Ketik disini

Giri Menang

Yang Kumuh 20 Ribu, Kemampuan Cuma Seribu

Bagikan

GIRI MENANG – Pemkab Lombok Barat tak menampik, jika rumah kumuh kini masih menjadi momok. Lantaran keterbatasan anggaran, butuh waktu puluhan tahun, untuk dapat melihat tak ada lagi rumah kumuh di Gumi Patut Patuh Patju.

“Secara keseluruhan, saat ini rumah tidak layak huni di Lombok Barat mencapai 20 ribu unit,” kata Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Lombok Barat, Ramadhan Hariyanto.

Saat ini kata dia, kemampuan pemerintah menggelontorkan pembenahan rumah kumuh hanya 1.000 sampai 1.500 unit per tahun. Keterbatasan fiskal daerah menyebabkan program tak bisa menyasar lebih dari itu.

Dia mengatakan, tahun ini pihaknya hanya mampu menyiapkan dana Rp 5,4 miliar. Pemkab Lobar pun dibantu provinsi Rp 7,8 miliar. Totalnya mencapai Rp 14 miliar untuk pembenahan 1.520 unit.

Dia mengatakan, perbaikan rumah kumuh itu telah diusulkan sejak tahun 2009 silam. Saat itu, jumlah yang diusulkan sebanyak 46 ribu lebih. Usulan disampaikan ke pemerintah pusat. Setelah bantuan rumah turun dari pusat, jumlah rumah kumuh menurun menjadi 20 ribu unit.

Sementara, Plt Bupati Lobar Fauzan Khalid mengaku, bantuan rumuh kumuh menjadi prioritas. Namun, pengentasan diselesaikan secara bertahap.  Ia mengatakan keluarga miskin memang memiliki barometer. Salah satu ukuran yang memberikan kontribusi kemiskinan yakni rumah. ”Tahun ini 1.500 rumah yang direhab,” kata dia. Ke depannya kata dia, daerah bukan berlari tapi lebih dari berlari untuk perbaikan rumah ini.

Menurut dia, perbaikan rumah ini butuh waktu lama. Guna mempercepat perbaikan rumah tidak layak huni, pihaknya telah meminta kades untuk menyerahkan data rumah kumuh di desanya. ”Hasilnya itu luar biasa banyak,” akunya.

Lebih lanjut, Fauzan menyebutkan, kemiskinan saat ini menjadi masalah besar dengan dinamika yang makin kompleks. Ini juga menjadi isu sentral bangsa yang secara berkelanjutan. ”Harus tertuntaskan supaya ada penurunan kemiskinan,” terang dia.

Kemiskinan ini bisa dilihat dari indikatornya antara lain, tingkat pendapatan masyarakat yang masih rendah, derajat kesehatan juga masih rendah, tak teraksesnya hak pendidikan, serta akses barang dan jasa yang tak bisa terpenuhi standarisasinya, letak geografis dan kondisi lingkungan. ”Inilah yang sangat berpengaruh terhadap kemiskinan secara langsung ataupun tak langsung khususnya di Lobar,”ujarnya. (jlo/r12)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *