Ketik disini

Metropolis

Pengembangan Wisata Belum Berbasis Gender

Bagikan

MATARAM – Pariwisata menjadi salah satu aset utama NTB. Sayangnya, pengembangan sektor tersebut belum berbasiskan gender. Alhasil eksploitasi terhadap anak dan perempuan pun disinyalir rawan terjadi.

a�?Jangan sampai kemajuan wisata justru meberi dampak negatif bagi anak dan perempuan di NTB,a�? kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) NTB T Wismaningsih Rajadiah kepada Lombok Post di ruang kerjanya, kemarin.

Ia menyoroti bahwa selama ini, anak cenderung dieksploitasi untuk bekerja. Ini terpantau di beberapa obyek wisata andalan NTB. Jika dibiarkan, ini bisa memengaruhi tumbuh kembang mereka karena tidak mendapatkan haknya untuk belajar dan bermain.

a��a��Di berbagai industri pariwisata, anak seringkali secara sektoral dieksploitasi untuk tujuan wisata,a��a�� ungkapnya.

Ia mencontohkan, di kawasan wisata Senaru ataupun Sembalun, beberapa anak sudah mulai bekerja sebagai pengangkut barang alias porter. Tak jarang, beban yang mereka pikul pun terlalu besar dan tak sesuai dengan kemampuannya.

a�?Kadang porter anak ini justru dicari karena biaya mereka lebih kecil daripada porter dewasa,a�? jelas Wismaningsih.

BP3AKB NTB juga menyoal keterlibatan perempuan di sektor pariwisata sejauh ini. Keterlibatan mereka dalam pengelolaan sektor wisata dinilai masih kecil. Bahkan, tak jarang hanya sekedar pemanis belaka.

a�?Selama ini, kesan yang sering timbul adalah keterlibatan perempuan di sektor wisata lebih condong ke hal-hal negatif,a�? kritik Wismaningsih.
Menurutnya, realita di masyarakat menunjukkan jumlah perempuan yang terlibat dalam pengelolaan berbasis komunitas jauh lebih sedikit dibanding laki-laki dengan peranan yang minim pula. Secara tidak langsung, ini menunjukkan ketidaksiapan elemen perempuan untuk berkontribusi di dalam sektor pariwisata secara signifikan.

a�?Pada akhirnya, kemajuan sektor wisata belum memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan perempuan,a�? lanjutnya.

Menurutnya, masih rendahnya keterlibatan perempuan dalam pengelolaan pariwisata dikarenakan berbagai keterbatasan seperti rendahnya pengetahuan dan pengalaman, kurang fasilitas, dan modal. Selain itu juga masih adanya pemikiran bias gender dari pelaku wisata.

Kedepannya, ia sadar bahwa keterlibatan pemerintah sebagai fasilitator perlu lebih dioptimalkan. a�?Perempuan jangan hanya menjadi pemanis di sektor wisata. Mereka juga perlu dibekali pelatihan dan ketrampilan yang lebih,a�? papar Wismaningsih. (uki/r12)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *