Ketik disini

Praya

Banyak Peziarah Datang dari Mancanegara

Bagikan

TGH M Ali Masnun merupakan salah satuA� keturunanA� pendiri masjid kuno Sumbek. Dia wafat pada 18 Juli 2013 atau bertepatan pada 9 Ramadhan 1434 hijriah.

***

HINGGA kini, masjid itu dijaga dan dirawat H Abdul Majid,A� anak ketiga dari almarhum TGH M Ali Masnun. Setiap hari dia menjaga bangunan suci tersebut. Karena, kebetulan kediamannya berdekatan langsung dengan masjid. Sejak tongkat estafet dipegang dirinya, ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan.

Salah satunya adalah, tidak diperkenankan masyarakat umum menggunakan ruang utama masjid sebagai tempat peribadatan salat lima waktu. Kecuali, salat Jumat dan hari besar agama. Hal itu diberlakukan untuk menjaga kelestarian benda cagar budaya yang dimiliki masjid.

Abdul Majid membeberkan bahwa, moyangnya terdahulu TGH Abdul Ghafur memiliki hubungan nasab dengan TGH M Amin, TGH M Said, hingga terakhir orang tuanya TGH M Ali Masnun. Keberadaan mereka, cukup memberi arti dalam perjalanan syiar Islam di Gumi Tatas Tuhu Trasna khususnya dan Pulau Lombok umumnya. Karena itulah para peziarah baik dari Indonesia maupun mancanegara kerap menziarahi pusaraA� para pemuka Islam ini.

a�?Dimata saya, beliau itu luar biasa. Karena, percaya atau tidaknya, beliau tetap hadir dalam kehidupan saya, baik langsung maupun dalam mimpi,a�? ujarnya.

Setiap kedatangannya, menurut Abdul Majid selalu berpesan untuk merawat dan menjaga masjid serta kolam tempat wudu. Karena, rumah Allah SWT itu dibangun dengan susah payah oleh kpara pendahulu. Atas dasar itulah, dia pun memutuskan diri mengabdi untuk masjid dan makam ini.

a�?Peninggalan keturunan saya terdahulu yang masih bertahan dan bisa dilihat secara langsung adalah kolam tempat wudu. Kedalamannya, membuat pemerintah melakukan penembokan keliling kolam pada 25 Oktober 1999,a�? ujar Abdul Majid.

Kebijakan itu dilakukan pada era Gubernur NTB Harun Al Rasyid. Dia pun meresmikan bangunan tembok keliling kolam masjid yang dimaksud. Tujuannya, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi jatuhnya korban. Menginggat, kedalaman kolam tersebut setinggi bambu tua.

Kolam tempat wudu yang digali dan dibangun TGH Abdul Ghafur, diperkirakan bersamaan dengan pembangunan masjid pada tahun 1792 silam. Keberadaannya cukup membantu warga lingkar masjid dalam memenuhi kebutuhan pertanian dan rumah tangga. Kendati musim kemarau, airnya tidak pernah kering.

Karena ditembok keliling, kolam itu pun sebagai penghias masjid saja dan catatan sejarah masa lalu. Namun, air kolam tetap difungsikan untuk wudu, dengan cara menyedot air menggunakan pompa, lalu diproses sedemikian rupa hingga bersih.

a�?Secara kasat mata, kolam itu kelihatan dangkal. Namun, jika diukur cukup dalam. Tapi, Alhamdulillah kekhawatiran pemerintah tidak pernah terjadi. Karena, kami yakin Allah SWT Maha Pelindung,a�? ujarnya.(Dedi Shopan Shopian/Lombok Tengah/Bersambung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *