Ketik disini

Headline Praya

BIL Lumpuh Total

Bagikan

PRAYA – Terhitung pukul 06.10 Wita – 21.30 Wita kemarin penerbangan di Bandara Internasional Lombok (BIL) lumpuh total. Tidak ada aktivitas penerbangan. Kecuali, kesibukan para penumpang yang menukar tiket untuk digunakan pada penerbangan berikutnya.

Hal itu terjadi, akibat meletusnya Gunung Raung di perbatasan Situbondo-Banyuwangi, Jawa Timur. Sehingga, otoritas bandara pun mengeluarkan kebijakan menutup total arus penerbangan selama 15 jam. Penerbangan kembali di buka di atas pukul 21.30 Wita atau disesuaikan dengan kondisi alam.

a�?Kita sama-sama berharap bencana ini secepatnya selesai. Sehingga, tidak mengganggu penerbangan,a�? kata General Affair and Communication, PT. Angkasa Pura (AP) 1, BIL, Gede Eka Sandi Asmadi, kemarin.

Pantauan Lombok Post, para penumpang menumpuk di beberapa area. Mereka tidak bisa berbuat banyak lantaran bencana yang dimaksud. Karena itulah otoritas bandara meminta kepada semua maskapai penerbangan untuk mengganti tiket penumpang.

Namun demikian, ada juga sebagian penumpang yang harus kecewa karena banyak agenda penting yang tertunda lantaran bencana tersebut.
a�?Tapi, mau bagaimana lagi. Yang jelas, ini bukan kehendak manusia. Melainkan, Sang Maha Pencipta,a�? ujar salah seorang penumpang.

Sandi menambahkan para penumpang itu diberikan layanan khusus dari otoritas bendara, meliputi antar jemput yang menggunakan mobil Damri. Mereka pun tidak dikenai biaya. Sementara, urusan layanan lainnya menjadi tanggungjawab maskapai penerbangan.

a�?Kami sudah mengeluarkan pengumuman melalui pengeras suara agar para penumpang bersabar,a�? ujarnya.

Dia membeberkan, jika pelayanan penerbangan lumpuh selama 15 jam, maka sedikitnya ada 33 penerbangan yang tertunda. Jumlah itu bisa bertambah jika hingga pukul 21.30 Wita pihak berwenang belum mengeluarkan izin penerbangan.

a�?Di atas pukul 21.30 Wita, ada satu sisa penerbangan langsung Lion Air JT650 dari Jakarta yang datang pukul 22.30 Wita,a�? katanya.

Jadwal penerbangan yang tertunda tersebut antara lain maskapai Lion Air : JT651, JT273, JT865, JT975, JT177, JT657, JT975, JT642, JT274 dan JT650. Garuda GA431, GA7031, GA435, GA7034, GA433, GA7032, GA365, GA437, GA7821, GA441, GA7030 dan GA432. Selanjutnya, Wings Air IW1857, IW1853, IW1851, IW1882 dan IW1963.

Lalu, maskapai penerbangan Citilink dengan nomer penerbangan QG665, QG896 dan QG661. Kemudian, Air Asia AK309 dan AK307. Berikutnya, Batik Air ID6957 dan ID6659. Sementara jumlah penumpangnya, lanjut Sandi diperkirakan mencapai tiga ribuan orang, baik penumpang domestik maupun internasional.

a�?Tapi, persoalan ini bukan terjadi di BIL saja. Ada lima bandara lainnya di Indonesia mengalami hal yang sama. Salah satunya, Ngurah Rai Denpasar Bali,a�? ujarnya.

Untuk memberikan kepastian waktu pelayanan penerbangan kembali pulih, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Kendati demikian, pihaknya juga belum memikirkan bagaimana solusi pelayanan penerbangan hari berikutnya pada Sabtu (hari ini) dan Minggu besok. Mengingat, penumpukan penumpang pada Jumat, kemarin tentu membuat otoritas bandara harus mengeluarkan kebijakan penambahan penerbangan.

a�?Bagi kami untuk saat ini, yang penting keselamatan penumpang paling utama dan memberikan pelayanan maksimal, sehingga mereka tidak kecewa,a�? tambah Sandi.

Sementara itu, Nurul Wahyuni, salah seorang penumpang menuturkan pada Kamis sore (9/7), ia sudah naik ke pesawat dan hendak berangkat, namun tiba-tiba penerbangan dibatalkan karena alas an cuaca.

a�?Citilink yang sudah berangkat duluan akhirnya balik juga,a�? tuturnya.

Guru yang sehari-hari menjagar di Lombok Timur ini hendak mudik ke Surabaya sempat khawatir dengan situasi tersebut. Namun ia bersyukur pesawat belum berangkat dan pihak maskapai memperlakukan mereka dengan baik.

a�?Semalam kita diinapkan di hotel,a�? tuturnya.

Sementara Danti, penumpang yang hendak pulang ke Jogkarta memilih tidak mengambil uang kembali. Ia meminta dijadwalkan kembali agar tetap bisa mudik ke kampung halaman

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) NTB Agung Hartono mengatakan total ada 90 penerbangan yang batal selama penutupan BIL tersebut. Terdiri dari 45 penerbangan menuju BIL dan 45 penerbangan yang diberangkatkan dari BIL.

a�?Dampak dari erupsi Gunung Raung ini tidak saja pada penutupan BIL. Melainkanjuga penutupan bandara internasional di Bali,a�? jelasnya.

Diakui, penutupan ini mau tidak mau memengaruhi kelancaran arus mudik penumpang yang saat ini sudah memasuki H-7 lebaran. Dishubkominfo NTB pun ikut membantu mengkomunikasikan masalah ini kepada penumpang. Mereka diberikan pilihan untuk refund atau mengambil uang kembali ataupun melakukan reservasi ulang atau penjadwalan penerbangan kembali.

a�?Kita berharap erupsi ini segera mereda agar penerbangan kembali lancar. Apalagi sekarang sudah memasuki arus mudik dan aktivitas penerbangan semakin tinggi,a�? katanya.

Selain BIL, Bandara Ngurah Rai Bali juga lumpu. Pihak PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai menutup segala jenis penerbangan dari dan menuju Bandara Ngurah Rai. Walhasil, ribuan orang penumpang pun terdampar di bandara berkapasitas 25 juta penumpang setiap tahun itu.
Meski telah diumumkan tutup sejak Kamis malam, penumpang tetap setia lesehan duduk di lantai. Sudut Bandara Ngurah Rai yang biasanya terlihat bersih dan lengang pun tampak padat.

General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Trikora Harjo kepada Radar Bali (Jawa Pos Group) mengungkapkan, penyebaran abu vulkanik Gunung Raung sangat tidak aman bagi penerbangan. Pasalnya, ketinggian abu vulkanik Gunung Raung mencapai 20 ribu kaki. Abu ini menutupi seluruh udara Bali. Kondisi ini tentu cukup membahayakan bagi pesawat yang sedang terbang. Tidak itu saja. Beberapa penerbangan sejak Kamis malam juga dialihkan pendaratannya ke bandara lain (divert).

“Abu vulkanik Gunung Raung mengarah ke timur, sehingga menutupi seluruh rute dan dan menuju Bali,” papar Trikora.

Selain Bandara Ngurah Rai Bali, Bandara Internasional Lombok, dan Bandara Selaparang Mataram, Bandara Blimbingsari Banyuwangi dan Bandara Notohadinegoro di Jember ditutup. Trikora menegaskan, berdasarkan Notice to Airman (Notamn) yang dikeluarkan oleh Airnav Indonesia Cabang Bali, awalnya penutupan bandara terpaksa diperpanjang karena kondisi yang belum memungkinkan.

“Penutupan awal direncanakan sampai jam 06.30 pagi ini (kemarin, Red). Namun, karena situasi yang belum kondusif bagi penerbangan, penutupan bandara kami perpanjang sampai dengan (Jumat) malam,” imbuh Trikora. Akibat penutupan penerbangan tersebut, tercatat sebanyak 168 penerbangan domestik dan 148 penerbangan internasional dibatalkan.

Abu Vulkanik Bisa Matikan Mesin Pesawat

Penutupan penerbangan akibat erupsi Gunung Raung di Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur demi keselamatan penerbangan. Debu dari erupsi itu membahayakan pesawat.

Penasehat Federasi Pilot Indonesia (FPI), Manotar Napitupulu mengatakan debu vulkanik dari letusan gunung berapi sangat berbahaya bagi penerbangan. Pasalnya, debu vulkanik bersifat menempel ke benda yang disinggahinya.

“Berbahaya, kalau nempel di kaca kokpit itu susah sekali dibersihkan. Kalau kita pakai wiper yang ada semprotan airnya debu malah tambah tebal. Jadi sebaiknya dijauhi,” ujarnya saat dihubungi kemarin.

Penumpukan debu di kaca kokpit seperti itu bisa sangat berbahaya karena menghalangi atau mengurangi jarak pandang pilot. Selain itu, debu vulkanik juga bersifat tajam sehingga bila tersedot masuk ke dalam ruang pembakaran, mesin bisa mati.

“Meskipun debunya sedikit tapi kalau dipakai terbang beberapa kali debunya bisa menumpuk di ruang bakar, itu yang menyebabkan mesin bisa mati mendadak saat terbang,” kata pilot senior Garuda Indonesia ini.

Oleh karena itu, sebaiknya sebuah pesawat yang terindikasi terkena debu vulkanik selama periode tertentu harus di tes kondisi mesinnya. Berdasar pengalamannya, secara kasat mata debu vulkanik yang menempel di pesawat biasanya meninggalkan bekas.

“Kalau di body pesawat itu seperti bintik-bintik cat jadi tidak rata. Sementara kalau di bahan logam juga berbintik dan menimbulkan korosi,” ungkapnya.

Manotar mengungkapkan, sudah semestinya otoritas penerbangan menutup bandara di Bali hingga Lombok. Pasalnya di bulan Juni-Juli arah angin umumnya bergerak ke timur. Namun dia mengingatkan agar pemerintah mengawasi pergerakan angin secara mendadak ke arah barat.

“Bisa saja dalam sehari angin tiba-tiba berubah ke barat. Kalau itu terjadi bandara Juanda Surabaya dan bandara Abdul Rachman Saleh Malang harus siap-siap ditutup demi keselamatan penerbangan,” tegasnya.

Dalam kondisi force majour seperti ini, lanjut Manotar, yang terpenting adalah memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada penumpang. Hal itu hendaknya dilakukan oleh pihak bandara maupun pilot yang menerbangkan pesawat.

“Kalau misalkan di tengah penerbangan tiba-tiba ada pengalihan rute, return to base (kembali ke bandara semula-red) atau delay, penumpang harus dikasih tahu penyebabnya. Saya yakin mereka bisa mengerti,” jelasnya.(dss/ili/uki/ san/hen/yes/wan.wir/r14/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *