Ketik disini

Praya

Belanja Makanan dan Pakaian, Pedagang Emas Loyo

Bagikan

Terhitung H-4 lebaran, para pedagang sembako dan pakaian disejumlah pasar di Gumi Tatas Tuhu Trasna kebanjiran pengunjung.

***

SATU tradisi turun temurun setiap jelang lebaran, warga mulai menyerbu pasar untuk membeli ragam kebutuhan. Khususnya daging sapi, kambing dan ayam. Bagi sebagian warga, lauk pauk yang satu itu tidak bisa terlupkan. Karena, usai salat idul fitri mereka akan menyantapnya bersama keluarga. Ada yang menggunakan ketupat, lontong atau nasi. Tergantung selera saja.

Selain itu, mereka juga menyerbu tepung, telur dan gula. Bahan itu, digunakan untuk membuat jajanan lebaran. Tidak ketinggalan, kebutuhan minuman segar dan lain sebagainya. Kendati harganya mengalami kenaikan, mereka seperti tidak mempedulikan. Yang penting, kebutuhan konsumsi selama lebaran terpenuhi.

Dari data Dinas Koperindag dan pedagang di pasar Renteng, harga masing-masing produk tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan. Minyak goreng misalnya kini Rp 11-12 ribu per kilo, harga ini naik dari harga normal Rp 10.500 per kilo. Kemudian telur Rp 1.100 per butir menjadi Rp 1.400-1.500 per butir.

Sedangkan gula pasir Rp 10 ribu per kilo naik menjadi Rp 12 ribu per kilo, cabe rawit dari Rp 25 ribu per kilo menjadi Rp 30 ribu per kilo, bahkan pernah menembus harga Rp 50 ribu per kilo. Selanjutnya, bawang merah dari Rp 15 ribu per kilo menjad Rp 25 ribu per kilo dan bawang putih harga normalnya sebesar Rp 20 ribu, naik antara Rp 25-27 ribu per kilo.

a�?Kenaikan kebutuhan pokok itu sudah biasa menjelang lebaran setiap tahun. Jadi, tidak perlu kaget,a�? ujar salah satu pedagang ayam potong di Pasar Renteng, Siti Sahrah.

Pedagang yang paling a�?a��loyoa��a�� dalam musim lebaran kali ini adalah emas. Sebut saja, H Tarki seorang penjual dan pembeli emas. Jelang lebaran tahun ini, warga yang membeli maupun yang menjual emas bisa dihitung dengan jari tangan. Beda halnya, saat lebaran tahun sebelumnya.A� a�?Saya melihat daya beli turun,a�? ujarnya.

Setiap gramnya, Tarki menjual Rp 440 ribu dengan kadar emas 22 karat. Bagi Tarki, banyak rekan-rekannya gulung tikar lantaran minimnya warga yang membeli maupun menjual emasnya masing-masing.

a�?Syukurnya, saya punya modal . Kalau tidak, bisa-bisa saya ikut gulung tikar,a�? keluhnya.

Selain sebagai penjual dan pembeli emas, Tarki membuka usahaA� penjualan minyak goreng. Dalam sehari, dia menyiapkan minyak A�sebanyak 10 drum. Sehingga, suasana berbanding terbalik. Di toko emasnya sepi, sementara di toko minyak gorengnya kebanjiran pengunjung.

Hal yang sama dijumpai sejumlah toko pakaian di seputaran pertokoan Praya, lingkar masjid Agung dan jalan utama bendungan Batujai. Di tiga tempat itu tukang parkir pun ikut kecipratan rizki. Karena, dari pagi sampai malam, warga membanjiri toko pakaian guna menyiapkan baju baru jelang lebaran.

a�?Alhamdulillah, setiap tahun jelang lebaran kami kebanjiran order pakaian, baik untuk orang tua, dewasa maupun anak-anak,a�? ujar sejumlah pedagang pakaian di pusat pertokoan Praya.(Dedi Shopan Shopian/Loteng)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *