Ketik disini

Opini

Wali Kota Dinasti Vs Wali Kota Boneka

Bagikan

Oleh : Lalu Hajar Asmara (Praktisi studi Kebijakan Publik dan Pembangunan, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Pembangunan dan Tata Ruang (PUSPABITRA)

ADA dua wacana publik yang kebetulan atau tidak, tempos delectinya hadir bersamaan belakangan ini terutama dalam konteks pilkada Wali Kota Mataram. Pertama, mengenai isuA� nasional a�?politik dinastia�? yang tentunya karena bersifat nasional menjadi isu di daerah juga. Kedua, mengenai sinyalemen a�?wali kota bonekaa�? yang digambarkan secara teoritik dan menohokA� oleh elit pimpinan Golkar Mataram, H. Didi Sumardi ( Lombok Post 9/7 ). Untuk sedikit mengupas kedua isu ini, dalam kondisi perpolitikan Kota Mataram yang mulai menghangat, penulis menurunkan tulisan ini. Mudah-mudahan dapat memberi sumbanganA� sebuah presfektip untuk menjadi renunganA� bersama secaraA� tenang dan santai.

Wali Kota dinasti, apa ada yang salah?A�

Sama sekaliA� 100 persen tidak ! Secara hukum, peraturan yang dibuat oleh KPU untuk mencegah politik dinasti sudah dimentahkan oleh Mahkamah Konstitusi. Penulis sangat setuju dengan keputusan MK ini. Sebagai seorang warga negara, hak dipilih dan memilih adalah hak azasi warga negara yang paling tinggi nilainya. Tidaklah adil, jika hak dipilih seorang warga negara harus dicabut hanya karena status hubungan darah atau kekeluargaannya. PadahalA� tidak seorangpun dapat memilih dari keluarga mana atau dari orang tua mana dia minta dilahirkan. Itu adalah takdir baginya. Soal terpilih atau tidak, biarkan para pemilih menentukan sendiri, itu domein mereka sepenuhnya.

Bagi penentang politik dinasti yang salah satu sisinya a�?Wali Kota Dinastia�? berteoriA� bahwa pilkada dimaksudkan untuk memfasilitasi perubahan/pembaharuan secara damai. Agar tidak terjadi a�?dia lagi dia lagia�?. Hal ini menurut teorinya akan menciptakan a�?kejumudana�? dan kemapanan, sehingga kurang responsif dan kurang sensitif terhadap perubahan yang ada. Padahal menurut teori, roh dari kemajuan dan pembangunan itu adalah perubahan yang berlangsung terus menerus tanpa henti, bila perluA� perubahan secara radikal. Perbedaan pro dan kontra yang diulas ini mungkin seperti perbedaan cara pandang penganutA� idealisme dan emperisme. Saya cenderung idealisme, karena pengulangan tidak selalu tumpul sensitivitasnya untuk melakukan perubahan, walapun untuk mengharap adanyaA� perubahan radikal probabilitasnya kecil.

Membaca ini mohon sabar dulu. Jangan cepat berkesimpulan bahwa saya menganjurkan untuk mendukung calonnya Pak H. Didi Sumardi yang mengajukan teori a�?wali kota bonekaa�?. Saya juga belum pasti bahwa apakah AMAN dapat dipandang merefresentasikanA� Wali Kota Dinasti?

Wali Kota Boneka ?

Secara eksplesit beliau (H. Didi) tidak pernah mengatakan bahwa calon a�?wali kota bonekaa�? ditujukan ke pada salah satu fihak yang mencalonkan sekarang ini di Mataram. Memang sebagai politisi beliau tidak perlu mengatakan itu. Publik pasti tahu, statemen yang bernada sindiran itu dimaksudkan untuk apa dan bagi siapa. Jelas bukan stigma untuk mendegradasi calon yang beliau dukung. Istilah SasakA� a�?segerah jak perujan sie mesaka�?.a�� tim sukses RIDO membantah.

Tulisan ini tak akan berfokusA� pada usaha mencari tahu, siapa sih yang sesungguhnyaA� dimaksudA� calon a�?wali kota bonekaa�?. Ini tidak terlalu penting dalam konteks pendidikan politik rakyat.

Katakanlah misalnya (maaf) yang dimaksud adalah RIDO, karena dia (disuruh???) dan atau di calonkan oleh TGB, apakahA� otomatis berarti dia akan menjadi a�?wali kota bonekaa�? ?.A� Statemen a�?walikota bonekaa�? adalah pernyataan yang nilainyaA� paling tinggiA� adalah sebagai teoriA� atau bahkan hipotesis. Semua orang sekolahan tahu bahwa A�teori apalagi hipotese , tidak sama dengan fakta.

Dalam politik kita sering melihat gejalaA� reciprocalA� yaitu melaunching sebuah teori untuk mengintersep teori yang dibangun oleh kompetitor. Sebagai seorang pengamat, dalam konteks Pilkada Kota Mataram, tidak sulit membacaA� bahwa RIDO diteorikan sebagai a�?ayam petarunga�? yang dicalonkan dan didukungA� oleh TGB. Semua orang tahu, sebagai figur kepemimpinan yang menyatu pada dirinyaA� pengaruh formalA� (sebagai : Gubernur danA� Ketua Demokrat) disertaiA� pengaruh informal ( sebagaiA� tokoh agama),A� TGB memiliki pengaruh dahsyat. Singkat kata, calon yang didukung TGB pastilah memiliki efek deteren yang dahsyat, sehingga untuk mengintersep teori ini, perlu dibangun teori baru.

Kesimpulan

Dari ulasan singkat tersebut, tulisan ini menganjuranA� untuk melakukan pilihan dengan pertimbangan yang masak berdasarkan keputusan hati nurani, dan akal yang sehat. Tidak mudah terprovokasi oleh teori-teori, apalagi hipotese yang dibuat dengan tujuan-tujuan politis tertentu. Teori apalagi hipotese bukan fakta.

Politik dinasti juga tidak ada yang salah, sepanjang secara emperik tidak menimbulkan pelestarian vested interest, kejumudan dan ketumpulan sensitivitas untuk melakukan perubahan dan pembaharuan yang merupakan roh kemajuan dan pembangunan.

Wallahuallam, mohon maaf lahir batin dan selamat menjalankan ibadah Ramadan, Wassalam.(*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *