Ketik disini

Headline Opini

Mudik: Momentum Berbagi Kebahagiaan

Bagikan

Oleh: FATHURRIJAL
(Peneliti Lembaga Kajian Komunikasi, Agama, Sosial dan Politik a�?a��LEKKASPOLa��a�� NTB)

SETIAP tahun pada hari-hari menjelang bulan ramadhan berakhir dan menjelang datangnya hari raya Idul Fitri. Jutaan manusia Indonesia siap bergerak a�?a��kembali pulang kampunga��a�� setelah sekian lama merantau di negeri dan daerah orang.

Gerakan kembali pulang kampung menjelang lebaran, di Indonesia dinakaman ritual a�?a��mudik lebarana��a�� yakni kembali ke tempat asal, di mana para pemudik dan leluhurnya dilahirkan.

Tradisi mudik lebaran yang dilakoni oleh kaum muslim khususnya dan masyarakat umumnya, adalah ciri khas masyarakat muslim nusantara yang tidak dimiliki oleh negera-negara muslim lainnya. Bahkan di negeri Arab asal agama Islam sendiri, tidak di kenal istilah mudik lebaran ini.

Untuk dapat melakukan mudik lebaran, para perantau yang akan mudik ke kampung halaman jauh-jauh hari sudah memesan tiket bus, kereta Api, Pesawat, kapal laut, mereka khawatir tidak kebagian tiket.

Pemerintah melalui kementerian PAN dan RB Yudi Krisnandi memberikan pemberlakuan khusus bagi birokrat yang ingin mudik lebaran dibolehkan menggunakan kendaraan dinas (berplat merah). Tentu keputusan ini berangkat dari fenomena, seringnya tiket berbagai moda transportasi umum sudah habis diboking sejak jauh-jauh hari sebelum prosesi mudik berlangsung.

Selain itu, pemerintah juga melalui dephubkominfo (dari pusat sampai daerah), terlihat lebih sibuk mempersiapkan kelancaran prosesi mudik lebaran, jalan-jalan diperbaiki, semua kendaraan umum diperiksa apakah laik jalan atau tidak dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan demi memberikan rasa aman kepada para pemudik, agar selamat sampai tujuan.

Tidak mau ketinggalan dengan pemerintah, pihak swasta seperti media massa baik cetak maupun elektronik berlomba-berlomba menyediakan space khusus untuk menyiarkan prosesi mudik lebaran tahun ini.

Mudik dan tradisi berbagi kebahagiaan

Dalam mudik ada nilai-nilai universal kehidupan lokal masyarakat Indonesia yang dapat diresapi dan harus dilakoni sepanjang hayat, yakni adanya ikatan batin dengan kampung halaman, karena bagaimanapun kampung adalah tempat para leluhur kita dilahirkan bahkan dimakamkan.

Ritual mudik lebaran, sebetulnya memiliki banyak bentuk dan telah dipraktekkan oleh masyarakat, sesuai dengan suku dan kedaerahannya. Misalnya kebiasaan masyarakat muslim sasak, ada tradisi a�?a��olek bejangoa��a�� atau bershilaturahim untuk berkunjung ke-sanak family (orang tua dan saudara) di kampung. Siapa pun orang muslim sasak, yang pernah merantau untuk keperluan menuntut ilmu atau kerja, menyempatkan diri pulang menjenguk keluarga di kampung halamannya.

Pada saat tiba di kampung, inilah para pemudik dapat berbagi kebahagiaan, bagi yang merantau menuntut ilmu ke kota atau luar Lombok, akan membagi kebahagiaan dengan memberikan inspirasi dan motivasi kepada generasi-generasi muda yang ada di kampung kelahirannya, agar berani keluar dari kampung pergi menuntut ilmu.

Begitu juga dengan pemudik yang sukses bekerja di daerah orang, selain berbagi pengalaman, biasanya juga membagi hasil jerih payahnya kepada anak-anak kurang mampu di kampung dan menyumbang pembangunan masjid atau tempat ibadah.

Ekspresi kebahagiaan itu, merupakan ekspresi kerinduan batin dan cinta kasih sekaligus mencerminkan bahwa, tradisi mudik bukan sekadar rutinitas pulang kampung, namun lebih di dorong pada nilai-nilai universal cinta kasih sesama manusia.

Oleh sebab itu, mobilitas mudik merefleksikan kesadaran atas nilai kerja, tindakan dan hubungan sosial. Melalui prosesi mudik itu, seseorang yang telah merantau mengenali kembali latar belakang budaya dan sosial serta asal-muasal dirinya. Demikian tulis Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan guru besar dan sosiolog UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (dalam Nur Achmad dan M. Rhidwan (editor), Pesan Damai Idul Fitri: 2003:104 dan 106).

Lebih jauh menurut Munir, mudik lebaran mencerminkan, bahwa ruang hidup dan mobilitas manusia ternyata terbuka jauh melintasi perangkap-perangkap geografis. Sehingga, rindu keluarga di kampung halaman tidak bisa dihargakan dengan benda-benda material dan yang bernilai ekonomis tinggi, walaupun mudik banyak menguras tenaga, fikiran dan tentu harta benda.

Pemudik kadang-kadang tidak menghiraukan keselamatan diri dan orang lain, demi satu tujuan pokok, kembali pulang ke kampung halaman bertemu dan dapat berbagi kebahagiaan dengan keluarga yang telah lama ditinggalkannya.

Bila berkaca dan melihat prosesi mudik tahun-tahun sebelumnya melalui media cetak dan elektronik, kita diperlihatkan akan pentingnya mudik lebaran, bagi mereka yang berada di rantauan, nyawa-pun bisa jadi taruhan, mereka rela berdesak-desakan di atas kapal, yang penting bisa sampai ke kampung halaman, bertemu sanak pamili dan kerabat handai taulan.

Dalam mudik juga tercermin sebuah harga diri dan prestis sosial, dan ini harus berusaha dihindari oleh setiap pemudik, karena kalau tidak akan cenderung mengundang arogansi sosial yang dapat mempertajam kesenjangan dan kecemburuan social. Karena sifat demikian dapat dikategorikan ke dalam sikaf ujub (unjuk diri) yang cenderung berlawanan dengan ibadah puasa dan kesegaran kesucian harkat kemanusiaan.

Oleh sebab itu, di akhir tulisannya, Munir (2003:109) menegaskan bahwa prosesi mudik lebaran seyogyanya dikembangkan sebagai memudikkan cinta-kasih dengan berbagi antar sesama, bebas dari batas kultural dan struktural keberagamaan dan juga etnisitas. Itulah esensi sebenarnya yang ingin disampaikan melalui tradisi mudik lebaran setiap tahunnya. Semoga!

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *