiban, kami tidak pernah berbenturan dengan warga,” kata salah satu tokoh terpandang wilayah selatan tersebut.

Sementara itu, di akhir sidang ketua PN Praya I Nyoman Wiguna menambahkan bahwa agenda persidangan berikutnya yaitu penuntutan, tanggapan dan putusan. “Dua minggu kedepan, kita kembali melaksanakan persidangan. Sidang ditunda,” seru Wiguna sembari memukul palu sebanyak tiga kali.(dss/r14)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys