Ketik disini

Ekonomi Bisnis Headline

Awalnya Cuma Jual 50 Bungkus Per Tiga Hari

Bagikan

Muhammad Badrul Ulum patut dicontoh anak muda NTB. Di usianya yang masih muda dia berhasil merintis usaha kripik pedas. Dengan sistem pemasaran yang kreatif lulusan Fakultas Hukum ini, mampu menjangkau pasar hingga ke luar Pulau Lombok.

***

SINGKONG merupakan salah satu primadona usaha di bidang kuliner. Selain karena mudah dicari, juga karena sejak dahulu singkong sudah akrab dan menjadi makanan yang digemari berbagai kalangan.

Ditambah lagi, kesuksesan keripik pedas merajai pasaran terutama di Pulau Jawa, turut mendorong munculnya pelaku bisnis serupa. Melihat permintaan pasarnya semakin hari semakin pesat, banyak pelaku bisnis camilan di Kota Mataram yang menekuni bisnis keripik singkong pedas ini. Salah satunya Muhammad Badrul Ulum.

Dia mengungkapkan, awal ia merintis bisnis camilan ini karena dorongan ekonomi keluarganya yang saat itu terbilang sulit. Sebelumnya dia sempat menekuni bisnis saat baru duduk di semester empat pada salah satu perguruan tinggi di NTB. Namun saat itu, usaha yang dirintis pria yang disapa Ulum ini macet. Penyebabnya dia tidak fokus mengembangkan usaha karena sibuk dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan penyusunan skripsi.

Dari sini Ulum kemudian mulai mencari ide baru untuk merintis usaha. Apalagi dia harus menghidupi keluarga dan membiayai adiknya yang akan masuk perguruan tinggi.

Setelah berdiskusi dengan kakak pertama, ia akhirnya memutuskan memproduksi keripik singkong pedas dengan cita rasa yang berbeda. Dengan mengandalkan tingkat kepedasannya, Ulum mencoba menciptakan keripik singkong yang murah, terdiri dari berbagai varian rasa.

Awal merintis bisnis keripik yang belakangan diberi label Micu ini, Ulum menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah memperkenalkan produk tersebut kepada konsumen. Awalnya dia mempromosikan produknya pada teman-temannya di kampus. Mereka ini belakangan mempromosikan produk tersebut melalui media sosial.

Lelaki kelahiran 13 Juli 1993 ini juga memasarkan produknya kepada khalayak ramai. Serta menitipkan produknya pada dua mini market di Kota Mataram. Sebagai salah satu produk baru, tentunya penjualan produk keripik Micu belum memuaskan. Per tiga hari rata-rata penjualan di mini market sebanyak 50 bungkus.

a�?Namun kadang-kadang tidak sebanyak itu,a�? tuturnya.

Disinilah mental bisnis Ulum mulai diuji. Ia hanya memiliki dua pilihan, yaitu mau lanjut membesarkan bisnis keripik singkong tersebut, atau berputar haluan mencari pekerjaan lain. Akhirnya Ulum memilih fokus memasarkan produknya.

Dia lantas mulai menyusun strategi pemasaran kreatif untuk mendongkrak penjualan setiap bulan. Salah satunya dengan menawarkan sistem penjualan kembali atau reseller. Ulum juga mulai memberdayakan mahasiswa, teman atau kenalannya untuk ikut berjualan keripik Micu. a�?Ada yang antusias membantu jual di kampus beramai-ramai, ada pula saya temukan reseller melalui media sosial,a�? terang Ulum.

Terbukti strategi pemasaran tersebut cukup efektif untuk mendongkrak penjualan produknya. Dalam sehari ia bisa menjual sedikitnya 100 bungkus keripik Micu dengan omzet per bulan mencapai jutaan rupiah.

Kini, tidak hanya Kota Mataram saja yang menjadi sasaran penjualan para reseller. Perkembangan bisnis keripik singkong pedas ini, semakin hari semakin pesat hingga ke luar Pulau Lombok. Bahkan pasar Pulau Jawa mulai dijamah keripik singkong Micu camilan khas Lombok yang memiliki tagline a�?Pedasnya pooll..!!!a�? ini.

Ulum berharap, keberhasilannya menjadi pengusaha sukses dari keripik singkong pedas ini bisa memberikan inspirasi baru. Dia memotivasi seluruh masyarakat Indonesia khususnya NTB, untuk tidak ragu terjun di dunia usaha.

a�?Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses,a�? tutupnya. (Lestari Dewi/r4)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *