Ketik disini

Ekonomi Bisnis

APEX Dorong Eksportir Lokal Miliki HaKI

Bagikan

MATARAM – Asosiasi Profesi Export (APEX) NTB terus mendorong pelaku ekspor lokal khususnya di NTB untuk membuat hak atas kekayaan intelektual (HaKI). Ini bertujuan agar pelaku ekspor lokal lebih bersaing di pasar global dan produknya tidak dibajak, karena telah memiliki perlindungan hukum tetap.

“Mereka harus memiliki HaKI, karena saat ini Vietnam, Thailand dan Filipina sudah mulai belajar Bahasa Indonesia, mereka akan masuk ke sini pada tahun 2016,” terang Ketua APEX NTB Anhar Tohri pada Lombok Post, Jumat (24/7) lalu.

Ia menjelaskan, negara luar melihat Indonesia adalah pasar yang empuk untuk menjual berbagai hasil produk. Mereka lebih jeli mengetahui produk apa saja yang sangat laku di luar sana. Kemudian dalam waktu bersamaan juga, mereka mempersiapkan warganya mampu berbahasa Indonesia yang didukung pula dengan kemajuan teknologi.

Maka, ketika mereka masuk ke NTB, tujuannya adalah mempelajari semua hasil kerajinan atau produk olahan lokal daerah. Setelah itu kembali lagi ke negara asal yang kemudian mengembangkannya menjadi lebih bagus dan dijual lagi ke Indonesia atau negara lainnya.

“Bila dalam waktu itu kita belum punya HaKI habislah sudah, karena bisa saja hasil modifikasi mereka dibuat hak paten serupa, maka kita akan sulit berekspansi ke luar,” tuturnya.

Ia membeberkan, berdasarkan data yang dimiliki APEX NTB, pengusaha ekpor lokal yang memiliki HaKI dapat dihitung dengan jari. Termasuk dirinya telah memiliki HaKI jenis merek. Pasalnya, dari 240 pelaku ekspor lokal saja hanya 10 persen yang masih aktif atau eksis di pasaran atau 20 pelaku ekspor lokal.

Padahal saat ini, diakuinya proses pembuatan HaKI termasuk pembiayaannya sudah mendapat bantuan dari Departemen Kehakiman, Direktorat Jenderal HaKI. Artinya, bila sebelumnya biaya pembuatan mencapai sekitar Rp 4 juta kini bisa mencapai Rp 1 juta. Hingga waktu proses pembuatannya tidak memakan waktu cukup lama dibandingkan pengalamannya hingga lima tahun bisa memeperoleh HaKI.

“Semua sekarang sudah mulai dimudahkan, eksportir lokal kita saja yang masih malas mengajukan pembuatan HaKI,” ujarnya.

Anhar menilai, tidak hanya HaKI yang masih belum dimiliki di daerah. Untuk Surat Keterang Asal (SKA) pun, NTB masih kecolongan. Karena masih banyak pengusaha ekspor lokal hanya mementingkan produknya laku terjual. Dimana sebagian besar pembelinya adalah pengusaha-pengusaha dari Bali.

“Masih banyak eksportir kita menjualnya ke Bali karena tidak mementingkan SKA asal NTB. Sehingga SKA ini pun atas nama Bali,” tutupnya. (ewi/r4)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *