Ketik disini

Headline Metropolis

Lombok Cantik, Tapi Mulai Berbahaya

Bagikan

NILAA�setitik rusak susu sebelanga. Pepatah ini bisa menggambarkan kondisi pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Lombok. Miliaran rupiah biaya promosi, Lombok yang kesohor dengan pantai elok dan Gunung Rinjani, rusak gara-gara ulah sejumlah penjahat. Tidak main-main, penjahat kampung yang belum juga ditangkap ini membegal turis asing yang sedang liburan. Kasus terbaru, jelang Lebaran, wisatawan dari Swedia dan Australia dihadang dan dirampok saat melintas di kawasan Mandalika, Lombok Tengah.

Provinsi NTB sedang getol mengembangkan pariwisata. Sektor yang satu ini memang terbilang menjanjikan. Terbukti, setiap tahun, pariwisata berhasil menjadi salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar.

Berbagai strategi promosi pun digalakkan. Melalui pameran, seni pertunjukan, hingga kampanye lewat media massa dan dunia maya. Tentu biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Ini semata-mata untuk semakin menggaungkan keindahan bahari NTB hingga ke mancanegara.

Sayangnya, upaya promosi itu terancam sia-sia. Secara bersamaan, isu-isu negatif soal pariwisata NTB menjadi gunjingan. Keamanan yang masih kurang menjadi sebab. Aksi kriminalitas menghantui beberapa kawasan wisata andalan NTB. Mulai dari kasus pungutan liar (pungli), pencurian hingga perampokan dengan kekerasan. Tak sedikit wisatawan mancanegara (wisman) yang menjadi korban.

Alih-alih bisa menikmati keindahan berlibur di NTB, wisman pun tak jarang kembali ke negara asalnya membawa duka dan rasa trauma. Tak sedikit yang mencurahkan kekesalan dan kekecewaannya melalui dunia maya dan menadapat perhatian khalayak.

Beberapa ulasan tersebut ditulis di salah satu situs perjalanan terkemuka dunia, Tripadvisor.com. Terakhir, perempuan dengan akun Amelie_dePassille yang berbagi cerita tragisnya saat berlibur ke Lombok pada Juni lalu.

a�?We got attack by guys with sticks while we were driving on the way to Tanjung An bay in DAYTIME (Kami diserang oleh beberapa pria dengan tongkat ketika kami dalam perjalanan ke Tanjung An di siang hari),a�? tulis Amelie.

Turis asal Kanada itu tak habis pikir bahwa kriminalitas serupa bisa terjadi di siang bolong. Pelaku berhasil membawa kabur sepeda motor dan tas mereka.

a�?Itu adalah hari terburuk bagi kami,a�? ujarnya.

Pengalaman yang tak mengenakan juga ditulis oleh Fred, wisatawan lain yang pernah berkunjung ke Lombok. Ia mengaku pernah dikejar oleh beberapa pria bersepeda motor usai perjalanan dari Pantai Kuta, Lombok Tengah.
a�?Beautiful place Lombok, good waves, and some seriously dangerous people (Lombok daerah yang cantik, ombak yang indah, dan beberapa orang yang benar-benar berbahaya),a�? tulis Fred.

Tak heran aksi kriminalitas di objek wisata ini semakin menggaung di dunia maya. Kenyataannya, musibah serupa sudah berulang kali terjadi. Akhir tahun 2014, pasangan asal Belgia Michiels Christian Henri dan sang istri yang menjadi korban perampokan dalam perjalanannya ke Pantai Kuta, Lombok.

Kendaraan roda dua yang mereka tumpangi dicegat sekelompok orang bersenjata. Harta benda termasuk motor mereka pun raib dibawa kabur para perampok. Tak hanya itu, Michiels sendiri juga ikut mengalami luka akibat diserang dengan senjata tajam.

Sepekan sebelum Lebaran, di Dusun Songong, Desa Sukada, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, lagi-lagi begal membuat keder wisman.
Korbannya adalah bule asa Australia, Jerman, dan Swedia. Kesenangan berselancar di Pantai Gerupuk pupus dengan kasus yang menimpa. Mereka dihadang di kawasan Mandalika Resort setelah pulang dari berselancar di Gerupuk.

Para wisman korban begal jelang Lebaran itu adalah Dwyer Patrick Kilvington warga Australia, Kandolf Andres Ferdinat Jerman dan Lenne Charlotta Lofling Swedia.

Peristiwa yang langsung mencoren wajah pariwisata ini terjadi ketika ketiganya melintasi jalan raya Songgong.Tiba-tiba mereka dihadang lima orang pelaku. Mereka langsung mengeluarkan senjata tajam jenis parang, golok dan pisau. Namun, ketiga warga asing tak mempedulikannya, mereka dengan kencang menancapkan gas motor.

Sayangnya, dari tiga korban itu satu diantaranya Dwyer Patrick Kilvington asal Australia dilumpuhkan. Pelaku menebas tangan korban. Korban terjatuh. Pelaku pun dengan leluasa membawa kabur kendaraan korban sembari mengejar dua korban lainnya.

Keduanya, dikejar sampai Dusun Rangkep Desa Kuta. Pelaku pun sempat melempar korban dari kejauhan menggunakan pisau, hingga mengenai Lennea Carlotta Lofling. Mengetahui rekannya dibegal, Kandolf Andres Ferdinat berteriak minta tolong, sampai kerumunan warga keluar berhamburan.

Mei 2015, seorang wisatawan Jerman, Maclen, 27 tahun dibegal saat melintasi jembatan Pelongsong, Desa Kidang Praya Timur sepulang dari berwisata di Pantai Ekas Kaliantan Lombok Timur. Di tempat kejadian perkara (TKP) korban dihadang, lalu dipaksa menyerahkan motor. Karena melawan, korban ditikam menggunakan parang hingga terjatuh dan motor korban jenis vario putih hitam berhasil dibawa kabur.

Wisatawan lainnya, Viktor Romesi 52 tahun warga Prancis. Dia terkena sabetan senjata tajam, di lengan kanan saat dipepet pelaku begal. Tali tas yang digunakannya pun terputus, dan dibawa kabur dua pelaku inisial S 21 tahun, dan R 25 tahun masing-masing warga Mawun, desa Tumpak, kecamatan Pujut.

Tidak hanya wisatawan asing. Beberapa wisatawan lokal pun pernah mendapat pengalaman buruk ketika berkunjung ke objek wisata. Tidak hanya perapokan tetapi juga aksi pemerasan.

Salah satunya dialami Wati, warga Gunungsari, Lombok Barat. Saat berkunjung ke Pantai Kerandangan bersama teman lelakinya, beberapa bulan lalu, tiba-tiba datang seorang pria berperawakan besar. Pria tersebut menuduh ia telah berbuat hal tak senonoh dengan pasangannya. Sehingga, mengancam akan meaporkan mereka ke warga sekitar jika tidak membayar uang untuk tutup mulut.

a�?Padahal kita tidak ngapa-ngapain, malah langsung diancam. Pokoknya dipalakin harus bayar,a�? cerita Wati.

Lambat laun,kata Wati, maraknya aksi kriminalitas tersebut akan mencoreng citra pariwisata daerah di mata internasional. Pasalnya, jaminan keamanan akan sangat menentukan perkembangan suatu objek wisata. Menurutnya, polisi maupun pemerintah daerah (pemda) yang terkait harus lebih aktif di lapangan. Salah satunya dengan menjalin komunikasi yang lebih rutin dengan para pelaku wisata. Sehingga, kejadian semacam ini benar-benar tidak lagi terulang.

Terbukti, beberapa objek wisata yang sempat menjadi andalan NTB pun kini semakin kehilangan gaungnya karena isu keamanan. Beberapa pujian yang awalnya ditujukan bagi wisata NTB berbalik menjadi gunjingan.

Sebut saja Pantai Nambung yang sebelumnya menjadi perbincangan wisatawan karena keunikan air terjun asin. Pertengahan tahun 2014, kunjungan wisatawan ke pantai yang berlokasi di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat ini terbilang tinggi, khususnya pada akhir pekan dan hari-hari libur nasional. Kendaraan roda empat yang parkir di sekitar objek wisata itu pun bisa mencapai puluhan dan belum termasuk para wisatawan yang datang menggunakan sepeda motor.Bahkan, lanjut Fajar, wisatawan tidak saja berasal dari domestik. Melainkan, juga sempat ramai oleh wisatawan mancanegara.

Namun, di tengah popularitasnya yang menanjak tersebut, rentetan kasus perampokan dan pencurian justru berulang kali terjadi di pantai Nambung dan beritanya cepat menyebar melalui dunia maya. Tak butuh waktu lama, jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata tersebut menurun drastis.Penurunan jumlah wisatawan tersebut bahkan bisa mencapai 50 persen lebih. Bahkan, akhir pekan pun, objek wisata itu kini sepi pengunjung.

a�?Sejak berbagai kejadian perampokan itu, kunjungan wisatawan terus menurun. Mungkin banyak yang takut berlibur ke sini,a�? kata Fajar, Kepala Dusun Pengantap, Desa Buwun Mas.

Sepanjang tahun 2015, begal yang beraksi di kawasan wisata bukannya hilang, malahan bertambah. Setiap bulan terjadi aksi pembegalan di kawasan pariwisata Lombok Tengah. Lagi-lagi sekitar kawasan Mandalika. Korbannya wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal.

Kasus yang banyak mendapat gunjingan, wisatawan yang ditebas ketika berkunjung ke kawasan Pantai Tunak. Leher korban ditebas dari belakang. Harta benda dirampas.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) NTB Lalu Muhammad Faozal sepakat bahwa keamanan di objek wisata perlu mendapat perhatian serius. Bagaimanapun, keamanan menjadi faktor penting yang akan menentukan keberlanjutan suatu objek wisata.

a�?Memang benar, gangguan keamanan ini bisa mengancam keberlangsungan sektor pariwisata kita,a�? kata Faozal.

Namun, ia menegaskan bahwa untuk mewujudkan keamanan tersebut tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah. Melainkan semua pihak, termasuk masyarakat sendiri yang pada akhirnya mendapatkan keuntungan langsung dari sektor wisata.

Di satu sisi, Disbudpar NTB mengaku sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk membatasi ruang gerak pelaku kriminal. Dalam waktu dekat, pihaknya akan membangun pos terpadu di sejumlah objek wisata andalan untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan. Selain itu, di Pantai Kuta juga rencananya akan dibangun portable police tourisme juga untuk kepentingan keamanan.

a�?Terutama di wilayah selatan Lombok yang cukup rawan. Jadi, perlu diperketat pengawasannya dengan pembangunan pos terpadu,a�? kata Faozal.

Selain itu, Disbudpar juga akan mendorong peran serta masyarakat sekitar untuk menjaga kondusifitas. Slah satunya dengan menggerakan kelompok sadar wisata (pokdarwis) di setiap daerah.

a�?Yang paling utama, kita akan mendorong untuk mengoptimalkan pengoptimalkn struktur keamann sampai tingkat paling bawah. Tidak hanya oleh pemprov tetapi juga oleh pemerintah daerah masing-masing. Mulai dari kepolisian hingga masyarakat,a�? paparnya.

Ia menekankan, maasih terjadinya akri kriminalitas di objek wisata tidak menjadi tolak ukur pmberdayaan masyarakat yang lemah. Namun, lebih pada kesempatan yang masih terbuka bagi oknum tertentu untuk melancarkan aksi kejahatan.

a�?Untuk itu, upaya utama kita adalah dengan membatasi ruang gerak pelaku kejahatan,a�? tegasnya.

Menyikapi gunjingan yang sudah terlanjur menyebar di dunia maya, Disbudpar NTB pun mengaku sudah melakukan berbagai langkah. Termasuk dengan mengelola media sosial, menjelaskan bahwa kejadian-kejadian tersebut bersifat kasuistis dan pada dasarnya tidak hanya terjadi di Lombok. Melainkan juga terjadi di beberapa daerah lain.

a�?Kita juga terus mencoba menjelaskan dan meluruskan hal ini melalui media sosial. Kriminalitas di objek wisata itu hanya kasuistis. Bukan berarti daerah kita lantas ta aman bagi wisatawan,a�? pungkas Faozal. (uki/dss/fat/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *